Hukum

Pahami segi Hukum dalam mempersiapkan pernikahan.

Keuangan

Cek pengaturan keuangan diri dan pasangan anda.

Medis

Bangun kebiasaan hidup sehat dan cegah penyakit.

Psikologi

Belajar berkomunikasi, memahami diri sendiri dan pasangan.

Umum

Topik-topik yang umum dan kira nya berguna untuk kita ketahui.

Home » Psikologi

Bahagia vs Tidak Bahagia

Submitted by on May 22, 2013 – 10:52 amNo Comment
Artikel berikut ini mungkin saja dirasa menampar. Tapi bukankah lebih baik kita tahu supaya bisa memperbaiki diri, daripada sok tahu tapi malah melakukan kesalahan?

Bener nggak kalau dibilang kayak gini: Salah satu kecemasan utama sebelum menikah (#CemasPranikah) bagi para pasangan adalah “Apakah pernikahan kami akan bahagia?”. Pertanyaan ini ternyata juga jadi pertanyaan para ahli lho. Mereka mencoba memprediksi pernikahan seperti apa yang akan bahagia, dan mana yang cenderung nelangsa atau menyedihkan.

happySadSalah satu ahli yang paling rajin meneliti tentang pernikahan bahagia adalah John Gottman. Ia memaparkan perbedaan antara pernikahan yang bahagia dan pernikahan yang tak bahagia. Kalau kita banyak melakukan hal-hal yang dilakukan mereka yang pernikahannya bahagia, sangat mungkin pernikahan kita kelak juga akan lebih bahagia. Sementara sebaliknya, kalau semakin banyak kita lakukan hal-hal yang dilakukan mereka yang pernikahannya tak bahagia, mungkin saja kita bertahan pada pernikahan yang membuat hidup jadi sengsara. Tak mau yang seperti itu kan?

Memangnya apa sih yang membedakan pernikahan bahagia dan tak bahagia? Coba simak kata John Gottman (1998, dalam DeGenova, 2008):

1.       Timbal balik komunikasi. Yang namanya berkomunikasi tentu timbal balik, pasangan mengatakan sesuatu dan kita meresponnya. Ternyata cara timbal balik komunikasi berpengaruh lho terhadap kebahagiaan kita.

a.       Dalam pernikahan bahagia, ketika pasangan kita mengatakan sesuatu yang positif, maka kita mengomentarinya dengan cara yang positif juga. Sementara ketika pasangan mengatakan sesuatu yang negatif, mereka yang pernikahannya bahagia tidak langsung memberikan respon, cenderung bersikap santai, atau mencoba memahami pasangannya.

b.      Dalam pernikahan tak bahagia, ketika pasangan kita mengatakan sesuatu yang positif, kita tak memberikan respon, atau menganggap itu biasa saja. Sementara itu mereka yang pernikahannya tak bahagia cenderung langsung membalas perkataan negatif pasangan mereka dengan perkataan yang negatif juga, atau memperlihatkan gerak-gerik atau raut muka yang negatif.  

2.       Interpretasi pesan. Ketika sedang bertengkar, terkadang kata-kata yang disampaikan pasangan menyakitkan hati kita. Contohnya nih, pasangan kita mungkin mengatakan, “Diam! Jangan ganggu aku lagi!” Cara kita menginterpretasi dan menanggapi pesan menyakitkan tersebut ternyata juga dapat berpengaruh terhadap kebahagiaan kita.

a.       Dalam pernikahan bahagia, ketika pasangan kita mengatakan kata-kata yang menyakitkan, kita tidak menyalahkan dia dan tak juga menyalahkan diri sendiri, namun berusaha untuk fokus mencari sumber permasalahannya, dan berusaha untuk mencari sisi lebih positif dari perkataan tersebut. Contohnya, kita bisa mengatakan dengan tenang, “Maaf, tadi kamu bilang apa? Mungkin aku salah dengar,” atau, “Oke, aku akan memberikan waktu untuk kamu menenangkan diri dulu. Nanti kalau kamu sudah selesai, silahkan lho menghampiri aku lagi.”

b.      Dalam pernikahan tak bahagia, si pendengar justru fokus pada rasa sakit hatinya, sehingga lebih mungkin membalas dengan kalimat atau gerak-gerik penuh kemarahan. Misalnya mengatakan dengan suara keras sambil berkacak pinggang, “Kamu tuh yang ganggu aku!”atau, “Ternyata kamu lebih suka kalau aku bicara sama orang lain daripada bicara sama kamu!”

3.       Interpretasi perilaku pasangan. Perilaku kita tak mungkin selalu manis, terkadang kita melakukan sesuatu yang dipandang negatif oleh pasangan kita. Namun cara kita menginterpretasikan dan merespon perilaku pasangan ternyata membedakan kebahagiaan kita lho.

a.       Pada pernikahan bahagia, ketika pasangan melakukan sesuatu yang negatif (misalnya marah meledak atau bicara kasar), kita menginterpretasikannya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja dan akan segera berlalu. Kita juga melihat perilaku negatifnya itu diakibatkan sesuatu di luar pasangan kita. Contohnya kita bisa berpikir bahwa ketika dia marah, mungkin karena terlalu lelah atau karena sedang mengalami tekanan di kantornya. Sementara itu, ketika pasangan melakukan sesuatu yang positif, kita menginterpretasikannya sebagai ‘memang itulah dia’.

b.      Pada pernikahan yang tak bahagia, ketika pasangan kita melakukan sesuatu yang negatif, kita justru mengartikannya sebagai ‘memang itulah dia’, dia egois, dia tak perhatian, dan sifat-sifat negatif lain. Sebaliknya ketika pasangan melakukan sesuatu yang positif, justru kita berpikir bahwa itu sesuatu yang sementara saja.

4.       Pola ‘menuntut-menarik diri’. Biasanya perempuan yang menuntut, sementara laki-laki mundur dan menarik diri. Jika pola ini ada, maka pernikahan cenderung kurang bahagia.

a.       Pada pernikahan bahagia, tuntutan diberikan secara wajar dan dikomunikasikan dengan cara yang tepat. Pasangannya mendengarkan, mengomunikasikan tuntutan tersebut, dan berusaha memenuhinya dengan dukungan penuh cinta dari ‘si penuntut’.

b.      Dalam pernikahan tak bahagia, yang satu memberikan tuntutan yang sulit dipenuhi, pasangannya malah menarik diri, komunikasi kurang berjalan, dan akhirnya keduanya frustrasi.

 

Nah, dari perbedaan-perbedaan yang disebutkan John Gottman, moga-moga cukup jelas bahwa pernikahan yang bahagia bukannya sama sekali tak punya kata-kata atau perilaku negatif. Tetap ada kok. Kita bahkan bisa mengatakan bahwa dalam semua pernikahan ada kata-kata negatif, ada banyak hal yang rentan membuat kita tak bahagia. Namun pasangan yang bahagia cenderung fokus pada hal-hal yang positif, dan berusaha mengembalikan kondisi menjadi lebih positif lagi. Sementara pasangan yang tak bahagia cenderung sibuk memperhatikan sisi negatifnya, rasa sakit hatinya, atau kemarahannya, sehingga akhirnya justru memperburuk kondisi.

 

Ini semua bukan keharusan, namun merupakan pilihan. Ingin pernikahan yang bahagia atau tidak? Jika selama ini Teman Pranikah punya kebiasaan berkomunikasi seperti yang terjadi pada pernikahan tak bahagia dan ingin jadi lebih bahagia, gimana kalau mulai sekarang berusaha keras mengubah diri? Ingat, perubahan itu harus dimulai dari kita, bukan dari menyalahkan orang lain.

 

Setelahnya ajak pasangan untuk membaca artikel ini, diskusikan langkah-langkah apa yang ingin dilakukan agar lebih berbahagia. Sulit berdiskusi? Mungkin Anda sudah butuh orang ketiga yang netral untuk menengahi Anda berdua.

 (Anna Surti Ariani)

Referensi:

DeGenova, Mary Kay. (2008). Intimate Relationships, Marriages & Families, 7th ed. New York:McGraw-Hill Companies.

Tags: , ,

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


+ 5 = 11