Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Pasangan Posesif Tanda Sayang

Submitted by on February 1, 2013 – 6:30 pm2 Comments

Tidak jarang dalam suatu hubungan seseorang merasa senang ketika pasangannya bersikap posesif. Posesif dianggap sebagai cara pasangan untuk mengatakan “aku tidak mau kehilangan kamu”. Meskipun demikian, posesif bisa juga memiliki arti yang lain.

Ada beberapa tanda posesif yang sebenarnya terjadi bukan karena sayang, tetapi bisa karena hal lain.

  • Menelepon atau memberi kabar

Hal pertama yang (seringkali) terlihat biasa saja adalah menelepon atau memberi kabar. Pasangan meminta kamu untuk memberi kabar  setiap saat, seperti saat berangkat dan pulang bekerja, berpindah tempat, atau kemanapun kamu pergi tanpa ada pasangan  Saat ini terjadi, kamu mungkin berpikir bahwa dia sayang kamu dan ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dan saya setuju bahwa banyak juga yang melakukannya karena benar-benar murni karena sayang dan memastikan keadaan kamu.

Perbedaannya adalah bagaimana reaksi pasangan ketika kamu tidak melakukannya?

Kebanyakan pasangan yang posesif akan sangat marah, dan mengemukakan bahwa ia sangat khawatir. Dan ketika mengulanginya kembali, ada kemungkinan dia tidak hanya marah tapi mulai menuduh kamu berselingkuh atau bertemu dengan pria lain.

Saat kamu sudah melakukannya beberapa kali dan melihat bagaimana reaksi pasangan,  kamu akan segera mengetahui mana reaksi yang benar-benar khawatir dengan keselamatan kamu atau itu adalah keposesifan untuk memenuhi ego-nya sendiri.

  • “Kamu hanya untuk aku”

Kecenderungan orang yang posesif berlebihan adalah mereka tidak mau berbagi dengan orang lain. Kasus sederhana yang banyak terjadi, ketika sedang berjalan di sebuah mall dan ada laki-laki/perempuan yang melirik kamu, pasangan akan merasa terancam dan membuat gesture yang mengatakan “dia punyaku” atau pada kasus yang lebih serius dia bisa menuduh kamu “naksir” laki-laki/perempuan tersebut.

Jika hal ini didiamkan, lama-kelamaan dia akan membuat kamu terisolir dari lingkungan kamu. Kamu tidak boleh bermain dengan teman-teman kamu, bahkan dalam kasus pernikahan ada juga yang tidak mengijinkan pasangan bertemu dengan orang tuanya. Dan saat kamu tetap pergi bersama teman-teman dia akan membuat kamu merasa bersalah karena telah meninggalkan dia untuk bersama dengan orang lain.

  • Mengecek semua barang pribadi kamu

Pasangan yang posesif biasanya tidak memberikan ruang pribadi bagi pasangannya. Ia seringkali mengecek telepon genggam kamu dan melihat siapa yang berhubungan dengan kamu, ia juga mengecek semua email, facebook, twitter, dan akun pribadi kamu lainnya. Ketika ada yang menurut dia mencurigakan, ia akan membuat tuduhan – tuduhan yang irrasional dan memicu pertengkaran

3 (tiga) hal di atas hanya beberapa contoh dari banyaknya tanda-tanda pasangan posesif. Keposesifan pasangan akan membuat kamu merasa seperti “dipenjara” ketimbang untuk merasa nyaman dalam hubungan.

Hal yang perlu diwaspadai adalah, orang yang posesif sangat mampu untuk melakukan apapun untuk mempertahankan apa yang ia pikir ia miliki, termasuk melukai diri sendiri maupun orang lain. Jika kamu memiliki pasangan seperti ini dan merasa tidak ingin kehilangan dia, kamu bisa menyarankan untuk membuat batasan dan atau melakukan konseling pasangan. Jika dia menolak untuk melakukannya, keputusan semua berada di tangan kamu. Is always better to be safe than sorry.

 

Tags:

2 Comments »

  • kania says:

    Mbak, apakah semua ciri” keposesifan tersebut akan selalu mengarah menjadi pelaku kekerasan? thx

    • Wulan Ayu says:

      Tidak selalu, tapi memiliki potensi yang besar. Ciri khas dari terjadinya kekerasan adalah adanya dominasi yang dapat menyebabkan adanya perasaan tidak berdaya, terisolasi dari lingkungan pada korban. Perlu diingat bahwa kekerasan tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga psikologis, salah satu bentuknya adalah posesif yang berlebihan.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


− 5 = 1