<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>I Message</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/i-message/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/i-message/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2013 01:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[#bicara]]></category>
		<category><![CDATA[#komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[#konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!
Saya sedih kamu ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?</p>
<ol>
<li>Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!</li>
<li>Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini.</li>
</ol>
<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-657" alt="conversation" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation-160x300.jpg" width="160" height="300" /></a></p>
<p>Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat A, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda. Kenapa? Karena kalimat A cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’. Pssst, sudah rahasia umum di kalangan mereka yang paham bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya&#8230;’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.</p>
<p><span id="more-625"></span></p>
<p>Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah. Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘kamu’sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat pasangan kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah. Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’. Contohnya, “Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, kamu menelpon saya tanpa henti.” Contoh lain, “Saya cemas kamu memikirkan mantanmu ketika saya tak sedang bersamamu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap pasangan kita, tidak menyalahkan pasangan kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan pasangan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kesedihan kita. Pasangan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita sedih, iapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Keterus-terangan adalah bagian penting dari suatu hubungan kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu cara terbaik untuk menggunakan I message adalah XYZ statement. Caranya begini: sebut perilaku X, di situasi Y, dan perasaan Anda Z. Contohnya, “Ketika kamu marah-marah lewat BBM (X) saat saya terlambat menjemputmu minggu lalu (Y), saya merasa kesal sekali (Z).” Contoh lain, “Saya terus terang merasa malu sekali (Z) ketika kamu berteriak di halte (X) memarahi ibu penjual makanan itu (Y).”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cobalah melakukannya dengan bahasa yang paling sesuai dengan Anda. Contohnya, jika Anda biasa mengganti diri dengan sebutan ‘Ayang’, katakan saja ‘Ayang’, bukan dengan sebutan lain yang tidak familiar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Merasa aneh melakukannya? Yup, tentunya sulit untuk melakukan ini, ketika belum terbiasa. Pasangan Anda juga mungkin belum terbiasa, sehingga responnya bisa jadi tak sesuai harapan. Namun kalau jaminannya adalah komunikasi yang lebih berkualitas dan hubungan yang lebih baik, masa sih Anda nggak mau mengusahakannya? (ASA)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darrington, J., &amp; Brower, N. (2012). <em>Effective Communication Skills: &#8220;I&#8221; Messages and Beyond.</em> Utah State University.</p>
<p>Miller, Rowland S. (2012). <i>Intimate Relationship, 6<sup>th</sup> ed.</i> New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/i-message/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Terlihat Lebih Menarik? Pahami 4 Hal Ini Dulu</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2013 08:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daya tarik]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[tertarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-569 aligncenter" alt="r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" width="570" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Image Source: <a href="http://www.huffingtonpost.com/">Here</a></p>
<p>Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?</p>
<p>Serunya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli mencari tahu lewat penelitian ilmiah. Para ahli mengelompokkannya dalam beberapa bagian. Kalau sudah tahu, sangat mungkin kita bisa membuat diri kita jadi tampil lebih menarik lho!</p>
<p>Kamu merasa kurang menarik? Masih jomblo tanpa tahu kapan akan dapat pasangan? Gimana kalau kamu cek dulu artikel ini, siapa tahu setelahnya kamu jadi semakin tahu cara terlihat menarik di mata orang lain.<span id="more-568"></span></p>
<p><strong>FISIK</strong><br />
Orang bilang, kalau kita cantik atau tampan, orang lain pasti tertarik. Betul juga sih sebetulnya, tapi bukan hanya itu. Ada orang yang tertarik dengan tinggi badan, seringkali lelaki yang lebih tinggi dianggap lebih menarik, sementara perempuan terlalu tinggi dianggap kurang menarik jadi pasangan. Ada pula yang tertarik dengan lekuk tubuh sehingga lebih memperhatikan apakah orang yang dia taksir memiliki lekuk tubuh atau tidak.</p>
<p>Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan berambut panjang terlihat lebih menarik (Boynton, 2008; Knapp-Kline, dkk, 2005). Tak berarti perempuan harus memelihara rambut panjang demi terlihat menarik, karena seringkali yang dilihat adalah sehat atau tak sehat rambutnya. Bukankah kalau rambut panjang tapi si perempuan sering menggaruk kepalanya, jadi tak menarik kan?</p>
<p>Apakah harus tampil seksi atau perkasa? Tidak juga. Lelaki yang terlalu perkasa justru dianggap mengerikan oleh banyak perempuan, karena ada yang menganggap mereka kasar. Kurus juga tak selalu jadi jaminan akan dianggap menarik, karena terkadang diasosiasikan sebagai orang yang kurang sehat.</p>
<p>Secara umum, dari sisi fisik, mereka yang dianggap menarik adalah mereka yang cukup sehat tubuhnya. Berbagai penelitian (Perriloux dkk, 2010; Soler, 2003; Hinsz dkk, 2001, dll) menunjukkan bahwa wajah yang simetris dan tubuh terlihat sehat bisa jadi daya tarik luar biasa. Sehat artinya tak mudah sakit, kulit cukup terawat, rambut relatif sehat, juga beberapa ciri sehat yang lain. So, biar jadi lebih menarik, maka kita perlu peduli pada kesehatan kita kan!</p>
<p><strong>KEDEKATAN</strong><br />
Witing tresna jalaran saka kulina, demikian kata para tetua di daerah Jawa Tengah. Seringnya bertemu, menurut para peneliti, juga membuat kita tertarik pada orang lain lho. Tak usah kaget kalau kita tiba-tiba jatuh cinta pada teman sekantor, itu karena faktor kedekatan fisik juga karena merasa familiar dengan orang tersebut. Reis, dkk (2011) bahkan menegaskan bahwa seringnya kontak dengan seseorang bukan hanya membuat interaksi antara mereka jadi terasa lebih nyaman, namun juga membuat orang tersebut terlihat semakin menarik.</p>
<p>Nggak susah kan bikin kita terlihat menarik? Sering-seringlah bergaul, jangan terus menarik diri atau malu-malu. Bukan berarti harus pamer atau cari perhatian orang lho, lakukan sewajarnya. Tetaplah berusaha menjadi diri sendiri ketika sedang bergaul dengan orang lain. Selain akan terasa lebih mudah untuk jadi diri sendiri, kalaupun ada yang tertarik, itu karena dia melihat diri kita yang sebenarnya kan.</p>
<p><strong>KEPRIBADIAN</strong><br />
Yang dimaksud bukan barang-barang pribadi seperti mobil pribadi atau rumah pribadi lho. Kepribadian adalah bagaimana seseorang bertingkahlaku, berinteraksi dengan orang lain, menampilkan dirinya, atau mengambil pilihan-pilihan hidupnya.</p>
<p>DeGenova (2008) menyimpulkan dari beberapa penelitian bahwa lelaki yang dianggap menarik adalah mereka yang perhatian, penuh pengertian, jujur dan bisa dipercaya, dan sensitif. Lelaki juga dianggap menarik ketika terlihat percaya diri, cerdas, dan terlihat mampu memimpin. Lelaki ternyata punya pilihan yang berbeda, banyak lelaki yang suka dengan perempuan yang hangat, setia, jujur, punya rasa humor, dan cerdas. Di sisi lain, perempuan dan lelaki yang kasar, ceroboh, tak sensitif, labil, dan tak bertanggungjawab, sering dianggap sebagai orang yang tak menarik.</p>
<p>Tak menemukan orang yang sempurna? Tentu saja tak ada orang sempurna. Oleh karena itu, kita perlu menentukan dulu kepribadian seperti apa yang paling kita inginkan untuk jadi pasangan kita, mana yang kita anggap paling penting. Contohnya, kalau kita ingin pasangan yang cerdas, sabar dan setia, coba tentukan mana yang paling penting, mana yang nomor 2, nomor 3, dst. Misalnya kita punya 10 syarat, bagus kok jika orang yang kita taksir memiliki setidaknya 5-7 di antaranya. Kalau tak ada juga yang memenuhi syarat, jangan-jangan syarat kita terlalu berat.</p>
<p>Di sisi lain, susah-susah gampang untuk menjadi pribadi yang menarik. Namun kita tetap bisa mengusahakannya lho. Boleh kok untuk menargetkan diri jadi orang yang lebih hangat, setia, bisa dipercaya, penuh pengertian, perhatian, dan sifat baik lainnya. Cermati sifat apa yang sudah baik dalam diri kita, kembangkan itu.</p>
<p><strong>PENGARUH MASA LALU</strong><br />
Terkadang kita tak bisa menjelaskan mengapa kita tertarik pada seseorang. Nah, kabarnya, masa lalu sangat berperan, menentukan kepada siapa kita tertarik. Contohnya, kita seringkali tanpa sengaja memilih orang yang memiliki sifat yang sama dengan orangtua kita, baik sisi positif maupun negatifnya.</p>
<p>Kita juga terkadang tertarik dengan mereka yang membuat diri kita merasa lebih baik, misalnya mereka yang banyak memuji kita. Teman Pranikah tertarik dengan seseorang yang terlihat tak berdaya, selalu butuh dibantu, dan sangat tergantung? Mungkin karena kita ingin merasa dibutuhkan dan diinginkan. Ada pula yang tertarik dengan seseorang yang sangat diidolakan, misalnya orang yang memiliki semua sifat yang tidak kita miliki.</p>
<p>Nenek atau mama kita sering berkata bahwa kita harus ramah dan sopan? Rupanya orang yang banyak tersenyum, terlihat ramah, dan sopan juga dianggap lebih menarik kok. Tentu saja senyumnya tulus lho, bukan senyum yang dipaksakan keluar.</p>
<p>Memang sih, yang namanya ketertarikan atau daya tarik orang lain, sifatnya personal sekali. Tiap orang bisa punya selera yang berbeda, tergantung pengalaman hidupnya. Jadi kalau semua orang tertarik pada seorang idola, dan kita sama sekali nggak tertarik, nggak papa juga. PD aja punya pilihan sendiri. Bukankah kita yang paling tahu siapa orang yang layak mendapatkan perhatian kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p>DeGenova, Mary Kay. (2008). Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7th ed. New York:McGraw-Hill Companies.<br />
Miller, Rowland S. (2012). Intimate Relationship, 6th ed. New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pranikah Matang: Keluarga Berkualitas, Ketahanan Keluarga Kuat</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 20:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hak dan kewajiban pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan berkeluarga]]></category>
		<category><![CDATA[selamatkan pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Menikah atau membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah adalah hak setiap orang (UU 52/2009).  Menikah yang merupakan ikatan lahir batin antara suami dan isteri bertujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Menikah atau membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah adalah hak setiap orang (UU 52/2009).  Menikah yang merupakan ikatan lahir batin antara suami dan isteri bertujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UU 1/1974). Dengan menikah, suami dan isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat (UU 1/1974).</span></p>
<p>Setelah menikah, pasangan suami isteri (pasutri) harus siap menjadi Ayah dan Bunda, baik dari segi ekonomi,  maupun dari segi pendidikan.  Mengapa?  Karena dengan siap menjadi Ayah Ibu yang bertanggungjawab maka dengan sendirinya akan melindungi dan memenuhi hak asasi anak untuk hidup aman dan nyaman. Hal ini pun menjadi perhatian pemerintah sebagaimana terlihat dari artikel berikut http://menegpp.go.id/V2/index.php/component/content/article/12-anak/477-ilm</p>
<p>Bagaimana cara menjadi Orangtua yang siap dan bertanggungjawab? mulai dgn benar! perkokoh relasi sejak #pranikah, agar dapat bersama membentuk keluarga berkualitas.</p>
<p><span id="more-377"></span><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/04/keluarga-bahagia1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-406" alt="keluarga-bahagia1" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/04/keluarga-bahagia1.jpg" width="217" height="185" /></a></p>
<p><b>K</b><b>eluarga</b><b> Berkualitas</b><b> </b></p>
<p>Menurut UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (“UU 52/2009”), Keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, keluarga yang bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Keluarga yang berkualitas dapat menjadi media sumber daya manusia yang tangguh bagi kepentingan bangsa dan negara.</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Mulai dengan Benar!</b></p>
<p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.  Menurut UU 52/2009, untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, perlu memastikan bahwa:</p>
<ol start="1">
<li>keluarga berada dalam lingkungan yang sehat,</li>
<li>penyiapan dan pengaturan perkawinan,</li>
<li>memastikan kehamilan dan kelahiran yang aman,</li>
<li>penurunan angka kematian,</li>
<li>pengembangan kualitas penduduk,</li>
<li>peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.</li>
</ol>
<p>Memang keenam hal diatas adalah kewajiban pemerintah untuk dapat memfasilitasi terwujudnya hak penduduk tersebut, namun pada dasarnya hal tersebut hanya dapat terwujud bila masyarakatnya dalam hal ini suami dan isteri bahu membahu mewujudkannya. Keenam hal diatas butuh persiapan dan pembelajaran yang cukup baik dari segi kesehatan, keuangan dan kecukupan informasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Perkokoh Relasi</b></p>
<p>Masa pranikah adalah masa yang tepat untuk saling belajar memahami makna kewajiban menurut UU 1/1974 tentang perkawinan ini, agar kewajiban suami isteri untuk <strong>saling</strong> <strong>cinta mencintai</strong>, <strong>hormat menghormati, setia</strong> dan <strong>memberi bantuan lahir bathin</strong> yang satu kepada yang lain, tidak hanya diketahui tapi juga dipahami dan dilaksanakan.</p>
<p>Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan bukanlah tujuan sepihak, didalamnyapun mengandung hak atas kesehatan reproduksi. Oleh karenanya calon pasangan suami isteri (pasutri) sejak masa pranikah perlu bersama membicarakan dan merencanakan pencapaian tujuan keluarga bahagia dan kekal.</p>
<p>Tak sedikit pasutri yang baru membicarakan mengenai melanjutkan keturunan setelah menikah, karena saat pranikah mereka sepakat untuk membicarakannya setelah rumah tangga mereka yakini kokoh untuk maju ke tahap selanjutnya tersebut. Tentunya untuk itu butuh memastikan dilakukannya penundaan kehamilan secara medis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Bersama Berencana</b></p>
<p>Suami dan/atau isteri mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berencana (Pasal 25 UU 52/2009) (baca juga artikel Kesetaraan dalam Pernikahan)</p>
<p>Pengaturan Keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam UU 52/2009 tersebut dapat menjadi bekal diskusi di masa pranikah.  Pasangan dapat berdiskusi kapan mereka berencana menikah, sudah idealkah usia mereka dari segi kesehatan reproduksi, sudah idealkah usia pasangan, bila setelah menikah mereka akan langsung dianugerahi kehamilan oleh Yang Maha Kuasa?</p>
<p>Pasangan wajib untuk menghormati dan mempelajari hak kesehatan reproduksi yang dimiliki oleh pasangannya.  Karena kehamilan, kelahiran akan sangat menentukan dan ditentukan oleh kesehatan tiap tiap pasangan. Inilah mengapa pendidikan mengenai kesehatan reproduksi perlu dipelajari sedini mungkin dengan harapan tidak terjadi kehamilan yang tidak diharapkan dan atau kehamilan di usia dini yang tidak hanya beresiko bagi keselamatan ibu dan bayi, tapi juga akan memberikan dampak kehidupan tumbuh kembang anak.</p>
<p>Kehamilan yang sehat, Kelahiran yang aman dan pola pemberian makan bayi membutuhkan informasi yang rasional untuk dapat dilalui dengan aman dan nyaman. Pasangan dapat mulai mencari tau mengapa UU 52/2009 menyampaikan bahwa air susu ibu (ASI) serta menyusui ekslusif dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya, mengapa UU Kesehatan Nomor 36/2009 pun bicara bahwa ASI Ekslusif adalah hak bayi dan mengapa WHO pun mengatakan standar emas pemberian makan bayi adalah menyusui ekslusif 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai dengan anak berusia 2 tahun atau lebih dengan didampingi makanan pendamping ASI alami sejak usia 6 bulan. (<i>baca juga artikel artikel di divisi medis pranikah.org)</i></p>
<p>Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi di Indonesia, kehamilan beresiko, ketidaktahuan proses kelahiran yang aman dan ketidaktahuan berjuta manfaat ASI bagi keselamatan bayi, membuat perempuan dan anak menjadi kaum rentan dengan resiko kematian yang tinggi.</p>
<p>Karena itu seluruh masyarakat perlu memberikan perhatian penuh, untuk melindungi ibu dan bayi di Indonesia. Kita dapat memulainya dengan memastikan kesehatan dan keselamatan pasangan kita. Ketika kita memutuskan melamarnya untuk melindunginya bukan? Membuatnya dapat tersenyum bahagia selalu dan selamanya seperti saat pertama kali kita jatuh cinta kepadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Ketahanan Keluarga Kuat</b></p>
<p>Ketahanan dan kesejahteraan keluarga menurut UU 52/2009 adalah keluarga yang ulet, tangguh dan mampu secara fisik materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.</p>
<p>Ketahanan keluarga membutuhkan Iman dan ketakwaan, karena itu pernikahan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, karena tak ada seorangpun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk siap menemui dan menjalani masa itu. (<i>baca juga artikel-artikel divisi psikologi dan keuangan di pranikah.org</i>)</p>
<p>Salah satu tugas Ayah dan Ibu adalah memastikan perlindungan bagi anak-anaknya. Untuk siap menjadi Ayah dan Ibu yang bertanggungjawab, dan menjalankan peran masyarakat dalam memastikan perlindungan anak, ada baiknya di masa pranikah, pasanganpun mempelajari apa yang diatur dalam Convention on the right of the child (<a href="http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CRC.aspx">http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CRC.aspx</a>) dan Undang Undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002.</p>
<p>Ketika memutuskan untuk siap dianugerahi Anak oleh Yang Maha Kuasa, maka harusnya pada saat itu pula kita sudah mempersiapkan penyambutannya, sudah memahami dan siap menjalankan kewajiban orangtua untuk memastikan anak mendapatkan kehidupan yang layak, kesehatan yang terbaik, pendidikan yang terbaik dan keamanan dan kenyamanan dalam tumbuh kembangnya. Siap menjadi orangtua yang mau dan mampu mendidik dan memberi bekal bagi anaknya untuk menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan bertakwa.</p>
<p>Tak ada alasan atau kondisi apapun yang membolehkan ayah dan/atau ibu melakukan kekerasan (baik fisik maupun psikis) pada anaknya.  Berbagai perangkat hukum tak akan pernah cukup menjamin terhapusnya kekerasan pada anak, kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri, menghargai dan menghormati hak-hak anak.</p>
<p>Tak ada alasan apapun atau siapapun yang dapat memisahkan anak dari orangtuanya, bahkan sejak saat dilahirkan (adalah hak anak untuk mendapatkan inisiasi menyusu dini &#8211; PP 33/2012 tentang pemberian ASI Ekslusif), namun dengan demikian adalah kewajiban orangtua untuk memastikan bahwa kita dapat menjadi orangtua yang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi tumbuh kembangnya untuk dapat menjadi generasi penerus yang akan memajukan Bangsa Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Yuk! Selamatkan pernikahan, selamatkan rumah tangga, selamatkan anak-anak kita </b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 15:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[“Sekarang atau lima puluh tahun lagi
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu”
Ingat kan lagu yang dinyanyikan oleh kelompok musik Warna, dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara dan Raffi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>“Sekarang atau lima puluh tahun lagi<br />
Ku masih akan tetap mencintaimu<br />
Tak ada bedanya rasa cintaku<br />
Masih sama seperti pertama bertemu”</p>
<p>Ingat kan lagu yang dinyanyikan oleh kelompok musik Warna, dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara dan Raffi Ahmad? Buat Anda yang sedang pacaran, tentunya lagu ini terasa sangat romantis, menjanjikan kesamaan cinta dari tahun ke tahun, bahkan sampai lima puluh tahun yang akan datang. Beberapa orang yang sudah menikah, apalagi yang pernikahannya bermasalah, biasanya mendengarkan lagu ini dengan sinis, menganggap tidak mungkin terjadi kesamaan cinta seperti yang dinyanyikan dalam lagu ini.</p>
<p>Sebetulnya mungkin nggak sih untuk tetap mencintai setelah lima puluh tahun bersama? Tentu saja mungkin. Lalu, apakah mungkin punya cinta yang sama persis seperti pertama kali bertemu? Terus terang jawabannya adalah mungkin, tapi sangat sulit. Kenapa? Ada beberapa alasan yang sangat ilmiah di balik jawaban tadi, yaitu bahwa manusia berkembang.</p>
<p>Mungkin ada Teman Pranikah yang heran, masa sih orang dewasa berkembang? Bukankah yang berkembang hanyalah anak-anak? Betul, anak memang berkembang mulai dari bayi sampai remaja. Yang masih jarang diketahui orang, selama masa dewasa, manusia juga berkembang lho. Bahkan ada 4 tahap besar yang dialami oleh manusia dewasa (Arnett, 2012), yaitu:<br />
• Emerging adulthood, beranjak dewasa, yaitu mulai dari sekitar usia 18 tahun, pada kebanyakan orang berakhir di sekitar usia 25 tahun.<br />
• Young adulthood, dewasa muda, yaitu sekitar usia 25, ada ahli yang mengatakan berakhir di usia sekitar 35 tahun, ada pula yang menyebutkan di sekitar usia 40 bahkan 45 tahun.<br />
• Middle adulthood, dewasa madya, yaitu sekitar usia 40 tahun sampai sekitar usia 60 tahun.<br />
• Late adulthood, dewasa tua atau lansia, yaitu yang di atas usia 60-65 tahun. Dalam tahap inipun manusia masih terbagi jadi 3 tahap perkembangan: young-old (65-74 tahun), old-old (75-84 tahun), dan oldest-old (di atas 85 tahun).</p>
<p>Patokan usia di atas adalah relatif. Artinya tidak selalu mereka yang berusia 23 tahun pasti berada pada tahap emerging adulthood, bisa saja dibuktikan bahwa kematangan psikologisnya berada pada tahap young adulthood. Mereka yang berusia 38 tahun juga bisa saja masih di tahap young adulthood ataupun sudah di tahap middle adulthood.</p>
<p>Lalu kenapa kalau ada perkembangan di masa dewasa? Apa hubungannya dengan perubahan rasa cinta? Tentu ada hubungannya, karena tiap tahap perkembangan punya keistimewaan sendiri. Contohnya, kekuatan fisik mereka yang di tahap dewasa muda tentu berbeda dengan dewasa tua. Perkembangan lain seperti dalam aspek kognitif (kemampuan berpikir, keluasan wawasan, daya ingat, kemampuan konsentrasi, dll), aspek emosional dan aspek sosial, juga berubah. Mau tahu lebih detilnya, perubahan personal dan lingkungan apa saja yang kita alami? Baca artikel “<a href="http://pranikah.org/pranikah/?p=316">Mengapa Cintamu Berubah</a>” ya.</p>
<p>So, dengan adanya perubahan diri, mungkinkah cinta kita betul-betul sama seperti 50 tahun lagi? Silahkan menjawab sendiri, Teman Pranikah.</p>
<p>Referensi:<br />
Arnett, Jeffrey Jensen. (2012). Human Development: A Cultural Approach. Boston: Pearson Education, Inc.<br />
Cavanaugh, J.C., Blanchard-Fields, F. (2011). Adult Development and Aging, 6th ed. California: Wadsworth.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Yes! Kekerasan No!</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/cinta-yes-kekerasan-no/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/cinta-yes-kekerasan-no/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Mar 2013 00:42:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dating violence]]></category>
		<category><![CDATA[KDP]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[Penganiayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Cinta Yes!, Kekerasan No!
Sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, biasanya melalui proses atau masa saling mengenali satu sama lain, yang sering dikenal atau disebut dengan istilah pacaran. Mestinya sih bila melihat ke tujuan perkawinan yang sudah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/kekerasan-no.png"><img class="alignleft size-full wp-image-289" alt="No kekerasan !" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/kekerasan-no.png" width="252" height="180" /></a>Cinta Yes!, Kekerasan No!</strong></p>
<p style="text-align: left;">Sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, biasanya melalui proses atau masa saling mengenali satu sama lain, yang sering dikenal atau disebut dengan istilah pacaran. Mestinya sih bila melihat ke tujuan perkawinan yang sudah sering kita bahas, proses atau masa pengenalan ini sesungguhnya penting, agar ketika menikah kita sudah mengenali dan mengetahui dengan siapa kita akan mengikat janji suci kekal abadi. Sayangnya, dalam masa pacaran tidak jarang terjadi hal-hal negatif atau yang tidak diinginkan.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak jarang di tengah masa pacaran, ada pasangan yang belum cukup dewasa untuk mengontrol perasaan cintanya. Ketidakdewasaan ini yang kerap kali berujung pada tindak kekerasan. Karena dewasa bukanlah sekedar mengenai usia, maka <em><strong>kekerasan dalam pacaran (“#KDP”)</strong></em> tidak mengenal batas usia.</p>
<p style="text-align: left;">#KDP atau <em>dating violence</em> merupakan kasus yang cukup banyak terjadi setelah kekerasan dalam rumah tangga (#KDRT). #KDP masih belum begitu mendapat sorotan jika dibandingkan KDRT sehingga terkadang masih terabaikan oleh korban dan pelakunya. Padahal bibit #KDP bisa jadi bibit #KDRT.</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #993300;">Pengertian dari #KDP adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan. Bentuk #KDP bisa berupa kekerasan fisik (memukul, menampar, mendorong, mencengkram), psikologi (mengancam, mempermalukan, menjelek-jelekan) ekonomi (meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya), seksual (memeluk, mencium, meraba, memaksa hubungan seksual), stalking (membututi, menganggu privasi, membatasi kegiatan sehari-hari)</span></p>
<p style="text-align: left;">Pelaku yang melakukan kekerasan selain pasangan (pacar) bisa juga dilakukan oleh mantan suami atau mantan pacar. Sedangkan menurut Office on Violence Against Women (OVW) of the U.S. Department of Justice dating violance adalah <em>Dating violence is controlling, abusive, and aggressive behavior in a romantic relationship. It occurs in both heterosexual and homosexual relationships and can include verbal, emotional, physical, or sexual abuse, or a combination of these</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Dampak- dampak #KDP bisa berupa</strong> :</p>
<ol style="text-align: left;" start="1">
<li>luka fisik, bisa berupa luka ringan hingga berat</li>
<li>luka psikis, berupa rasa cemas, murung, prestasi menurun, gangguan pola makan, depresi, ingin menyakiti diri atau bunuh diri, pelarian kepada ketergantungan alkohol ataupun narkoba. Dimana untuk alkohol dan narkotika dapat mengakibatkan berhadapan dengan hukum, sebagaimana diatur pada UU tentang Narkotika dan Keputusan Presiden dan keputusan menteri yang mengatur mengenai pengendalian penggunaan alkohol.</li>
<li>kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Padahal dari segi kesehatan hamil dibawah usia 20 tahun beresiko tinggi mengancam jiwa ibu dan bayi. Sementara aborsi tanpa alasan medis demi penyelamatan jiwa itu melanggar hukum yang diatur secara jelas dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).</p>
<p style="text-align: left;">Untuk itu, penting mengedukasi generasi muda, bahwa ketika memutuskan untuk mengaktualisasikan perasaan cinta yang dimiliki, harus memahami terlebih dahulu bahwa:</p>
<ol style="text-align: left;" start="1">
<li>Cinta itu anugerah dan tidak pernah salah, tapi bukan cinta bila saling menyakiti. Bukan cinta bila ada salah satu pihak yang terus menderita atau tersakiti.</li>
<li>Sejak awal harus saling menyepakati untuk membina hubungan yang sehat, aman dan nyaman</li>
<li>Membiasakan mengutarakan harapan masing-masing, batasan-batasan dan tujuan hubungannya</li>
<li>Saling terbuka membicarakan resiko yang ditanggung masing-masing pihak apabila batasan-batasan tersebut dilanggar.</li>
<li>Berani berkata tidak jika pasangan memaksakan tindakan-tindakan yang tidak disukai, disertai dengan argumen yang bisa diterima oleh pasangan.</li>
<li>Tidak memaksakan diri sendiri untuk menyenangkan pasangan apabila hal tersebut bertentangan dengan nilai atau norma yang dianut.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Jika semua hal tersebut sudah dilakukan dan ternyata tetap terjadi bentuk-bentuk tindak kekerasan, maka jangan ragu untuk membicarakannya dengan pihak keluarga, teman dekat atau <em>civil society organization</em> (CSO) yang khusus menangani hal tersebut. Diskusikan dengan mereka tindakan yang perlu diambil untuk mengatasi hal tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Idealnya, hal tersebut dapat diselesaikan dengan membicarakan langsung kepada pasangan agar tindak kekerasan tidak terulang. Bisa juga dengan bantuan keluarga atau orang yang dihormati pasangan sebagai mediator.</p>
<p style="text-align: left;">Namun jika tindak kekerasan masih berlanjut dan mengancam keselamatan jiwa, maka jangan ragu untuk segera melaporkan kepada pihak kepolisian. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur beberapa pasal mengenai tindak kekerasan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Pada dasarnya tindak kekerasan tersebut dapat dilaporkan sebagai tindak penganiayaan dengan ancaman pidana penjara maksimal dua tahun delapan bulan (Pasal 351 ayat 1 KUHP). Jika penganiayaan mengakibatkan luka-luka berat, dapat diancam pidana penjara maksimal lima tahun (Pasal 351 ayat 2 KUHP).</p>
<p style="text-align: left;">Meski tindak kekerasan tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari, pelaku tetap dapat dilaporkan sebagai penganiayaan ringan yang dapat diancam  dengan pidana penjara paling lama tiga bulan (Pasal 352 ayat 1 KUHP).</p>
<p style="text-align: left;">Namun, jangan lupa untuk mempersiapkan bukti dan saksi saat melaporkan tindak kekerasan tersebut. Apabila terdapat luka fisik, misal berupa luka memar, ada baiknya segera didokumentasikan secara pribadi atau dengan meminta keterangan dari dokter. Surat keterangan hasil pemeriksaan dari dokter untuk kepentingan peradilan biasa dikenal sebagai <strong><em>visum et repertum</em></strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Saksi-saksi yang melihat atau mendengar langsung tindak kekerasan itu juga penting untuk dipersiapkan. Oleh karena itu, hindari tempat-tempat yang tertutup atau tidak bisa dilihat oleh orang lain jika mulai ada potensi konflik dengan pasangan yang punya kecenderungan melakukan tindak kekerasan.</p>
<p style="text-align: left;">Di tempat terbuka perilaku cenderung lebih terkontrol, sehingga tindak kekerasan bisa diminimalisir. Lagipula, jika benar-benar terjadi tindak kekerasan di tempat terbuka, akan lebih mudah mencari saksi yang melihat langsung kejadiannya. Di tempat terbuka juga lebih mudah untuk mendapatkan atau meminta bantuan pihak lain jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, sebesar apapun rasa cinta kamu kepada pasangan, bukan berarti memberikan hak kepadanya untuk melakukan tindak kekerasan kepada kamu. Bersikap tegaslah untuk katakan tidak pada tindak kekerasan saat ini, agar tidak menyesal di kemudian hari.</p>
<p style="text-align: left;"><div class="colabs-sc-divider"></div> baca juga : [ pranikah ] &#8220;<a href="http://pranikah.org/pranikah/mengencani-si-calon-pelaku-kekerasan/">Si Calon Pelaku Kekerasan ?</a>&#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/cinta-yes-kekerasan-no/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
