Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Me Time for Better We Time;)

Submitted by on June 4, 2013 – 6:55 pmNo Comment

Sewaktu masih single, seringkali orang memiliki fantasi betapa senangnya kalau punya pasangan idaman hati. Betul tidak? 😀

Tapi, setelah pacaran mulai terasa “kok pasangan lebih suka menghabiskan waktu sama temannya ya?” “kok pasangan lebih perhatian sama mobilnya” “kok pasangan lebih perhatian sama kerjaannya?” dan sejuta “kok” lainnya. Yah, jangan heran karena setelah menikah puluhan tahun pun akan selalu ada “kok begini kok begitu”-nya kok. Karena dalam setiap tahap hubungan tentu saja akan ada perubahan (cek tagar #berubah di @twitpranikah)

METIMEKali ini kami tidak mau membahas tentang perubahan teman pranikah. Tapi, apa yang bisa dilakukan meskipun adanya perubahan hubungan tetap bisa berjalan dengan bahagia. Salah satunya adalah dengan punya waktu berkualitas dengan diri sendiri. Sesederhana itu? Iya J. Oia untuk memudahkan selanjutnya akan gunakan kata ‘me time’ saja ya.

Seringkali dalam sebuah hubungan dimana “saya” “kamu” menjadi “kita”, pasangan suka melupakan masih ada “saya” dan “kamu”. Padahal waktu “saya” dan waktu “kamu” juga penting dalam hubungan. Menurut psikolog Terri Orbuch, memiliki waktu berkualitas dengan diri sendiri di dalam sebuah perkawinan justru lebih penting ketimbang memiliki kehidupan seks yang baik.

Meskipun terdengarnya mudah, tetapi pelaksanaannya tidak selalu semudah itu lho teman Pranikah. Kenapa tidak mudah?

Menurut Orbuch, ‘me time’ terkait dengan gaya attachment teman Pranikah. Jika teman Pranikah memiliki gaya attachment yang secure, teman pranikah akan lebih nyaman untuk memiliki waktu untuk diri sendiri. Tetapi, untuk beberapa teman pranikah lain, ide untuk “sendiri” atau mengijinkan pasangan untuk menghabiskan waktu bersama teman atau hobi tanpa dirinya bisa jadi sesuatu yang menakutkan.

Apapun gaya attachment teman pranikah, perlu diingat bahwa peran “kita” dalam suatu hubungan sama pentingnya dengan “saya” dan “kamu”. Bahayanya kalau “kita” dominan, ada ekpektasi bahwa pasangan adalah satu-satunya orang yang memberi kebahagiaan, dan lama kelamaan seseorang bisa kehilangan identitas dirinya. Apapun yang dilakukan hanya didasari atas persetujuan pasangan atau selama ada pasangan. Pasangan juga bisa mejadi merasa terbebani dengan ekspektasi, yang bisa saja tidak konkrit atau terlalu ideal. Padahal salah satu ciri hubungan yang sehat adalah memberi kesempatan pasangan untuk mengembangkan diri sendiri juga. Dengan mengembangkan diri sendiri, kepercayaan diri meningkat yang akan terbawa dalam hubungannya juga sehingga teman Pranikah menjadi tidak mudah cemas dan takut. Lebih jauhnya lagi, anak yang percaya diri juga tumbuh dari orang tua yang percaya diri dalam mengasuh anak.

Masalah lain yang juga muncul adalah ketika waktu “saya” jadi lebih banyak ketimbang waktu “kita”-nya. Jika sewaktu pacaran saja sudah menjadi masalah, apalagi ketika menikah dengan masalah yang lebih kompleks. J Biasanya perempuan lebih banyak membutuhkan waktu untuk diri sendiri ketimbang laki-laki.

Meskipun ‘me time’  penting, namun, ada aturan mainnya, yaitu:

  • Pastikan bahwa teman pranikah dan pasangan sama – sama menyadari pentingnya ‘me time’ sebagai salah satu cara untuk tingkatka kualitas ‘we time’
  • Waktu untuk diri sendiri tidak dipergunakan sebagai pelarian dari masalah, tetapi sebagai cara untuk lebih mengenal dan mengembangkan diri sendiri.
  • Waktu berkualitas dengan diri sendiri harus dinikmati. Jangan sampai saat sedang memanjakan diri di salon atau mengutak – atik mobil, teman pranikah malah merasa bersalah kepada pasangan. Untuk itu, …
  • Jujur dan bicarakan secara terbuka dengan pasangan. Kapan teman pranikah membutuhkan waktu untuk sendiri, kemana, bersama siapa. Mandiri bukan berarti teman pranikah perlu berbohong atau menutup-nutupi.
  • Gunakan kata “sabtu nanti aku ingin pergi sama teman-temanku nonton bola ya sayang” ketimbang “aku lagi butuh waktu sendiri sama teman-temanku”. Meskipin terdengarnya mirip tetapi efeknya bisa beda. Nanti kita bahas lebih detail lagi tentang i-message ya.
  • Setiap pasangan memiliki pertimbangannya sendiri mengenai kapan dan berapa lama waktunya. Karena itu mengkomunikasikan kebutuhan untuk diri sendiri juga jadi penting. Sekalian belajar untuk negosiasi karena pada saat menikah nanti dan memiliki anak bisa saling membantu untuk penuhi kebutuhan ini. Misalnya, saat teman pranikah memanjakan diri ke salon, pasangan menjaga anak di rumah dan bisa bergantian waktunya dengan pasangan.

Jadi, memiliki waktu berkualitas untuk diri sendiri bisa membuat teman pranikah menjadi lebih santai, lebih bisa diandallkan dalam hubungan dan tentu saja memperkuat hubungan teman pranikah. Untuk yang alami situasi “kok” di atas, yuk ajak pasangan untuk diskusi. Ingatkan bahwa me-time penting dan ada aturan mainnya. 😉

 

 

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


7 − 3 =