Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Harapan Dalam Perkawinan

Submitted by on April 1, 2013 – 8:14 pmNo Comment


“Hope itself is a species of happiness, and, perhaps the chief happiness which the world affords; but, like all other pleasures immoderately enjoyed, the excesse of hope must be expiated by pain”

–       Samuel Johnson

Setiap orang memiliki berbagai harapan tentang perkawinan. Ada yang diutarakan kepada pasangan, ada juga yang tidak. Harapan itu bisa sedikit, bisa juga banyak. Tapi semua bermuara pada satu hal, kebahagiaan. Formulasinya juga bisa berbagai bentuk, mulai dari pencapaian yang bersifat materi (punya rumah idaman, bisa travelling ke luar negeri bersama keluaraga, punya mobil mewah), hingga hal- hal yang bersifat non materi (punya pasangan romantis, dicintai pasangan, melakukan banyak hal berbagai pasangan). Semua pasti bisa diraih, asal dihadapi berdua. Itu keyakinan yang lazimnya dipahami setiap pasangan yang akan menikah.

new-hopeSayangnya, harapan seringkali tinggal harapan. Apa yang dulu dibayangkan serba indah, ternyata lain kenyataannya. Perkawinan bisa menjadi perjuangan yang berat, bahkan bagi sebagian pasangan terasa sedemikian berat sehingga tak tertahankan dan berujung dengan perpisahan. Kalau dulu komentar orang “Duh mesranya, dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak”, kini komentar orang “heran, gak ada hari tanpa ribut-ribut. Berantem melulu, sih!”

Setelah serius pacaran –lama atau sebentar relatif sifatnya- setiap pasangan biasanya memutuskan untuk memasuki jenjang lebih lanjut guna mengukuhkan hubungan. Kalau sudah lulus kuliah, punya pekerjaan tetap, atau malah sudah mulai mencicil rumah atau mobil, tunggu apa lagi? Lebih-lebih bagi perempuan yang sudah dikejar umur, bisa-bisa dorongan orangtua atau lingkungan membuatnya memutuskan untuk segera menikah. “Supaya tidak terlalu tua saat melahirkan anak pertama”. Saran seperti ini mungkin sudah beberapa kali mampir di telinga.

Sadar atau tidak, setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk menikah. Meski sebagian orang menikah semata-mata merupakan tahapan yang harus dilalui, Anda sebaiknya mengetahui harapan apa yang berada di balik alasan perkawinan Anda. Harapan itulah yang mengarahkan tujuan perkawinan Anda, sekaligus menjadi penentu kebahagiaan perkawinan. Untuk itu ,setiap pasangan selayaknya terbuka terhadap harapan masing-masing agar bisa memenuhi harapan pasangannya.

Sayangnya, harapan itu tidak selalu diutarakan secara terbuka. Semua hanya dibiarkan terseimpan dalam hati. Harapan itu juga sering kali berupa gambaran yang kelewat ideal –yang nyaris tidak mungkin tercapai. Diutarakan saja belum tentu tercapai, apalagi tidak diutarakan. Herannya lagi, ada lho, yang punya pendapat “Kalau sudah jodoh, sudah saling mencintai, pasti tahu donk harapan pasangannya. Tak perlu lagi harus diungkapkan”. Tentu saja ini mustahil, kecuali pasangan Anda memili kemampuan untuk membaca pikiran orang.

Berikut sejumlah alasan yang biasanya melatarbelakangi harapan seseorang untuk menikah. Adakah diantaranya yang merupakan harapan Anda?

  • Memiliki teman hidup sampai masa tua nanti

Maunya sih, yang bisa nyambung, klop, punya kesamaan minat, pengertian, penyayang dan selalu penuh pengertian.

  • Menjalankan ibadah

Banyak orang meyakini bahwa menikah merupakan salah satu kewajiban agama bila seseorang sudah merasa mampu (secara fisik, psikologis, finansial). Jadi, menjalankan perkawinan juga harus didasarkan pada aturan-aturan agama, dan merupakan ibadah yang memperoleh ganjaran dari Yang Maha Kuasa. Perkawinan juga merupakan salah satu cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

  • Sangat mencintai pasangan

Perasaan itu sedemikian sehingga rasanya tidak ingin berpisah sedetik pun. Ada keinginan yang kuat untuk saling memiliki dan melanjutkan kehidupan bersama- sama.

  • Ingin memperoleh keturunan dan mengasuhnya bersama-sama

Kehadiran anak biasanya membuat perkawinan terasa lengkap. Anak sekaligus merupakan perekat bagi keharmonisan hubungan perkawinan serta kebanggaan bagi keluarga besar.

  • Memiliki status di masyarakat

Hidup dalam tatanan kemasyarakatan membuat status seseorang menjadi sangat penting. Seseorang yang sudah cukup umur dan belum menikah seringkali dipandang sebagai hal yang aneh. Tak heran banyak orang ingin buru-buru menikah demi rasa aman akan statusnya yang tidak lagi lajang. Status juga seringkali dipandang lebih tinggi jika menikahi pasangan dari keluarga terpandang, sukses dalam karier atau punya gelar yang membanggakan

  • Membentuk keluarga bahagia

Inilah harapan paling utama perkawinan dari setiap pasangan yang tidak perlu diperdebatkan lagi.

 

Kadang-kadang orang juga memiliki harapan yang kurang realistis yang ditujukan kepada diri sendiri. Seorang istri, misalnya, menuntut dirinya menjadi istri yang ideal, yaitu dapat secara sempurna mengurus rumah tagga, mengasuh anak, meladeni suami, sekaligus tetap sukses dalam karier. Mungkin beberapa orang benar-benar bisa melakukannya, tetapi banyak juga yang tidak berhasil. Biasanya tetap ada yang harus dikorbankan, misalnya karier yang tersendat atau sebaliknya, meski karir melejit, rumah tangga penih gejolak, diwarnai perselingkuhan, anak-anak bermasalah, dan berbagai “kerikil” lain.

Sayangnya, masih banyak wanita masa kini meraa harus bisa menjadi super woman. Ia terlanjur beranggapan jika mampu melakukan segalanya, suami pasti akan bahagia dan setia. Padahal, wanita super mandiri seperti ini tidak selalu membuat suaminya bahagia. Beberapa suami justru mengeluh jadi merasa inferior, merasa kurang dihargai dan bahkan merasa tidak dibutuhkan.

Wanita-wanita yang punya tuntutan terhadap dirinya sendiri biasanya juga akan menjelma menjadi istri yang sangat ‘tegang’, seringkali cenderung perfeksionis dan sulit bersikap toleran terhadap kesalahan. Termasuk kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama suaminya sendiri.

Begitu pun suami. Kadang-kadang ia memasuki perkawinan dengan harapan yang kurang realistis. Misalnya ingin menjadi suami ideal, artinya, sukses di pekerjaan, mampu membantu dan berbakti pada orang tua, menjadi suami yang baik dan juga ayah yang akrab dengan anak-anak. Cukup banyak yang tujuan utamanya dalah membahagiakan istri. Jadi bila istri mengeluh mengenai hidup, ia langsung merasa gagal total.

Yang sering terjadi, suami dan istri memiliki harapan yang berbeda. Ini sebetulnya wajar, karena keduanya berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tipikalnya, istri berharap punya suami sukses dan pekerja keras tapi sekaligus romantis, memahami perasaan-perasaannya, dan ikut serta dalam pengasuhan anak. Betapa kombinasi yang sulit ditemui! Sebaliknya, suami juga ingin istri yang pandai, enak diajak ngobrol tentang berbagai hal, cantik, tapi juga penuh pengabdian dan meladeni suami. Tambahan lain, istri juga harus pandai mengurus anak dan merupakan pasangan seks yang menyenangkan. Wah waah..

Nah sebelum Anda memasuki ikatan perkawinan, coba pikirkan apa saja yang menjadi harapan Anda terhadap pasangan dan juga terhadap perkawinan Anda nantinya. Apakah harapan – harapan Anda sudah cukup konkrit atau masih sangat abstrak?

Sumber:

Ginanjar, Adriana. Sebelum Janji Terucap. 2011. Kompas Gramedia. Jakarta

 

Tags:

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


1 + 3 =