Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

I Message

Submitted by on November 27, 2013 – 8:13 amNo Comment

Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

  1. Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!
  2. Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini.

conversation

Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat A, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda. Kenapa? Karena kalimat A cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.

 

Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’. Pssst, sudah rahasia umum di kalangan mereka yang paham bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya…’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.

Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah. Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.

 

‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘kamu’sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat pasangan kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah. Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.

 

So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.

 

I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’. Contohnya, “Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, kamu menelpon saya tanpa henti.” Contoh lain, “Saya cemas kamu memikirkan mantanmu ketika saya tak sedang bersamamu.”

 

Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap pasangan kita, tidak menyalahkan pasangan kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.

 

Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan pasangan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kesedihan kita. Pasangan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita sedih, iapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Keterus-terangan adalah bagian penting dari suatu hubungan kan?

 

Salah satu cara terbaik untuk menggunakan I message adalah XYZ statement. Caranya begini: sebut perilaku X, di situasi Y, dan perasaan Anda Z. Contohnya, “Ketika kamu marah-marah lewat BBM (X) saat saya terlambat menjemputmu minggu lalu (Y), saya merasa kesal sekali (Z).” Contoh lain, “Saya terus terang merasa malu sekali (Z) ketika kamu berteriak di halte (X) memarahi ibu penjual makanan itu (Y).”

 

Cobalah melakukannya dengan bahasa yang paling sesuai dengan Anda. Contohnya, jika Anda biasa mengganti diri dengan sebutan ‘Ayang’, katakan saja ‘Ayang’, bukan dengan sebutan lain yang tidak familiar.

 

Merasa aneh melakukannya? Yup, tentunya sulit untuk melakukan ini, ketika belum terbiasa. Pasangan Anda juga mungkin belum terbiasa, sehingga responnya bisa jadi tak sesuai harapan. Namun kalau jaminannya adalah komunikasi yang lebih berkualitas dan hubungan yang lebih baik, masa sih Anda nggak mau mengusahakannya? (ASA)

 

Darrington, J., & Brower, N. (2012). Effective Communication Skills: “I” Messages and Beyond. Utah State University.

Miller, Rowland S. (2012). Intimate Relationship, 6th ed. New York: McGraw-Hill International Edition.

Tags: , , , , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


7 − 1 =