Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Medis

Vaksinasi sebagai persiapan Kehamilan

Submitted by on June 3, 2013 – 1:26 pm2 Comments

Oleh: dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD
(Anggota Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI)

Kehamilan membutuhkan persiapan. Selama kehamilan, terjadi banyak perubahan pada diri
seorang perempuan, mulai dari aspek fisik hingga aspek psikis. Kehamilan yang baik adalah
kehamilan yang terencana. Kualitas generasi penerus Indonesia ditentukan sejak di dalam
kandungan. Salah satu proses persiapan kehamilan yang terpenting adalah mengoptimalkan
kondisi kesehatan calon ibu.

vaksinSebelum menikah, idealnya calon pasangan suami istri (pasutri) melakukan pemeriksaan
kesehatan yang menyeluruh; mulai dari pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan TORCH
(Toxoplasmosis, Other infections, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex Virus -2), hingga
skrining Talasemia. Dewasa ini, banyak rumah sakit yang telah menyediakan paket
pemeriksaan pranikah. Sekilas biaya yang harus dikeluarkan untuk pemeriksaan ini cukup
besar, namun bila kita membandingkannya dengan biaya yang kelak harus kita keluarkan
untuk mengobati penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal, biaya ini menjadi
sangat kecil.

Salah satu momok bagi ibu hamil adalah terjadinya gangguan pertumbuhan dan
perkembangan janin; lebih menyeramkan lagi: kecacatan pada janin. Ilmu kedokteran
sebenarnya telah sejak lama berhasil mengidentifikasi berbagai penyebab gangguan
pertumbuhan dan perkembangan janin, salah satu yang terpenting adalah infeksi intrauterin
(infeksi yang terjadi selama kehamilan).

Vaksinasi merupakan upaya yang amat sangat efektif dan efisien untuk mencegah infeksi
pada kehamilan. Vaksin yang perlu diberikan dan berkaitan langsung dengan kehamilan
adalah vaksin Hepatitis B, Tetanus, MMR (Measles, Mumps, Rubella), Varisela (cacar air),
dan Influenza. Selain vaksin-vaksin yang telah disebutkan, vaksin lain juga tetap diberikan,
sesuai dengan Jadwal Imunisasi Dewasa 2013 yang dikeluarkan oleh Satgas Imunsasi
Dewasa PAPDI.

Bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter, perlu memahami vaksin apa saja yang boleh
diberikan pada kehamilan dan apa saja yang dikontraindikasikan. Vaksin hidup (live-
atenuated vaccines) tidak boleh diberikan pada kehamilan. Semua vaksin mati, pada
prinsipnya dapat diberikan pada kehamilan. Pengecualian untuk vaksin HPV (Human
Papilloma Virus)/kanker serviks (leher rahim) yang tidak dianjurkan untuk diberikan saat
hamil. Pada praktik sehari-hari, seringkali vaksin dipersepsikan negatif, masyarakat khawatir
berlebihan, bahkan tak jarang vaksin dituding sebagai penyebab kondisi janin yang kurang
baik. Tentu ini semua tidaklah tepat.

Vaksin Hepatitis B sangat penting untuk mencegah transmisi vertikal virus Hepatitis B dari
ibu ke anak. Indonesia adalah negara endemis Hepatitis B. Vaksin ini diberikan 3 kali, pada
bulan ke-0, 1, dan 6. Sebenarnya sangat penting untuk mengetahui status Hepatitis B
seorang calon ibu, agar bila positif, dokter kandungan dapat melakukan upaya untuk
meminimalisasi penularan terhadap anak. Oleh karena itu, periksalah HbsAg anda pada saat
sebelum atau sedang hamil. Bila negatif, segera vaksinasi. Bila positif, informasikan dokter
kandungan anda. Yang paling ditakutkan dari infeksi virus Hepatitis B adalah perjalanan
penyakit yang kronis dan dapat berujung pada kanker hati serta kematian.

Penyakit Tetanus Neonatorum saat ini kejadiannya sudah amat jarang. Penyakit yang
mematikan ini disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Gejalanya berupa
kekakuan rahang yang hebat, kesulitan menelan/membuka mulut, dan kegagalan otot
pernapasan untuk bekerja. Bayi yang baru lahir dapat terkena Tetanus akibat proses
persalinan yang tidak steril. Seiring dengan berkurangnya proses persalinan yang tidak steril
dan meningkatnya cakupan imunisasi Tetanus, semakin sedikit kasus yang kita temui. Vaksin
Tetanus dalam bentuk TT (Tetanus Toksoid) atau Tdap (Tetanus, Difteri, Pertusis aseluler)
diberikan kepada perempuan, dengan maksud agar antibodi yang dimiliki oleh ibu
ditransmisikan kepada janin melalui plasenta. Bila bayi terpapar pada kuman penyebab
Tetanus, ia telah terlindungi. Vaksin ini diberikan minimal 2 kali: pada saat kontrol
kehamilan pertama dan pada trimester ketiga kehamilan. Pemberian 2 dosis vaksin ini
(dengan jeda minimal sebulan) memberikan proteksi selama 10 tahun. Kementerian
Kesehatan juga telah mencanangkan program imunisasi Tetanus lengkap sebanyak 5 kali,
yang dapat memproteksi selama 25 tahun.

MMR merupakan singkatan dari Mumps/Gondongan, Measles/Campak, dan
Rubella/Campak Jerman. Yang berkaitan langsung dengan kehamilan adalah infeksi virus
Rubella yang bermanifestasi sebagai Sindroma Rubella Kongenital (SRK). Gejala SRK berupa
ketulian, kelainan sistem penglihatan, dan kelainan jantung kongenital. SRK terjadi bila ibu
mengalami infeksi Rubella pertama kali saat trimester pertama kehamilan. Bila infeksi
terjadi pada 0-28 hari sebelum pembuahan, kemungkinan terjadinya SRK sebesar 43%. Bila
infeksi terjadi pada 0-12 minggu setelah pembuahan, kemungkinan terjadinya SRK sebesar
51%. Bila infeksi terjadi pada 13-26 minggu setelah pembuahan, kemungkinan terjadinya
SRK sebesar 23%. Umumnya SRK tidak terjadi bila infeksi Rubella terjadi pada trimester
ketiga kehamilan, atau 26-40 minggu setelah pembuahan. Vaksin Rubella dalam bentuk
vaksin MMR diberikan sebelum hamil, sebanyak 1 atau 2 dosis (dengan jeda minimal
sebulan). Setelah suntikan vaksin MMR yang terakhir, sangat dianjurkan untuk menunda
kehamilan selama 1 bulan. Vaksin MMR tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.

Penyakit Varisela atau yang secara luas dikenal sebagai cacar air sebenarnya bukanlah
penyakit yang berat, terutama bila mengenai anak-anak. Yang sering tidak disadari bahwa
infeksi virus ini yang terjadi pertama kali pada kehamilan trimester pertama, juga dapat
menyebabkan cacat pada janin. Selain itu, Varisela menampakkan gejala yang lebih berat

bila menyerang orang dewasa. Terdapat kemungkinan 0,4-2% untuk terjadinya Sindroma
Varisela Kongenital (SVK) bila infeksi primer terjadi pada trimester pertama atau awal
trimester kedua kehamilan. Bayi yang mengalami SVK akan menampakkan gejala: kulit
dipenuhi jaringan parut, kelainan pada otak, kelainan pada alat gerak, dan terlahir dengan
berat rendah. Vaksin Varisela diberikan sebelum hamil, sebanyak 2 dosis dengan jeda
minimal 1 bulan. Setelah suntikan vaksin Varisela yang terakhir, sangat dianjurkan untuk
menunda kehamilan selama 1 bulan. Vaksin Varisela tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.

Kita sering menyepelekan penyakit Influenza. Bahkan masih banyak di antara kita yang
beranggapan bahwa Influenza hanya ada di negara yang memiliki 4 musim seperti Eropa dan
Amerika. Anggapan ini tentu salah karena Influenza terbukti juga terdapat di negara tropis
seperti Indonesia, dan terus terjadi sepanjang tahun. Kita juga tentu masih ingat kepanikan
yang melanda dunia saat terjadi pandemi flu burung beberapa tahun silam. Dari berbagai
penelitian diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami Influenza dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin; paling nyata adalah pengaruhnya
terhadap berat janin. Oleh karena itu, vaksin Influenza juga direkomendasikan untuk ibu
hamil dan pemberiannya adalah sekali setahun. Vaksin ini dapat diberikan pada usia
kehamilan berapapun.

Dari uraian singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa vaksinasi merupakan upaya yang
sangat penting untuk mempersiapkan sekaligus menjaga kehamilan agar pertumbuhan dan
perkembangan janin optimal. Vaksin-vaksin yang direkomendasikan untuk diberikan adalah
vaksin untuk mencegah penyakit Hepatitis B, Tetanus, Rubella, Varisela, dan Influenza.

2 Comments »

  • rina says:

    berarti harus menunda kehamilan ya dok selama rentan waktu 6 bulan vaksin HPV?
    sedangkan untuk vaksin MMR dan varisela, harus menunda kehamilan 1 bulan setelah vaksin terakhir?
    untuk vaksin hepatitis B, TT dan influenza, tidak perlu menunda kehamilan?
    Mohon dijawab ya dok, bingung mo vaksin HPV, soalnya cuma tinggal 3 bulan sebelum pernikahan..
    Thanks before :)

    • Sisca says:

      Halo Mb Rina,

      terima kasih banyak atas pertanyaanya… apa yang mba rina tuliskan sudah benar. Vaksin HPV diberikan 3x selama kurun waktu 6 bulan (dosis ke 2 dan ke 3 diberikan pada bulan ke 2 dan ke 6 dihitung dari pemberian dosis pertama). Dalam 6 bulan ini tentu sebaiknya tidak dalam kondisi hamil. HPV dapat diberikan mulai usia 11-12 tahun hingga usia 26 tahun. MMR dan varicela harus menunda kehamilan 1 bulan setelah vaksin terakhir karena dua vaksin ini adalah vaksin hidup. Sementara, untuk hepatitis B dan TT dapat diberikan kapan saja, termasuk pada saat hamil. Vaksin influenza yang inactivated juga demikian.

      Semoga membantu…

2 Pingbacks »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


− 6 = 2