Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Serumah dengan Mertua?

Submitted by on May 1, 2013 – 8:14 amNo Comment

Di mana Anda ingin tinggal setelah menikah nanti? Bagi Anda yang sudah memiliki tempat tinggal sendiri selama masa pacaran / pranikah, bisa jadi yakin saja bahwa Anda berdua akan segera pindah ke rumah impian. Namun tak semua pasangan berniat tinggal mandiri, ada pula yang berencana tetap tinggal bersama orangtua / mertua.

Kenapa sih kok ada yang ingin tinggal dengan mertua? Jika Anda adalah pihak ‘menantu’, mungkin saja Anda mempertanyakan ini. Ada banyak jawaban, mulai dari menghemat pengeluaran, belum punya rumah, sampai kemudahan menitipkan anak. Terkadang jawaban-jawaban ini diterima mentah-mentah, dianggap sebagai suatu keharusan. Walaupun demikian, karena Teman Pranikah akan hidup sebagai keluarga baru, maka sebaiknya perlu juga dibicarakan semua kemungkinan yang terjadi. Membicarakan ini bukan berarti langsung menolak usulan lho, tapi justru untuk memikirkan masalah-masalah apa saja yang perlu diantisipasi agar keputusan yang ada betul-betul dipikirkan secara matang. Lagi-lagi supaya kelak hidup pernikahan punya ekspektasi yang lebih realistis. 

RumahMertuaCoba deh cermati apa alasan Anda / pasangan Teman Pranikah untuk tinggal di rumah mertua, bicarakan hal-hal berikut ini:

    • Rumah orangtua terlalu besar untuk mereka berdua saja, sehingga masih ada ruang kosong di rumah mereka. Di mana posisi ruang kosong tersebut? Apakah posisi ruang kosong tersebut dianggap cukup nyaman oleh Teman Pranikah? Apakah ada kamar mandi / toilet sendiri, atau bergabung dengan yang lain? Bagaimana pengaturan dapurnya, apakah memasak adalah tanggung jawab mertua saja atau bergantian dengan Anda? Perhatikan pula kebiasaan-kebiasaan di toilet (misalnya kebiasaan penggunaan odol dan sabun), atau makanan yang biasa dimasak. Ohya, rumah besar terkadang juga berarti tempat berkumpul keluarga besar, dan terkadang kebiasaan ini membingungkan bagi Teman Pranikah yang terbiasa hidup lebih individual dalam keluarga asalnya.
  • Rumah orangtua di tengah kota, sehingga dekat dengan tempat kerja. Apakah ada tuntutan tambahan tentang jam kepulangan Anda? Betulkah biaya yang dihemat untuk transportasi sebanding dengan berbagai pengorbanan lain yang perlu dilakukan? Bagaimanapun ketika tinggal dengan mertua, Anda tetap perlu membiayai kehidupan Anda sendiri, dan bahkan mungkin membayar beberapa pengeluaran mertua (misalnya berbagi biaya telpon atau listrik).
  • Salah satu orangtua sakit, sehingga harus ada yang mengurusinya. Seberapa menular penyakit yang dideritanya? Jika menular, maka Anda perlu memahami cara merawatnya agar tak sampai tertular. Seberapa jauh mesti mengurusnya? Ada yang hanya sekedar menemani makan, tapi banyak juga orangtua yang butuh dibantu untuk membersihkan dirinya, berarti itu termasuk membersihkan kotorannya. Apakah hanya Anda yang akan mengurusnya atau ada perawat yang perlu Anda awasi? Jika hanya Anda, maka Anda perlu betul-betul memahami cara merawatnya, misalnya cara mengukur tensi atau cara menyuntik.
  • Mendekatkan pasangan dengan keluarga. Sudahkah pasangan mengenal anggota-anggota keluarga Anda? Jika sama sekali belum mengenal, ceritakan sebanyak-banyaknya, usahakan seterbuka mungkin. Biarkan pasangan berpendapat tentang keluarga Anda sebelum ia ikut tinggal dalam keluarga. Jika kelak ada masalah, apa yang akan dilakukan? Masalah seperti apa saja yang mungkin ada? Tiap keluarga memiliki kisahnya sendiri, sehingga apa yang mungkin terjadi pada satu keluarga mungkin tidak terjadi pada keluarga lain, cermati apa yang mungkin terjadi antara mertua dengan Teman Pranikah dan antisipasilah masalah yang mungkin terjadi.
  • Menghemat pengeluaran. Pengeluaran apa saja yang akan dihemat? Seberapa banyak penghematannya? Apakah jumlah yang dihemat sebanding dengan pengeluaran lain, ataukah justru lebih banyak yang Anda keluarkan dibandingkan yang dapat dihemat? Misalnya Anda menghemat biaya listrik dan air, namun ternyata biaya transportasi jadi lebih mahal, apakah jadi sebanding penghematannya? Apa yang dapat tetap Anda kontribusikan sebagai keluarga baru kepada keluarga mertua? Kontribusi ini tak melulu berupa uang, namun dapat juga berupa bantuan mengurus mertua atau rumahnya.
  • Belum punya rumah sendiri. Apakah selamanya memang akan tinggal di rumah mertua? Jika tidak selamanya, maka sampai kapan? Usaha apa yang dapat dilakukan untuk mempercepat memiliki tempat tinggal sendiri? Contoh usaha yang dapat dilakukan adalah mencari iklan rumah yang dijual, mengumpulkan uang untuk membeli rumah, mencari informasi KPR, dll. Apakah memang ada tempat bagi Anda berdua di rumah mertua?
  • Lebih mudah menitipkan anak. Ini tentu setelah memiliki anak. Bagaimana jika Anda belum punya anak? Apakah jadi ada tuntutan untuk lebih cepat memiliki keturunan? Jika ada tekanan, maka seringkali menimbulkan distress, yaitu stres yang negatif, yang terkadang mempersulit terjadinya kehamilan. Sejauh mana mertua ikut mengurus kehamilan dan pengasuhan anak kelak?  Apakah mertua memang senang hati dititipkan cucu? Tidak semua mertua punya energi untuk menimang cucu, ada yang lebih suka dititipi bayi, ada pula yang lebih suka dititipi setelah cucu lebih besar, cari tahu bagaimana tipe mertua Teman Pranikah. Apakah pola pengasuhan mertua memang sejalan dengan Teman Pranikah? Baik sejalan maupun tidak, bagaimana membatasi pengasuhan orangtua, agar tidak selalu berbenturan dengan pengasuhan kakek-neneknya?

Di atas adalah beberapa hal yang dapat dibicarakan antara Teman Pranikah, pasangan, dan mertua. Sebaiknya sebelum pindah ke rumah mertua, sudah ada pembicaraan yang lebih kongkrit tentang hal-hal di atas, agar Teman Pranikah memiliki ekspektasi yang lebih realistis tentang kehidupan pasca pernikahan. Jika ternyata ada berbagai ketidakcocokan, bicarakan dulu, cari solusi yang paling nyaman untuk semua pihak. Bukankah lebih nyaman untuk tinggal bersama jika kita sudah betul-betul kenal dan menerima apa adanya?

 

Tags: , , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


6 + 7 =