Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Lajang = Tak Bahagia?

Submitted by on February 1, 2013 – 6:46 pm2 Comments

Ketika bertemu dengan seseorang berusia di atas 30 tahun dan belum menikah, apa yang Anda pikirkan? Menurut Anda, orang itu tak bahagia karena belum menemukan belahan hatinya? Kalau Anda berpikir demikian, mungkin Anda mengalami singlism, yaitu prasangka dan diskriminasi terhadap mereka yang memutuskan untuk tetap melajang dan kurang berminat menjalin cinta (Morris & Kemp, 2011). Hasil darisinglism di budaya kita antara lain adalah pertanyaan terus-menerus ‘Kapan menikah?’. Pertanyaan semacam itu membuat beberapa lajang jadi malas menghadiri acara keluarga dan malas hadir di akad atau resepsi pernikahan.

 Memang sih foto-foto pernikahan sering memunculkan rasa bahagia pada orang-orang yang melihatnya, sehingga masyarakat sering memandang bahwa pernikahan adalah tiket menuju kebahagiaan. Tak heran kalau pertanyaan semacam itu terkadang dimaksudkan sebagai doa bagi si lajang agar cepat menemukan jodoh dan cepat menikah, seakan semua orang memang harus menikah.

 Faktanya, penelitian terhadap para lajang yang dilakukan oleh Poortman dan Liefbroer (2010) menyebutkan bahwa sekitar 4% lajang lebih memilih untuk tidak terikat dalam suatu hubungan. Walaupun demikian, mereka ini tetap memiliki berbagai kualitas hidup yang baik, seperti bergaul dengan banyak orang, memiliki sahabat, punya karir yang baik, dan menikmati kebebasannya. Dengan kata lain, ada lho para lajang yang justru lebih berbahagia dengan kelajangannya.

 Sayangnya belum ada data tentang penelitian sejenis di Indonesia. Namun dengan mengetahui bahwa ada teman-teman lajang yang lebih bahagia melajang dan justru jadi kurang bahagia ketika didoakan untuk cepat menikah, masihkah kita menanyakan ‘Kapan menikah?’ kepada seluruh teman lajang kita?

2 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


+ 1 = 4