Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Medis, Psikologi, Umum

Siap Mental Menikah? Premarital Psychological Screening

Submitted by on February 27, 2013 – 12:26 amNo Comment

Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk sekolah dasar, atau memberikan berbagai stimulasi secara intensif agar anak segera siap ketika memasuki sekolah.

Ibu yang hamil juga kini diberi berbagai kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi orangtua, walaupun sebetulnya sejak ia hamil, iapun telah menjadi seorang ibu (bukankah dia disebut ‘ibu hamil’? Dan dia pun sudah menjalani prenatal parenting walaupun mungkin tak disadari). Persiapan menjadi orangtua misalnya adalah memahami proses kehamilan dan kelahiran, menyiapkan diri untuk menyusui, senam hamil, belajar cara pijat bayi, dan macam-macam lagi. Calon ayah juga

sangat diharapkan kehadirannya dalam pemeriksaan kehamilan maupun persiapan menjadi orangtua, agar kelak dapat bekerjasama dengan sang ibu.

Yang menarik, ketika bicara tentang persiapan menikah, sering yang dibicarakan orang hanyalah tentang persiapan akad atau resepsi pernikahan. Pasangan sering lupa bahwa sebetulnya ada berbagai persiapan lain yang jauh lebih dibutuhkan, agar kehidupan setelah pesta dapat berjalan dengan indah. Padahal pernikahan adalah rumah dari kehamilan, pertumbuhan anak, juga pertumbuhan orang-orang dalam keluarga tersebut.

Bicara tentang premarital health screening (Pemeriksaan Kesehatan Pranikah), maka ada 3 hal yang perlu kita cari tahu, yaitu:

  1. Kondisi kesehatan secara umum
  2. Penyakit yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh
  3. Penyakit yang diturunkan / genetik.

Dari sisi psikologis, ada juga lho premarital screening, biasanya dilakukan oleh psikolog perkawinan, psikolog keluarga, atau psikolog klinis dewasa. Tujuannya pun mirip dengan premarital health screening, namun yang dicari tahu lebih ke arah kondisi kesehatan mentalnya, sehingga dapat kita sebut sebagai premarital mental health screening atau premarital psychological screening. Sebagai tambahan, psikolog juga perlu memeriksa kondisi kedua calon pengantin sebagai pasangan, untuk memahami pola relasi antara keduanya. Jadi apa saja yang dicari tahu dari pemeriksaan kondisi psikologis sebelum menikah? Ini dia:

  1. Kondisi psikologis masing-masing individu secara umum
  2. Adakah gangguan psikologis yang mungkin akan mengganggu  kelak
  3. Adakah kondisi psikologis yang mungkin diturunkan atau ‘ditularkan’ baik secara genetik ataupun lewat interaksi sosial
  4. Kondisi relasi pasangan tersebut

Apa sih tujuan premarital psychological screening? Lagi-lagi mirip kok tujuannya dengan premarital health screening:

  1. Meningkatkan kematangan pribadi, sehingga lebih siap menikah. Dengan menuntaskan masalah pribadi, hidup kita jadi lebih ringan, kita juga lebih mampu mengolah masalah yang datang kelak.
  2. Melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi masalah lebih besar.
  3. Bisa mengambil keputusan sesuai nilai bersama yang telah dibicarakan sebelumnya.
  4. Mampu menjalin interaksi yang jauh lebih sehat secara psikologis.

Cara pemeriksaan psikolog bisa dengan menggunakan alat-alat tes psikologi, bisa sama ataupun berbeda dengan ‘psikotes’ yang selama ini dikenal masyarakat. Namun cara periksa yang paling utama adalah wawancara dan observasi, yang seringkali dilihat oleh awam sebagai ‘ngobrol doang’, namun sebetulnya terdiri dari banyak teknik.

Tulisan ini bukan berniat menakut-nakuti lho. Tim kami hanya ingin membuka fakta bahwa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah. Bukankah lebih baik kalau semua potensi masalah sudah diketahui, sehingga bisa dilakukan antisipasinya, daripada dibiarkan dan kelak jadi duri dalam daging pernikahan?

Nah, yuk kita bahas lebih detil. Apa saja sih kondisi psikologis individu yang dicari tahu? Ini beberapa di antaranya:

  • Kepercayaan diri. Bagaimana sih tingkat kepercayaan diri masing-masing calon? Terus terang banyak sekali masalah bersumber tingkat PD. Contoh, perempuan A, cantik namun kurang PD. Ketika pasangannya memuji kecantikan orang lain, A mungkin langsung merasa kurang cantik. Efek baiknya sih mungkin saja dia mempercantik diri. Tapi seringkali muncul efek buruknya, misalnya jadi marah dan cemburu terhadap pasangannya, melabrak perempuan lain yang dipuji pasangan, menghabiskan terlalu banyak uang untuk mempercantik diri, dan lain-lain.
  • Kemandirian. Sudahkah masing-masing calon mampu memenuhi kebutuhan pribadinya? Ini bisa dalam hal keuangan ataupun kegiatan sehari-hari (misalnya bisa bekerja sendiri, atau bisa mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa bantuan). Contoh masalah, laki-laki B masih terus menggunakan fasilitas dari orangtuanya. Istrinya mungkin jadi malu terhadap keluarga asalnya, merasa terganggu dengan campur-tangan keluarga suami, justru terlalu dibatasi geraknya, dan berbagai kemungkinan lain.
  • Kemampuan komunikasi. Jangan salah, ternyata masih banyak lho orang dewasa yang masih kesulitan untuk mengemukakan idenya atau menceritakan masalahnya dengan cara sehat. Cara komunikasi yang kurang sehat misalnya memaksakan ide, terus bicara tanpa mendengarkan, atau kesulitan menceritakan perasaannya.
  • Efek masa lalu. Banyak orang memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Perlu dicari tahu seberapa jauh dia sudah menuntaskan isu masa lalunya. Dalam kehidupan berkeluarga, sudah jamak sekali isu-isu masa lalu kembali mewarnai hidup kita, dan ini bisa kembali mengingatkan sakit hati di masa lalu. Efek negatif yang sering terjadi misalnya orang ini menjadi terlalu defensif, mengalami stres dan depresi, jadi bertengkar dengan pasangannya, dan lain-lain.

Lanjut, poin kedua. Adakah gangguan psikologis yang mungkin mengganggu kelak? Ini contohnya:

  • Gangguan obsesif kompulsif/ obsessive compulsive disorder (OCD), misalnya mereka yang terus-terusan mencuci tangan karena cemas tangannya kotor, atau mereka yang bolak-balik mengecek kunci rumah atau mobil karena kurang yakin pada keamanan barangnya. Bayangkan kalau si calon sedang sibuk dan sangat butuh bantuan, eh pasangannya yang OCD malah berpuluh-puluh kali memeriksa kunci mobilnya, terganggu kan.
  • Insomnia, yaitu mereka yang kesulitan tidur. Bayangkan, si calon sudah sangat lelah setelah seharian mengurus anak yang sakit, dia ingin tidur, tapi pasangannya yang insomnia terus mengajaknya mengobrol atau menciptakan keberisikan karena tak bisa tidur.
  • Anorexia nervosa, mereka yang sangat berusaha menjadi kurus dan cenderung menolak makan. Bayangkan diundang ke acara keluarga besar yang dilakukan sepanjang hari (ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki acara adat yang makan waktu seharian bahkan lebih), kalau si pasangan yang mengalami anorexia nervosa menolak bahkan memuntahkan makanan yang disajikan, tentunya bisa menimbulkan kegemparan dalam keluarga besar.

Gangguan psikologis yang mungkin diturunkan apa saja ya? Beberapa di antaranya:

  • Depresi, kondisi sedih berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Orangtua yang punya riwayat depresi bisa menurunkan gangguan depresi, baik secara genetik ataupun lewat pola asuhnya yang cenderung menawarkan suasana sendu.
  • Skizofrenia / schizophrenia, secara awam disebut sebagai ‘gila’. Riwayat kegilaan itu bisa diturunkan lho secara genetik, tapi juga bisa diantisipasi.
  • Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa anak yang mengalami kekerasan di masa lalu terkadang menjadi individu dewasa yang justru jadi pelaku kekerasan.

Itu baru beberapa lho. Masih banyak lagi kondisi pribadi yang bisa dicek dalam premarital psychological screening. Di luar kondisi pribadi, ada pula kondisi sebagai pasangan. Yang dicek contohnya:

  • Kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi. Dicari tahu bagaimana cara pasangan ini saling mengomunikasikan hal-hal berat yang mereka alami. Kemampuan berkomunikasi ini kelak sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi berbagai masalah dalam hidup berkeluarga. Jika sebelum menikah pasangan hanya mampu mengomunikasikan hal-hal yang dangkal saja, mungkin mereka belum siap menikah.
  • Cara bertengkar. Mampukah pasangan bertengkar dengan sehat? Apakah pertengkaran yang pasangan lakukan dapat menyelesaikan masalah yang dialami? Pasangan yang belum pernah bertengkar, misalnya karena masa perkenalan yang baru sebentar sehingga belum menemukan masalah besar, harusnya lebih berhati-hati. Jangan sampai kaget kalau menemukan pasangannya bertengkar dengan cara yang sangat berbeda dari dirinya, sangat keras, atau bahkan terlalu lembut.
  • Relasi dengan keluarga besar. Sudah rahasia umum bahwa pernikahan di budaya Indonesia melibatkan keluarga besar. Dalam premarital psychological screening dicari tahu seberapa jauh pasangan mampu menerima dan diterima oleh keluarga besar, juga seberapa jauh keluarga besar menjadi sumber masalah bagi pasangan ini.

Dari hasil pemeriksaan ini, psikolog akan memberikan pandangan tentang masalah apa saja yang mungkin timbul. Diberikan pula saran apa saja yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Jika calon pengantin menghendaki, maka dapat dilakukan terapi ataupun pelatihan untuk dapat mengatasi potensi masalah.

Sebetulnya ada begitu banyak hal lain yang perlu dicari tahu juga sebelum pasangan memutuskan untuk menikah, bukan hanya hal-hal di atas saja. Kalau Anda memutuskan tutup mata saja, itupun hak Anda lho. Yang penting bersikaplah dewasa ketika kelak menghadapi masalah.

Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, kecuali pernikahan dalam dongeng. Menyelesaikan banyak isu sebelum menikah bisa membantu untuk membuat ekspektasi jadi lebih realistis, dan akhirnya lebih mampu dicapai, dan akhirnya jadi jauh lebih bahagia. Itulah doa kami untuk teman-teman semua.

Tags: , , , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


− 1 = 7