Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Berapa lama pacaran sebelum menikah?

Submitted by on November 19, 2012 – 5:39 pmNo Comment

Sering sekali orang bertanya, berapa lama sih waktu untuk pacaran? Ada yang bilang sekian bulan saja cukup, ada pula yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Nah, tapi berapa lama sebetulnya waktu ideal?

Secara singkat kita dapat mengatakan bahwa dibutuhkan minimal waktu 1 tahun, sebelum memutuskan apakah pacaran akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak. Jadi kalau mulai berpacaran di tanggal 1 Januari 2012, maka secepat-cepatnya pada tanggal 1 Januari 2013 diputuskan apakah mau menikah dengan dia atau tidak. Bukan berarti tanggal 1 Januari 2013 sudah menikah.

Mengapa dibutuhkan minimal 1 tahun? Ada beberapa alasan berikut ini, simak terus ya…..

Manisnya kesan pertama
Sudah jadi rahasia umum bahwa di awal hubungan, seseorang akan sanggup memberikan yang termanis sebagai kesan pertama, tapi seringkali tak sanggup mempertahankannya dalam bulan-bulan berikutnya. Contohnya, di minggu-minggu pertama atau bulan-bulan pertama, seringkali si lelaki sanggup mengantar jemput si perempuan walaupun rumah dan kantornya sangat jauh. Demikian pula si perempuan sanggup berdandan dan bertutur kata manis. Bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya? Kesan pertama cenderung memudar dan muncullah sifat asli. Perlu diingat, karena kita mengharapkan pernikahan terjadi sekali seumur hidup, maka kita akan hidup dengan sifat asli kita dan pasangan kita. Kalau perkenalan hanya mengenal kosmetik sifatnya, mampukah kita bertahan terus bersamanya?

Kelak kita hidup dengan sifat aslinya
Setelah kesan pertama usai, dan sifat asli muncul, yang jadi pertanyaan adalah mampukah kita bertahan dengan sifat aslinya? Perlu disadari bahwa bukan hanya sifat asli pasangan yang muncul, namun juga sifat asli kita. Sifat asli kita dan pasangan akan berinteraksi menghasilkan pola baru dalam relasi pacaran, dan kelak dalam relasi pernikahan. Pola baru inilah yang harus dikenali dan dipertimbangkan baik-baik, apakah kita semakin menikmati relasi dalam pola baru ini, atau justru semakin tidak menikmatinya. Jika semakin menikmatinya, mungkin saja dalam pernikahan kelak kita akan semakin bahagia. Tapi kalau di masa pacaran saja kita sudah tak menikmati, jauh lebih sulit mencapai kebahagiaan dalam pernikahan kita kelak.

Kenali orang-orang di sekitarnya
Ketika baru saja berkenalan dengan  si pasangan, kita mungkin hanya mengenal dia dan beberapa orang teman / keluarganya saja. Tapi pada saat menikah kelak, kita akan berinteraksi terus-terusan dengan banyak teman, kolega di kantor, juga keluarga besarnya. Protes? Hai, kita hidup di budaya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan bukan? Seperti juga mengenal pasangan, mengenal lingkungan sosial pasangan kita juga cenderung manis di awal dan lebih ketahuan aslinya setelah cukup lama berhubungan. Bisa saja lho kita sangat mencintai pasangan kita, tapi betul-betul merasa tak cocok dengan lingkungannya. Jika kasusnya seperti itu, mampukah kelak kita bertahan? Jawabannya harusnya sudah bisa kita prediksi sebelum pernikahan dilakukan.

Temukan potensi masalah
Dari interaksi dengan si calon pasangan dan orang-orang di sekitarnya, kita bisa menemukan berbagai potensi masalah. Ternyata tak cocok dengan kebiasaan merokoknya, kesal dengan kedekatan keterlaluan antara pasangan dengan ibunya, pasangan yang kelihatannya mandiri tapi ternyata sangat manja, itu sedikit dari calon-calon masalah yang mungkin terus mewarnai kehidupan pernikahan kelak. Potensi masalah ini biasanya belum terlihat di awal-awal pacaran, namun lebih jelas terlihat ketika semakin lama kita berinteraksi dengannya.

Belajar mengatasi masalah
Di awal-awal perkenalan, biasanya belum ada masalah besar. Oleh karena itu kemampuan kita dalam mengatasi masalah juga belum teruji. Berbeda ketika relasi sudah berjalan cukup lama, misalnya lebih dari 1 tahun, maka permasalahan yang terjadi semakin rumit. Cara kita mengatasi masalah pun seringkali berbeda dengan cara pasangan kita, dan hal ini perlu dipelajari bersama. Perlu pula dikenali apakah kita cukup sreg dengan gaya pasangan kita menghadapi masalah pribadi ataupun bersama.

Jadi pondasi pernikahan
Pacaran atau perkenalan serius bagaimanapun menjadi pondasi pernikahan. Jika pondasinya bagus, maka pernikahan cenderung lebih tahan goncangan. Namun kalau pondasinya baru saja dibentuk langsung dibangun gedung tinggi, belum tentu pondasi mampu menahannya kan? Berbagai masa manis dalam pacaran akan menjadi kenangan manis yang terus ingin diulang kelak ketika sudah lama menikah. Namun kalau masa-masa manis itupun singkat dan kurang berarti, betapa sulitnya kita mempertahankan pernikahan.   

Peramal kesuksesan pernikahan
Masa pacaran atau perkenalan serius harusnya bisa menjadi peramal apakah pernikahan kita kelak akan bahagia atau tidak. Jika diprediksi akan bahagia, maka sebaiknya dilanjutkan, namun kalau diprediksi terlalu bermasalah, bukankah sebaiknya ditangguhkan?

Bagaimana kalau si pasangan adalah teman lama? Bolehkah waktu tersebut dipersingkat? Jawabannya bisa ya atau tidak. Kalau teman lama ini memang sejak dulu dekat dengan kita, berarti kita sudah cukup mengenalnya. Tapi kalau sebetulnya teman lama ini teman jauh, tentu saja kita tak terlalu mengenalnya kan, mungkin hanya mengenal dia dari ‘kata orang’. Terus terang akan berbeda ketika kita mengenal si pasangan sebagai teman, dengan ketika kita mencoba lebih mengenalinya sebagai CALON PASANGAN kita. Jadi walaupun kita sudah lama mengenalnya, tetaplah berusaha berinteraksi dengannya sebagai calon pasangan, bukan sekedar sebagai teman lama.

Tidak punya waktu untuk mengenal lebih jauh? Harus buru-buru menikah karena ayah si pasangan sakit keras? Pasangan akan pindah ke luar negeri? Nggak papa kok menikah sebelum mengenal dia sebagai pasangan kurang dari 1 tahun. Tapi ingat, apapun yang terjadi dalam pernikahan, bertahanlah..

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


− 1 = 3