Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Perubahan Itu Pasti

Submitted by on April 2, 2013 – 10:11 am2 Comments

“A Relationship is like a house. When a lightbulb burns out, you do not go out and buy a new house, you change the light bulb

Sudah dua minggu terakhir ini tim Psikologi Pranikah membahas tentang perubahan. Buat yang belum baca bisa baca disini  dan disini dulu ya.. 😉

Kenapa ya dibahas terus? Sebegitu pentingnya kah untuk mengetahui mengenai perubahan ini?

Memahami perubahan jadi penting dalam suatu hubungan karena perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Seringkali perubahan ini menimbulkan adanya kecemasan, kekhawatiran, keraguan, ataupun ketegangan yang biasa berujung dengan konflik.

perubahanDi artikel – artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai perubahan, baik dari segi perkembangan maupun kondisi-kondisi yang menimbulkan adanya perubahan. Sekarang tim Pranikah mau membahas bahkan sehari setelah menikah pun ada banyak pasangan yang mengeluh pasangan mereka seakan berubah menjadi orang yang berbeda dalam waktu semalam. Buat yang sudah menikah ada yang pernah mengalami hal ini kah?

Ada beberapa alasan yang menyebabkan perubahan ini terjadi. Pertama, ketika seseorang sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka biasanya mulai fokus ke hal lain untuk dicapai ketimbang melakukan sesuatu untuk  membina tujuan sebelumnya. Misalnya, setelah menikah seorang suami berpikir bahwa dia adalah kepala keluarga, ia kemudian memiliki fokus lain yaitu mencari nafkah untuk keluarga baru-nya. Atau kehadiran seorang anak membuat peran seorang istri bertambah menjadi peran ibu dan fokus untuk mengurus anaknya.

Perubahan –perubahan, seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya, biasanya adalah suatu proses yang terjadi secara perlahan dan bertahap. Biasanya banyak juga yang tidak menyadari bahwa semakin lama semakin banyak hal yang biasa mereka lakukan untuk membina hubungan menjadi semakin jarang untuk dilakukan.

Apakah fokus ke hal baru berarti sepenuhnya salah? Tentu saja tidak, apalagi perubahan adalah sesuatu yang pasti.  Akan tetapi, fokus ke hal lain/baru untuk dicapai juga SAMA PENTING-nya dengan membina hubungannya.

Alasan kedua kenapa hal berubah adalah karena adanya belief, nilai dan harapan. Pada saat pasangan memasuki dunia pernikahan, masing – masing pihak memiliki bayangan tertentu mengenai suatu perkawinan. Termasuk di dalamnya mengenai belief, nilai-nilai, dan harapan masing-masing mengenai seperti apa itu kehidupan perkawinan.

Dengan adanya belief, nilai-nilai, dan ekspektasi terhadap perkawinan, seseorang menjadi tahu apa yang bisa ia lakukan sebagai pasangan. Lalu kalau tahu apa yang perlu dilakukan masalahnya dimana ya? Biasanya masalah terjadi karena belief, nilai – nilai, dan harapan pada setiap orang tidak sama. Mengenai ekspektasi bisa baca artikel disini ya. Atau cek @twitpranikah dengan tagar #ekspektasi

Teman Pranikah mungkin bertanya-tanya kenapa ya perbedaan-perbedaan ini tidak terpikirkan sebelum menikah. Pertama, karena memang belum menikah tentunya. Kedua, belief, nilai-nilai, dan harapan teman Pranikah merupakan bagian dari diri sehingga tidak dikomunikasikan atau kalaupun ada perbedaan dianggap tidak/belum penting untuk dibahas.

Padahal dalam pacaran juga ada perubahan lho. Dan adanya perubahan biasanya melibatkan perubahan ekspektasi juga. Misalnya, pada saat masih PDKT, ekspektasi-nya si dia jadi pasangan. Ketika sudah jadi pasangan, ekspektasi juga berubah. Berharap lebih bisa punya waktu bersama, intensitas dan frekuensi menghubungi via telepon/sms/bbm/whatsapp/line juga diharapkan lebih dari sebelumnya.

Jadi apa yang bisa dilakukan?

  1. Sadari bahwa cara orang dalam berpikir, berperilaku, nilai – nilai dan kebiasaan setiap prang berbeda dalam menghadapi perubahan.
  2. Realistis. Tidak memaksakan bahwa setiap orang adalah sama seperti kamu.
  3. Menerima bahwa kamu dan pasangan adalah orang yang berbeda.
  4. Mengenali bahwa kehidupan itu tidak stagnan, yang membutuhkan adanya fleksibitas dan toleransi.
  5. Sadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti dan perubahan dapat mempengaruhi interaksi pasangan, baik itu perubahan yang menyenangkan maupun tidak.
  6. Berhenti untuk fokus pada kesalahan atau apa yang pasangan lakukankan/tidak lakukan. Imbangi dengan memikirkan apa yang pasangan lakukan dengan baik selama ini.
  7. Saat sedang bertengkar karena adanya perubahan, ingat dan rasakan lagi perasaan menyenangkan yang pernah kamu dapat saat bersama pasangan. Saat sedang marah tentu saja tidak mudah, tapi ini bisa membantu kamu untuk tidak terfokus pada kekurangan/kesalahan pasangan saja. Pasangan juga manusia, sama seperti kamu, yang bisa melakukan kesalahan.
  8. Bicarakan ketika ada perubahan/hal yang membuat kamu merasa tidak nyaman dengan pasangan. Perasaan dari peristiwa menyenangkan tadi bisa membantu kamu juga untuk berpikir lebih jernih dan menghadapi permasalahan dengan lebih baik.

Ingat bahwa setiap orang memiliki persepsi masing – masing dalam melihat dunianya. Ketika kamu menggunakan kacamata dimana semua hal perlu dikritisi, maka kamu akan melihat bahwa segala hal yang dilakukan pasangan itu salah. Tapi, ketika kamu memakai kacamata bahwa ada hal – hal yang bisa dihargai atau disyukuri, kamu akan lebih melihat apa yang pasangan kamu sudah lakukan dengan baik ketimbang kekurangannya.

Begitu juga dengan melihat perubahan. Setiap orang memiliki persepsi sendiri mengenai perubahan. Makanya penting untuk dikomunikasikan. Bagaimana kamu berkomunikasi, tergantung dari bagaimana kamu menggunakan kacamata yang mana? Mau fokus kepada perubahan yang bisa menghancurkan hubungan, atau fokus kepada yang bisa dilakukan agar dengan perubahan yang ada hubungan tetap berkualitas. Kamu yang pilih.

So, what lenses will you wear today?

 

 

Tags:

2 Comments »

  • Della Utomo says:

    bagaimana dengan hal “masih sulit untuk percaya kembali” jika pasangan melakukan suatu kesalahan besar , meminta maaf , dimaafkan tapi masih sulit untuk membangun kepercayaan yang selama ini kita beri kepasangan ?

    • Wulan Ayu says:

      Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa membangun kembali kepercayaan setelah adanya “kesalahan besar” adalah sesuatu yang mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Semua pilihan berada di tangan mbak Della apakah mau membangun kepercayaan lagi atau tidak. Jika mbak Della sudah memutuskan untuk au belajar percaya lagi, maka lakukanlah. hal ini membutuhkan kerjasama antara mbak Della & pasangan. Akan banyak benturan selama proses-nya, akan ada masa tidak percaya lagi, dsb. Sadari bahwa itu adalah proses. Banyak hubungan justru semakin kuat setelah melewati “badai” ini setelah mereka belajar dari apa yang terjadi pada diri mereka. selamat melewati badai dalam hidup mbak Della. Hubungi profesional jika dibutuhkan.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


8 + 6 =