Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Medis

Mau nikah? Yuk belajar soal kesehatan! (sharing pengalaman)

Submitted by on July 17, 2013 – 12:43 pmNo Comment

By F Monika B
Sehat itu murah, sakit itu mahal.. Tagline ini sering saya dengar bertahun-tahun yang lalu, bahkan seorang dokter telah menulis buku tentang hal ini. Tagline tersebut kira-kira sejalan dengan motto : Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Dalam tulisan saya kali ini saya akan coba membagi pengalaman saya menjadi konsumen kesehatan (istilah yang kurang populer di Indonesia , istilah yang lebih umum adalah pasien) sejak saya kecil hingga saat ini.

healthySemenjak saya kecil hingga kira-kira 5 tahun lalu saya tidak terlalu mempedulikan kedua tagline yang saya sebutkan di atas. Orang-orang terdekat di keluarga saya adalah tenaga kesehatan. Ayah serta beberapa Paman saya adalah dokter serta saudara-saudara dekat lainnya berprofesi sebagai perawat. Rumah saya memiliki apotek mini di mana obat-obatan cukup lengkap tersedia. Setiap sakit saya tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk bertemu dokter, bahkan kadang saya mengambil sendiri obat-obatan yang tersedia di apotek mini rumah saya tersebut. Pengalaman yang kadang saya sesali saat ini, karena dulupun saya sering sekali mengkonsumsi AB / Antibiotik untuk penyakit-penyakit Common Problems yang penyebabnya virus seperti Common Cold (awamnya di Indonesia disebut Selesma dan sering salah kaprah disebut Flu) , GE (Gastroenteritis meliputi muntah dan diare) dll.

Hubungan pasien dan dokter di pemikiran saya saat kecil adalah seperti hubungan guru dan murid dengan sistem pendidikan jadul/jaman dahulu, yaitu guru mengajar dan murid menuruti saja apa kata guru dan tidak perlu mengkritisi apa yang diajarkan oleh guru. Hal yang kedua dalam pemikiran saya dulu adalah dokter harus bisa menyembuhkan apapun penyakit pasien, pasien keluar ruang dokter harus membawa resep, apapun itu, dan mengkonsumsi obat-obatan serta vitamin/supplemen yang diresepkan oleh dokter. Tindakan pencegahan penyakit seperti Vaksinasi, mencuci tangan, menjaga kebersihan secara umum, memakai masker bila batuk dan pilek saya rasakan kurang sosialisasinya ketika saya kecil dulu.

Ketika saya berencana menikah saya tidak tahu bahwa sangat penting untuk melakukan persiapan kehamilan seperti melaksanakan Pre conception check up Serta saya dan suamipun tidak melengkapi Vaksinasi dewasa yang merupakan upaya yang amat sangat efektif dan efisien untuk mencegah infeksi pada kehamilan.

Pola pikir saya mulai berubah ketika anak pertama saya lahir. Anak pertama saya beberapa kali mengalami penyakit berat. Penyakit yang saya pikir ringan yaitu muntah menyemprot berulang dan konstipasi berat dianggap bukan masalah serius oleh dokter yang menangani anak saya karena anak saya dalam masa ASI eksklusif. Naluri saya sebagai Ibu mengatakan ada sesuatu yang salah dengan organ pencernaan anak pertama saya. Mulailah saya browsing, baca-baca soal kesehatan anak. Saya juga mulai melakukan 2nd opini , dan mulai memberanikan diri bertanya kepada dokter saat konsultasi, 2 hal yang baru saya lakukan. Ketika belum ditemukannya penyakit yang berhubungan dengan organ pencernaan anak saya, penyakit lain diderita anak saya yaitu pneumonia sedang-berat yang mengharuskan anak saya (saat itu umur 8 bulan) di rawat inap karena sesak nafas. Keluar RS kadar hb anak saya rendah sekali, kurang dari 9 dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga anak saya dicurigai menderita Thalasemia dan beberapa kali hasil tes darahnyapun menyatakan Suspect Thalasemia. Mulailah saya mencari informasi sebanyak-banyaknya dan hasil diskusi dengan dr ahli hematologi jalan terakhir untuk memastikan adalah dengan melakukan Tes DNA di Lembaga Eijkman.

Kunjungan saya ke Lembaga Eijkman bertemu dan berdiskusi dengan dokter di sana sangat berkesan karena untuk pertama kalinya saya melihat hal yang berbeda. Umumnya pasien dan dokter berhadap-hadapan dibatasi meja dokter berbentuk kotak, sementara di Lembaga Eijkman saya dan dokter duduk bersebelahan di meja bundar. Dokter di sana sangat detail menjelaskan (sebelumnya memeriksa anak saya) dan saya dapat bertanya sepuasnya. Hasil Tes DNA menyatakan anak saya negatif Thalasemia, membuat saya bernafas lega. Lega sebentar karena setelah itu dokter anak spesialis paru anak saya menyatakan anak saya menderita TB/Tuberkulosis. Kesalahan saya meng-iyakan saja pengobatan TB jangka panjang tersebut , tanpa sebelumnya dilakukan pemeriksaan mendalam serta dilakukan pemeriksaan penunjang (Skoring TB juga tidak dilakukan) , karena situasi yang tidak memungkinkan terjadinya diskusi dengan dsa tersebut.

Pasca pengobatan TB anak saya selesai, fokus saya melakukan 3rd dan 4th opini ke dsa ahli pencernaan. Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap (Barium Enema 2x serta biopsi), ternyata anak saya didiagnosis menderita Hirschprung Disease (HD) di mana sepanjang 15 cm usus besarnya tidak memiliki syaraf dan harus segera dioperasi, andai saja saya memiliki catatan lengkap saat anak saya lahir seperti apakah meconium keluar dalam 24 jam pertama maka diagnosis HD akan lebih mudah ditegakkan. Operasi HD dilaksanakan saat anak saya hampir berumur 1 tahun. Apabila dihitung-hitung sejak anak saya lahir bolak balik ke dokter, di rawat inap, menjalani operasi, biaya obat-obatan , biaya transportasi dan akomodasi digabungkan, maka biaya yang sudah dikeluarkan sangat besar, ditambah juga saya sering membawa anak-anak saya ke dokter anak walau penyakit yang diderita mereka hanya Common Problems/penyakit-penyakit umum pada anak yang umumnya disebabkan oleh virus seperti Common cold/batuk pilek, diare, dll . Apabila saya sudah jadi pasien/orang tua pasien yang cerdas sejak dini tentunya banyak biaya-biaya yang bisa dikurangi juga dari segi waktu serta tenaga bisa dialokasikan untuk hal-hal lain.

Setelah anak saya benar-benar pulih , mulailah saya memutuskan untuk lebih pro aktif menggali informasi mengenai kesehatan khususnya kesehatan anak, dan bersyukur saya bertemu komunitas yang peduli dengan kesehatan anak, memperjuangkan RUM (Rational Use of Medicine) atau pengobatan yang rasional berlandaskan EBM (Evidence Based Medicine) .

Seiring berubahnya pola pikir saya mengenai kesehatan, saya pun mulai memposisikan diri saya sebagai konsumen kesehatan. Karena saya akhirnya menyadari bahwa yang paling berkepentingan akan kesehatan dan kesejahteraan diri kita dan keluarga kita adalah kita sendiri. Konsep konsumen kesehatan jauh lebih pas dan menguntungkan bagi kedua belah pihak dibanding konsep “pasien”; kata pasien berkonotasi pasif, pasrah, seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan saya, sedangkan konsumen atau klien mencerminkan kondisi yang jauh lebih dinamis. Sebagai konsumen/klien, kemitraan dengan dokter akan terjalin erat karena kedua belah pihak sama-sama memiliki hak dan kewajiban. Konsumen kesehatan harus proaktif mempelajari kesehatan, sehingga bisa melakukan upaya preventif yang tepat. Oleh karena itu salah satu agenda utama saat itu adalah melengkapi Vaksinasi dewasa saya serta suami serta melengkapi Vaksinasi non wajib anak-anak saya beserta dokumen / tanda bukti / paspor Imunisasinya.

Akhir-akhir ini memang istilah RUM mulai cukup populer, bisa dilihat di berbagai social media seperti milis, Facebook dan twitter banyaknya permintaan info mencari dokter/tenaga kesehatan yang RUM. Sayangnya banyak konsumen kesehatan yang tidak paham, atau paham tapi tidak mau melaksanakan kewajibannya sebagai pasien/konsumen kesehatan yang merupakan mitra dokter/tenaga kesehatan. Memang bagi saya pribadi sebagai konsumen kesehatan merasakan perlu usaha yang lebih agar paham kapan perlunya menemui dokter, perlunya paham apa saja tanda-tanda kegawatdaruratan sehingga tidak juga menganggap kondisi klinis baik-baik saja padahal sudah mengalami kegawatdaruratan, meng-crosscheck diagnosis yang diberikan oleh dokter dengan tatalaksananya dari website kesehatan terpercaya serta buku-buku kesehatan umum, mencari informasi seputar obat-obatan dari website database obat-obatan terpercaya.

Di akhir tulisan saya, tidak bosan-bosannya saya mengajak semua pihak bergandengan tangan, terutama para konsumen kesehatan untuk mulai mengubah pola pikirnya menjadi konsumen kesehatan yang cerdas dengan berbagai manfaat yang akan didapat baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


3 − 1 =