Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Medis

Teratogen, si Jahat yang Merusak Janin

Submitted by on August 6, 2013 – 10:07 amNo Comment

Pernah berkenalan dekat dengan teman yang difabel (different ability people)? Jika pernah, tentu Teman Pranikah tahu betapa banyaknya kesulitan yang mereka alami dalam menjalani kehidupan sehari-hari akibat banyak fasilitas di negara kita yang kurang ramah terhadap kaum difabel. Kali ini kita bukan membahas tentang kaum difabel atau fasilitasnya, namun membahas tentang kemungkinan penyebab janin mengalami gangguan dalam tumbuh kembangnya, sehingga menyebabkan mereka lahir sebagai difabel. 

evilAda beberapa zat yang dikategorikan sebagai teratogen (berasal dari kata Yunani ‘tera’ yang berarti ‘monster’), yaitu segala zat yang mengakibatkan kecacatan janin. Yang termasuk teratogen adalah malnutrisi, penyakit infeksi, alkohol, dan tembakau (Arnett, 2012). Ahli lain menambahkan yang termasuk teratogen adalah tipe darah yang kurang cocok, polusi lingkungan, stres ibu, dan usia ayah-ibu pada saat janin dikandung (Santrock, 2004).

 

Kenapa mereka yang ingin hamil harus paham tentang teratogen? Karena seringkali seorang perempuan baru menyadari kehamilannya setelah beberapa minggu. Padahal fase embrio yang berlangsung sejak janin berusia sekitar 3-8 minggu adalah fase yang paling kritis. Apabila teratogen hadir di fase embrio, maka cukup besar kemungkinan janin mengalami kecacatan.  Contohnya perkembangan mata sangat rawan di usia 24-40 hari, jantung di usia 20-40 hari, dan tungkai kaki di usia 24-36 hari. Jika teratogen hadir di usia kehamilan sekitar 30 hari, janin beresiko mengalami kebutaan, gangguan jantung, atau kaki tak berkembang.

 

Memang tak ada jaminan bahwa kalau kehamilan amat bersih dari teratogen maka bayi lahir amat sempurna. Namun para ahli telah membuktikan bahwa teratogen berperan besar sekali dalam kecacatan janin. Tak bermaksud menambah kengerian, namun ternyata hanya setengah dari efek teratogen yang terlihat pada saat bayi lahir. Penelitian Moore dkk (1997) dam Wahlbeck dkk (2011) membuktikan bahwa ada efek teratogen yang baru terlihat di masa dewasa. Oleh karena itu sebaiknya Teman Pranikah yang ingin memiliki anak yang sehat sebaiknya menghindari beberapa teratogen berikut:

 

Malnutrisi

Malnutrisi tak hanya terjadi di negara dunia ketiga. Mereka yang hidup di kota besar juga bisa mengalami malnutrisi lho. Contoh yang paling jelas adalah mereka yang sangat kurang mengasup asam folat (yang banyak tersedia di buah dan sayur) punya resiko melahirkan bayi yang mengalami anencephaly (tidak lengkapnya struktur kepala) dan spina bifida (sejenis kerusakan tulang belakang). Ibu yang malas makan ketika hamil juga mengalami resiko yang sama. Ibu yang obesitas tak berarti kelebihan nutrisi lho. Penelitian Doheny (2009) bahkan menyebutkan bahwa ibu yang kegemukan dapat melahirkan bayi yang mengalami spina bifida, cacat jantung, atau bibir sumbing.

 

Nah, anjuran untuk makan banyak buah dan sayur bukan main-main kan. Sebaiknya banyak mengonsumsi buah dan sayur dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ingin hamil. Bukan hamil dulu baru makan buah dan sayur lho.  Suplementasi asam folat dianjurkan untuk dikonsumsi sejak 3 bulan sebelum kehamilan dan selama kehamilan.  

 

Penyakit infeksi

Salah satu penyakit infeksi yang paling terkenal adalah rubella. Janin yang ibunya terkena rubella di awal kehamilannya beresiko mengalami kebutaan, ketulian, tuna grahita, juga ketidaknormalan jantung, alat kelamin dan sistem pencernaan. Jika rubella dialami pada fase fetal (setelah 8 minggu), pengaruhnya bisa menjadi berat badan lahir rendah, masalah pendengaran, dan kecacatan tulang belakang. Untungnya rubella sudah ada vaksinnya, yuk cegah dengan melakukan vaksinasi MMR (Mumps, Measles, Rubella) sebelum menikah.  Perlu 2 x pemberian dengan jarak minimal 4 minggu untuk perlindungan yang baik. (cek artikel kami: Vaksinasi sebagai persiapan kehamilan). Penyakit infeksi lain contohnya AIDS, yang dapat merusak perkembangan otak janin.

 

Alkohol

Minuman beralkohol saat ini seakan menjadi trend pergaulan. Padahal berbagai penelitian membuktikan bahwa dosis alkohol yang aman untuk janin adalah 0, artinya tak boleh sama sekali minum alkohol di masa kehamilan. Ingat, yang disebut masa kehamilan adalah dimulai sejak saat terjadinya pembuahan. Efek alkohol terhadap janin adalah berat badan lahir rendah, lingkar kepala kecil, inteligensi rendah, anak kelak cenderung lebih agresif dan sulit diatur (Willford dkk, 2004). Ibu yang mengonsumsi alkohol berlebihan bahkan dapat melahirkan anak yang mengalami FASD (fetal alcohol spectrum disorder) yang mencakup kelainan bentuk muka, masalah jantung, tuna grahita, dan memiliki masalah atensi dan konsentrasi (Mattson dkk, 2010). Anak-anak ini biasanya akan mengalami masalah seumur hidupnya karena berbagai kesulitan yang ia alami. Jadi sebelum kehamilan terjadi, bersihkan diri dulu dari asupan alkohol.

 

Rokok

Perempuan merokok sudah biasa? Walaupun demikian, janin tak pernah terbiasa pada rokok. Rokok bahkan dapat meningkatkan resiko keguguran dan kelahiran prematur. Janin juga dapat mengalami kerusakan fungsi jantung, kesulitan bernapas, bahkan kematian. Ketika besar, anak juga dapat mengalami masalah dalam ketrampilan berbahasa dan bicaranya, kesulitan atensi dan konsentrasi, dan banyak problem perilaku. Jika ayah yang merokok, tak berarti bebas dari masalah. Tak hanya masalah dari sperma ayah, juga masalah ibu sebagai perokok pasif ternyata dapat meningkatkan resiko berat badan lahir rendah dan kanker anak. Penting banget kan untuk berhenti merokok sebelum mempersiapkan kehamilan. Cek artikel: Berhenti merokok, salah satu persiapan pranikah.

 

Obat-obatan

Yang dimaksud pastinya narkoba. Kokain, mariyuana, heroin dan teman-temannya terbukti menyebabkan berbagai gangguan pada janin seperti lingkar kepala lebih kecil, perkembangan motorik buruk, gangguan tidur, dll. Ada pula masalah-masalah psikologis yang dialami seperti kecerdasan yang rendah, kesulitan memusatkan atensi dan konsentrasi, dan berbagai problem perilaku yang sangat mungkin masih terus dialami sampai dewasa.

 

Bukan itu saja, obat-obatan bebas yang dikonsumsi ibu hamil (bahkan ibu yang belum tahu dirinya hamil) juga dapat memberikan problem serupa. Oleh karena itu, sebaiknya memang tak buru-buru menyantap obat jika batuk pilek atau sakit kepala, jika memang ada kemungkinan Anda akan hamil atau pasti sedang hamil. Baik ayah maupun ibu juga sebaiknya bebas narkoba sebelum merencanakan kehamilan.

 

Bahaya lingkungan

Yang termasuk bahaya lingkungan antara lain radiasi dan polusi. Radiasi dan polusi berat terbukti dapat mengakibatkan mutasi gen, sehingga mengalami abnormalitas kromosom, dan akhirnya mendapatkan kecacatan tertentu. Radiasi juga dapat terjadi akibat sinar X lho, jadi jangan sembarangan melakukan rontgen jika ibu kemungkinan mengandung.  

 

Stres ibu

Ibu yang mengalami kecemasan tinggi lebih beresiko melahirkan secara prematur, padahal kelahiran prematur sering menimbulkan masalah bagi bayi. Emosi ibu yang meledak-ledak juga telah terbukti dapat ‘ditularkan’ oleh ibu kepada janinnya lewat perubahan pernapasan dan perubahan hormon. Oleh karena itu, ibu hamil yang pemarah seringkali memiliki anak yang cenderung mudah tersinggung dan sulit diatur, sementara ibu hamil yang selalu sedih sering memiliki anak yang terus murung.

 

Usia ibu

Banyak ahli yang menyarankan agar kehamilan terjadi antara usia 20-35, karena kualitas sel telur yang semakin menurun ketika usia wanita semakin tua. Salah satu resikonya adalah melahirkan bayi yang mengalami Down Syndrome. Apabila si ibu adalah orang yang aktif dan pola hidupnya sehat, maka resiko tersebut akan menurun dan masa sehat sistem reproduksinya cenderung lebih panjang.

 

Faktor ayah

Dari tadi bicara faktor ibu, namun jangan salah, ayahpun pegang peranan. Laki-laki yang banyak bergelut dengan radiasi, pestisida, dan zat kimia berbahaya punya resiko memiliki sperma yang abnormal, sehingga anak punya resiko mengalami kanker. Penelitian Rubin dkk (1986) terhadap ayah yang merokok selama kehamilan istrinya menyebutkan bahwa setiap pak rokok yang diisap ayah per hari membuat berat lahir bayi berkurang 4 ons, dibanding bayi dari ayah yang tak merokok.

 

Lagi-lagi Tim Pranikah mau menegaskan: informasi tentang teratogen bukan diberikan untuk menakut-nakuti, tidak juga untuk melecehkan mereka yang mengalami difabel. Informasi ini diberikan agar semua Teman Pranikah menyadari pentingnya persiapan kehamilan, dan akhirnya lebih bertanggungjawab terhadap kehamilan bahkan sebelum disadari.

 

Pernikahan perlu diselamatkan sebelum dimulai, kehamilan juga perlu diselamatkan sebelum dimulai. Jangan sampai ada kata terlambat, ayo mulai hidup sehat segera demi masa depan generasi mendatang yang lebih sehat.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


+ 8 = 14