Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Medis

Menikah perlu berdaya kesehatan?

Submitted by on February 11, 2013 – 11:52 amNo Comment

Menikah perlu berdaya kesehatan? Apa maksudnya berdaya kesehatan? Lalu apa hubunganya dengan menikah?

Berdaya kesehatan, seperti dengan halnya berdaya di bidang lain adalah dapat melakukan upaya kesehatan (terutama promotif dan preventif) sampai tahap tertentu secara mandiri. Kok harus mandiri? Harus dong, upaya kesehatan promotif (meningkatkan derajat kesehatan) dan preventif (pencegahan) yang utama ada di tangan kita, sebagai si pemilik kesehatan.  Lagipula, kita semua tahu, kesehatan itu penting sekali, walau baru terasa pentingnya di saat kita sakit. Tanpa kesehatan kita dapat terhalang untuk beraktivitas dan berkarya sesuai kehendak kita.

Upaya promotif dan preventif kesehatan di antaranya adalah kebersihan, pola makan sehat, gaya hidup sehat, istirahat cukup, menjadi pasien yang cerdas/berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi. Kalau dilihat apa saja yang perlu dilakukan, betul bukan bahwa semua itu ada di tangan kita?

Lalu apa hubungan berdaya kesehatan dengan menikah? Kenapa ada tim dokter di @twitpranikah? Menikah adalah dasar terbentuknya keluarga. Kebiasaan baik atau buruk pertama-tama dikenalkan dalam keluarga. Kebersihan, pola makan dan gaya hidup adalah yang pasti kita kenal pertama kali dari keluarga.  Bagaimana kebiasaan kita terhadap kebersihan, pola makan dan gaya hidup pasti sedikit banyak dipengaruhi dengan bagaimana kita melihatnya di keluarga/rumah kita.

Penting banget lho bicarakan visi misi kita soal kesehatan dengan (calon) pasangan.  Jangan salah, perbedaan visi misi dalam hal kesehatan, bisa lho memicu pertengkaran suami istri dan bisa memicu masalah di bidang lain, seperti keuangan. Misal: suami terbiasa makan makanan rumahan, sementara istri lebih senang makan di luar.  Hal ini bisa memicu pertengkaran dan bila kebiasaan makan di luar yang terjadi dalam keluarga atau timbul masalah kesehatan akibat kebiasaan makan di luar yang tidak baik, tentu berdampak pada keuangan.  Dengan mampu menjaga kesehatan dan menjadi konsumen kesehatan yang cerdas, banyak lho dana yang bisa kita hemat .

Semakin jelas ya, bahwa berdaya alias “melek” kesehatan diperlukan dalam hidup berkeluarga, terlebih bila telah berhadapan dengan kehamilan dan anak.

Jadi apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk “berdaya kesehatan” sebagai persiapan membangung keluarga? Langkah pertama dan utama tentu: belajar dan belajar.  Belajar bersama dengan pasangan sangat membantu menyamakan visi misi berdua, tapi bila pun belum ada pasangan saat ini, mari tetap belajar agar ketika pasangan hadir, kita siap berbagi ilmu dengannya.

Belajar tentang apa?  yang amat penting tapi sering dilupakan karena mengganggap sudah tahu adalah belajar pola makan, gaya hidup sehat dan kebersihan  serta bagaimana mewujudkannya.  Dan jangan lupa, bukan hanya pola makan dan gaya hidup orang dewasa saja, pelajari bagaimana pola makan dan hidup sehat untuk anak.  Kita semua pasti ingin punya anak yang punya kebiasaan yang sehat bukan? Ayah dan ibu adalan tim guru sekaligus pemberi contoh yang pertama dan utama bagi si anak.

Yang pertama belajar tentang gaya hidup sehat.    Pencinta olahraga cenderung berasal dari keluarga yang punya kebiasaan olah raga yang baik.  Penikmat makanan rumahan cenderung lahir dari keluarga yang rajin memasak di rumah.  Para perokok cenderung berasal dari keluarga yang ada perokoknya  Hmm.. yang satu ini perlu dibicarakan secara sangat serius bagi mereka yang (calon) pasanganya adalah perokok.  Saya bagi pengalaman saya sedikit ya… Dulu, ketika masih pacaran suami saya perokok berat.  Saat melamar saya, kami bicarakan hal ini.  Dampak rokok, cara berhenti dan target berhenti kami bicarakan bersama.  Suami saya berhenti merokok total 3 bulan sebelum kami menikah dan puji Tuhan berlangsung hingga sekarang dan saya harap seterusnya karena kami punya 2 anak laki-laki.

Yang kedua: mari belajar tentang pola makan yang sehat (untuk anak dan dewasa) dan bagaimana mewujudkannya dalam keluarga. Mulai dari belajar bagaimana bisa sukses menyusui, mengenalkan makanan pendamping ASI alami rumahan yang sehat serta bagaimana untuk mempertahankan menyusui sampai usia 2 tahun, meyapih dengan cinta dan mengajari anak untuk punya selera dan kebiasaan makan yang sehat hingga kelak dewasa (masing-masing akan dibahas di artikel2 terpisah).

Yang ketiga, soal kebersihan,  kebersihan.. ini juga sering dianggap tahu dan tidak penting untuk dibahas. Masak iya gak bisa bedakan bersih dan kotor ? tapi yakin sudah punya persepsi yang benar dan sepaham dengan (calon) pasangan? Perlu gak sih mencuci tangan dengan sabun antibakteri? mengepel lantai dengan obat pel antibakteri? Benar gak sih harus beli AC antivirus ? Hmm… nanti ini akan jadi 1 artikel terpisah ya…

Selanjutnya (keempat) belajar tentang menjadi pasien yang berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi.  Kenapa juga mau menikah aja harus belajar semua itu? Kan tinggal pergi ke dokter?

Setelah menikah, yang terlintas tentu adalah kehadiran anak. Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas generasi penerus, anak-anak kita.  Kualitas anak pertama-tama ditentukan oleh kualitas kehamilanya bukan? Pernah dengar gerakan 1000 hari ? 1000 hari ini adalah untuk mempersiapkan kualitas generasi penerus yang baik, dimulai dari 3 bulan pra-konsepsi, alias 3 bulan sebelum hamil, selama masa kehamilan 9 bulan hingga usia anak 2 tahun (total 3 tahun alias 1000 hari bukan?).  Sejak pra kehamilan ini semestinya calon ayah-ibu sudah mendatangi layanan kesehatan (sebagai pasien) untuk mendapatkan arahan, suplementasi dan vaksinasi. Nantikan artikel berikut tentang hal ini ya… :-) (bikin penasaran)

Lalu, setelah hamil sudah pasti kita akan berhubungan secara rutin dengan tenaga kesehatan.  Penting sekali untuk punya pengetahuan yang baik tentang kesehatan kehamilan, persalinan dan anak agar kita dapat mengambil keputusan untuk diri kita sendiri berdasarkan informasi yang baik dan tidak sepihak (hanya dari dokter).   Untuk membantu terwujudnya layanan kesehatan yang baik, kita perlu jadi konsumen kesehatan yang kritis dan ikut bertanggung jawab.

Bagaimana penggunaan obat rasional dan vaksinasi berperan dalam kesehatan dan kualitas keluarga kita? Nantikan artikel khusus tentang 2 hal ini ya…  Hadduuuh ini artikel kerjanya cuman bikin orang penasaran.

Jangan lupa, langkah kedua setelah mempelajari semua hal di atas (yang akan dirinci dalam kultwit2 setiap senin selanjutnya) adalah komunikasikan dengan pasangan.  Masalah seputar kesehatan dapat memicu pertengkaran, tidak saja dengan pasangan tapi juga dengan keluarga besar, terlebih bila menyangkut kesehatan anak (cucu ).

Maaf ya teman-teman pra-nikah. Ini adalah artikel pembuka tentang mengapa kok kita sebaiknya melek soal kesehatan sebelum kita menikah dan semoga setiap senin teman2 setia mengikuti kultwit seputar kesehatan & keluarga

Dengan membangun keluarga yang sehat,  kita akan memiliki bangsa yang seha dan mampu berkarya. Yuk, kita mulai itu dari sekarang, dari sebelum kita menikah, sebelum anak hadir, sebelum sakit datang.

Tags: , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


− 7 = 2