Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Mengencani si Calon Pelaku Kekerasan?

Submitted by on November 19, 2012 – 5:46 pmNo Comment

Berita di surat kabar akhir-akhir ini cukup banyak membahas mengenai isu kekerasan, dan salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.  Pada umumnya, banyak yang tidak mengetahui bahwa bibit KDRT ini sebenarnya sudah bisa terlihat sejak masa pacaran.

Apa sih kekerasan dalam pacaran itu?

Kekerasan dalam pacaran adalah usaha untuk mendominasi atau mengontrol melalui tindakan yang mengancam atau adanya kekerasan secara fisik, psikologis maupun seksual yang dilakukan oleh pasangan.

Berikut adalah beberapa tanda pasangan yang memiliki potensi untuk melakukan kekerasan :

#1:  Suka menyalahkan orang lain.

Pelaku kekerasan seringkali menyalahkan orang lain ketika ada hal yang tidak ia sukai terjadi. Di awal pacaran, ia biasanya amat pintar menggoda dan membuat Anda merasa bahwa Anda adalah orang yang baik dan paling mengerti dirinya.

“kamu itu pintar, sensitif, perhatian. Gk kayak mantan pacarku yang matre dulu”

“kamu tu orangnya tenang, gk kayak mantanku dah kayak orang gila n paranoid”

Sayangnya, ketika Anda adalah orang yang paling dekat dengan dirinya, maka Anda adalah sasaran empuk untuk disalahkan. Hebatnya, meskipun Anda tidak bersalah, ia akan bisa membuat bahwa Anda adalah penyebab dari kemarahannya. Padahal, faktanya, ia akan tetap melakukan kekerasan meskipun Anda tidak melakukan kesalahan.

#2: Selalu minta untuk dimengerti tapi sulit untuk mengerti pasangan

Pelaku kekerasan percaya bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan yang istimewa. Mereka punya standar yang tinggi mengenai bagaimana mereka ingin diperlakukan dan apa yang seharusnya orang lain lakukan untuk mereka. Perilaku keseharian yang mungkin muncul adalah suka memotong antrian, melakukan hal yang mereka mau tanpa mempedulikan perasaan orang lain, mengendarai kendaraan dengan kasar.

Di awal pacaran, ia akan menampilkan perilaku yang menghargai perasaan Anda, tetapi semakin lama perasaan dia menjadi lebih penting daripada apa yang Anda rasakan. Misalnya, ia meminta keinginannya untuk selalu dituruti tanpa melihat Anda juga punya keinginan lain. Jika Anda mengikutinya, Anda merasa tertekan. Jika tidak, masalahnya bisa meluas ke hal lain dan Anda mendapatkan kekerasan entah itu hinaan maupun pukulan.

#3 Superioritas

Seseorang yang memiliki potensi menjadi pelaku kekerasan biasanya merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Mereka perlu melakukan hal yang membuat mereka terlihat lebih pintar, lebih sensitif, dan lebih berbakat dibandingkan oleh orang lain.

Untuk membuat diri mereka merasa lebih baik, pelaku biasanya dapat membuat Anda merasa buruk mengenai diri Anda sendiri. Misalnya, mengatakan bahwa Anda adalah orang yang bodoh, menghina cara Anda berpakaian, menjelek-jelekkan Anda di hadapan orang banyak.

Pada beberapa kasus, pasangan yang menampilkan rasa cemburu berlebihan membuat Anda merasa bahwa ia sangat menyayangi Anda dan tidak ingin kehilangan. Namun, perlu disadari bahwa cemburu berlebihan bukan merupakan bentuk perhatian tetapi upaya untuk mengontrol agar Anda patuh, tunduk, takut dan mengikuti kemauan dia. Pada kasus ekstrim, bahkan ada juga yang berselingkuh secara terang-terangan dan pasangan diminta untuk menerima perlakuannya.

#4: Mempermasalahkan hal kecil

Dalam hubungan, ia akan selalu membesar-besarkan permasalahan dan menunjukkan ketidaksabaran yang berlebihan. Ia akan menyalahkan Anda untuk kesalahan kecil, seakan Anda tidak pernah melakukan sesuatu hal dengan baik. Misalnya, jika Anda datang terlambat beberapa menit, ia bisa dengan mudah marah atau memukul Anda.

#5 Cemburu yang tidak berdasar

Kecemburuan ini tidak selalu muncul dalam perilaku yang posesif atau mengontrol. Pasangan merasa tidak nyaman jika melihat Anda berbicara atau melihat orang lain yang Anda anggap menarik, dan kemudian melarang Anda untuk melakukannya.

Di awal hubungan, hal ini memang bisa membuat Anda merasa tersanjung dan merasa bahwa ia amat menyayangi Anda. Namun, perlu diwaspadai ketika kecemburuan ini berubah menjadi obsesi, dimana ia mulai membatasi Anda untuk bergaul dengan orang lain. Ia mulai mengontrol dengan siapa saja Anda boleh bepergian atau bahkan tidak boleh pergi sama sekali kecuali hanya dengan dia, meminta Anda untuk menghapus contact (nomor telepon, bbm, dsb) orang yang ia cemburui, meminta Anda untuk mengganti nomor telepon.

Kebanyakan kasus kekerasan yang terjadi diawali karena adanya kecemburuan yang semakin lama menjadi semakin tidak rasional.

Setelah membaca beberapa tanda di atas, Anda mungkin akan menemukan beberapa kesamaan pada hubungan Anda. Pacaran adalah masa dimana Anda mengenal pasangan Anda lebih dekat dari sebelumnya. Pertimbangkanlah dengan seksama jika Anda menemukan hal yang dapat membahayakan diri Anda.

Perilaku pasangan yang membentak, menghina, atau bahkan memukul pada awalnya seringkali dianggap sebagai perilaku yang munculnya hanya “sementara”, entah karena sedang lelah, mood jelek, atau bahkan merasa bahwa ini karena kesalahan kita sendiri.  Di saat Anda mulai menyadari-nya, Anda sudah terlalu dekat dengan pelaku yang membuat Anda semakin sulit untuk memutuskan hubungan.

Menghadapi kasus kekerasan di dalam pacaran memang tidak mudah untuk dipahami karena adanya anggapan bahwa hubungan tentu saja didasari atas rasa cinta dan kasih sayang. Kesulitan untuk keluar dari hubungan kekerasan seringkali diperkuat dengan mitos bahwa “ahh nanti juga berubah kalau sudah menikah”. Sayangnya, intensitas perilaku kekerasan justru akan semakin meningkat ketika menikah. Hal yang perlu Anda waspadai adalah ketika kekerasan yang awalnya berupa hinaan, mengkritisi, pembatasan, lama kelamaan akan meningkat menjadi kekerasan fisik. Anda mulai merasa tidak nyaman berada di dalam hubungan, tidak percaya diri, terancam, ketakutan, merasa tidak bisa berbuat apa-apa, dan mengalami luka fisik.

Jika Anda berada dalam pola hubungan kekerasan, ingin memutuskan hubungan tetapi tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, ceritakan hal ini kepada teman, keluarga, professional, atau siapapun yang Anda percaya untuk membantu Anda.

Baca juga : “Cinta Yes , Kekerasan NO !

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


9 + 8 =