<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; psikologi</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/psikologi-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Rahasia Pernikahan Bahagia</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Oct 2013 05:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih rahasia pernikahan bahagia itu? Ternyata berkaitan erat dengan visi dan passion. Apa hubungannya ya? Temukan jawabannya di artikel ini. ]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/MP900442372.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-601" alt="MP900442372-300x199" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/MP900442372-300x199.jpg" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih kriteria utama kamu untuk pasangan hidup ideal? Baik hati? Jujur? Pekerja keras? Ganteng? Cantik dan berambut panjang? Atau jangan-jangan belum terpikir pasangan seperti apa yang bisa bikin kamu berkata<strong> &#8220;I want to spend my life time loving you&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang belum tahu, tenang saja.. Artikel ini ditulis untuk kamu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-599" alt="article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434.jpg" width="374" height="347" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rahasia Pernikahan Bahagia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam obrolan di group bbm tentang &#8216;memilih pasangan hidup&#8217;, teman saya yang sudah menikah empat tahun dan bahagia dengan pernikahannya, mengingatkan ke teman saya yang single:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;jangan lupa lihat visi hidupnya, sama gak sama lo. Bisa gak dia mendukung lo untuk ngelaksanain visi lo itu&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-598"></span>G, perempuan usia pertengahan 20 tahun, adalah seorang penulis skenario yang sangat passionate terhadap pekerjaannya. Selain menulis, dia juga mempunyai visi untuk memajukan kualitas tulisan di Indonesia secara umum. Dalam mewujudkan visi itu, dia dan suaminya mendirikan sekolah menulis. Semua kegiatan dijalankannya sambil menjadi ibu dari dua anak balita yang lucu. Dalam satu hari, ia bisa mengunjungi beberapa meeting. Di rumah pun, dia masih sesekali mengerjakan research untuk penulisan skenarionya. Bisa dibayangkan, kalau pasangannya tidak mengerti visi G, mungkin dia akan mengeluhkan kegiatan isterinya yang segudang itu. Namun, suami G yang juga penulis, memiliki visi yang sama dengan G. Mereka pun berkolaborasi, tidak hanya dalam membesarkan anak, tapi juga dalam mewujudkan visi mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar dari pengalaman si G yang sudah menikah dan bahagia, penting sekali punya pasangan yang satu visi dan mau mendukung kita untuk mencapai visi kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Visi dan Passion</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/20130113-030313.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-600" alt="20130113-030313" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/20130113-030313.jpg" width="614" height="461" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Visi itu adalah tujuan kita dalam hidup. Untuk merumuskan visi, kamu bisa tanya sama dirimu &#8220;Saya hidup untuk apa sih?&#8221;. Visi hidup orang beda-beda. Ada yang ingin jadi kaya, ada yang ingin karyanya dikenal orang, ada juga yang ingin berbagi sama orang lain. Visi hidup juga erat kaitannya dengan passion. Passion adalah sesuatu yang mau kamu lakukan tanpa mendapat keuntungan lain. Kenali passion kamu dengan menjawab Pertanyaan ini: “apa pekerjaan yang ingin kamu lakukan, kalau uang bukan masalah buat mu?”. Dalam contoh G, passion nya adalah menulis dan berbagi ilmu dengan orang lain. Passion itu sejalan dengan visi hidupnya dan sejalan juga dengan pekerjaannya sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau sudah tahu apa visi hidup kamu, sekarang coba gambar anak tangga. Di paling atas, tulis visi hidup kamu. Misalnya: visi kamu &#8220;menjadi sutradara yang menghasilkan film Indonesia berkualitas&#8221;. Di paling bawah coba kamu tulis langkah apa yang harus kamu lakuin biar bisa wujudin visi itu. Di tangga atasnya, tulis langkah 2, sebagai kelanjutan dari langkah 1. Lanjut terus ke langkah 3, 4, 5 dan seterusnya, sampai visi kamu terwujud. Sudah kebayang kira-kira hidupmu lima tahun lagi bakal kayak apa?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau udah tahu visi kamu, coba dibicarakan dengan pasangan. Cerita cita-cita, visi hidup dan passion mu. Lihat reaksi dia. Kira-kira bakal mendukung atau menghambat?</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, coba kamu bayangin, orang seperti apa sih yang akan menunjang kamu buat mencapai visi itu? Orang yang ganteng? Pasangan cantik? Baik hati? Pekerja keras? Atau..?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau belum menemukan visi hidup kamu, gak apa-apa lho. Bisa jadi bahan diskusi dengan pasangan. Kamu juga bisa bereksplorasi untuk ketemu visi, sebelum kamu pilih pasangan dan menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk kamu yang udah nemuin, bisa cari tahu apa visi hidup pasangan. sehingga bisa saling mendukung. Jadi, apa visi hidup kamu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Terlihat Lebih Menarik? Pahami 4 Hal Ini Dulu</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2013 08:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daya tarik]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[tertarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-569 aligncenter" alt="r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" width="570" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Image Source: <a href="http://www.huffingtonpost.com/">Here</a></p>
<p>Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?</p>
<p>Serunya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli mencari tahu lewat penelitian ilmiah. Para ahli mengelompokkannya dalam beberapa bagian. Kalau sudah tahu, sangat mungkin kita bisa membuat diri kita jadi tampil lebih menarik lho!</p>
<p>Kamu merasa kurang menarik? Masih jomblo tanpa tahu kapan akan dapat pasangan? Gimana kalau kamu cek dulu artikel ini, siapa tahu setelahnya kamu jadi semakin tahu cara terlihat menarik di mata orang lain.<span id="more-568"></span></p>
<p><strong>FISIK</strong><br />
Orang bilang, kalau kita cantik atau tampan, orang lain pasti tertarik. Betul juga sih sebetulnya, tapi bukan hanya itu. Ada orang yang tertarik dengan tinggi badan, seringkali lelaki yang lebih tinggi dianggap lebih menarik, sementara perempuan terlalu tinggi dianggap kurang menarik jadi pasangan. Ada pula yang tertarik dengan lekuk tubuh sehingga lebih memperhatikan apakah orang yang dia taksir memiliki lekuk tubuh atau tidak.</p>
<p>Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan berambut panjang terlihat lebih menarik (Boynton, 2008; Knapp-Kline, dkk, 2005). Tak berarti perempuan harus memelihara rambut panjang demi terlihat menarik, karena seringkali yang dilihat adalah sehat atau tak sehat rambutnya. Bukankah kalau rambut panjang tapi si perempuan sering menggaruk kepalanya, jadi tak menarik kan?</p>
<p>Apakah harus tampil seksi atau perkasa? Tidak juga. Lelaki yang terlalu perkasa justru dianggap mengerikan oleh banyak perempuan, karena ada yang menganggap mereka kasar. Kurus juga tak selalu jadi jaminan akan dianggap menarik, karena terkadang diasosiasikan sebagai orang yang kurang sehat.</p>
<p>Secara umum, dari sisi fisik, mereka yang dianggap menarik adalah mereka yang cukup sehat tubuhnya. Berbagai penelitian (Perriloux dkk, 2010; Soler, 2003; Hinsz dkk, 2001, dll) menunjukkan bahwa wajah yang simetris dan tubuh terlihat sehat bisa jadi daya tarik luar biasa. Sehat artinya tak mudah sakit, kulit cukup terawat, rambut relatif sehat, juga beberapa ciri sehat yang lain. So, biar jadi lebih menarik, maka kita perlu peduli pada kesehatan kita kan!</p>
<p><strong>KEDEKATAN</strong><br />
Witing tresna jalaran saka kulina, demikian kata para tetua di daerah Jawa Tengah. Seringnya bertemu, menurut para peneliti, juga membuat kita tertarik pada orang lain lho. Tak usah kaget kalau kita tiba-tiba jatuh cinta pada teman sekantor, itu karena faktor kedekatan fisik juga karena merasa familiar dengan orang tersebut. Reis, dkk (2011) bahkan menegaskan bahwa seringnya kontak dengan seseorang bukan hanya membuat interaksi antara mereka jadi terasa lebih nyaman, namun juga membuat orang tersebut terlihat semakin menarik.</p>
<p>Nggak susah kan bikin kita terlihat menarik? Sering-seringlah bergaul, jangan terus menarik diri atau malu-malu. Bukan berarti harus pamer atau cari perhatian orang lho, lakukan sewajarnya. Tetaplah berusaha menjadi diri sendiri ketika sedang bergaul dengan orang lain. Selain akan terasa lebih mudah untuk jadi diri sendiri, kalaupun ada yang tertarik, itu karena dia melihat diri kita yang sebenarnya kan.</p>
<p><strong>KEPRIBADIAN</strong><br />
Yang dimaksud bukan barang-barang pribadi seperti mobil pribadi atau rumah pribadi lho. Kepribadian adalah bagaimana seseorang bertingkahlaku, berinteraksi dengan orang lain, menampilkan dirinya, atau mengambil pilihan-pilihan hidupnya.</p>
<p>DeGenova (2008) menyimpulkan dari beberapa penelitian bahwa lelaki yang dianggap menarik adalah mereka yang perhatian, penuh pengertian, jujur dan bisa dipercaya, dan sensitif. Lelaki juga dianggap menarik ketika terlihat percaya diri, cerdas, dan terlihat mampu memimpin. Lelaki ternyata punya pilihan yang berbeda, banyak lelaki yang suka dengan perempuan yang hangat, setia, jujur, punya rasa humor, dan cerdas. Di sisi lain, perempuan dan lelaki yang kasar, ceroboh, tak sensitif, labil, dan tak bertanggungjawab, sering dianggap sebagai orang yang tak menarik.</p>
<p>Tak menemukan orang yang sempurna? Tentu saja tak ada orang sempurna. Oleh karena itu, kita perlu menentukan dulu kepribadian seperti apa yang paling kita inginkan untuk jadi pasangan kita, mana yang kita anggap paling penting. Contohnya, kalau kita ingin pasangan yang cerdas, sabar dan setia, coba tentukan mana yang paling penting, mana yang nomor 2, nomor 3, dst. Misalnya kita punya 10 syarat, bagus kok jika orang yang kita taksir memiliki setidaknya 5-7 di antaranya. Kalau tak ada juga yang memenuhi syarat, jangan-jangan syarat kita terlalu berat.</p>
<p>Di sisi lain, susah-susah gampang untuk menjadi pribadi yang menarik. Namun kita tetap bisa mengusahakannya lho. Boleh kok untuk menargetkan diri jadi orang yang lebih hangat, setia, bisa dipercaya, penuh pengertian, perhatian, dan sifat baik lainnya. Cermati sifat apa yang sudah baik dalam diri kita, kembangkan itu.</p>
<p><strong>PENGARUH MASA LALU</strong><br />
Terkadang kita tak bisa menjelaskan mengapa kita tertarik pada seseorang. Nah, kabarnya, masa lalu sangat berperan, menentukan kepada siapa kita tertarik. Contohnya, kita seringkali tanpa sengaja memilih orang yang memiliki sifat yang sama dengan orangtua kita, baik sisi positif maupun negatifnya.</p>
<p>Kita juga terkadang tertarik dengan mereka yang membuat diri kita merasa lebih baik, misalnya mereka yang banyak memuji kita. Teman Pranikah tertarik dengan seseorang yang terlihat tak berdaya, selalu butuh dibantu, dan sangat tergantung? Mungkin karena kita ingin merasa dibutuhkan dan diinginkan. Ada pula yang tertarik dengan seseorang yang sangat diidolakan, misalnya orang yang memiliki semua sifat yang tidak kita miliki.</p>
<p>Nenek atau mama kita sering berkata bahwa kita harus ramah dan sopan? Rupanya orang yang banyak tersenyum, terlihat ramah, dan sopan juga dianggap lebih menarik kok. Tentu saja senyumnya tulus lho, bukan senyum yang dipaksakan keluar.</p>
<p>Memang sih, yang namanya ketertarikan atau daya tarik orang lain, sifatnya personal sekali. Tiap orang bisa punya selera yang berbeda, tergantung pengalaman hidupnya. Jadi kalau semua orang tertarik pada seorang idola, dan kita sama sekali nggak tertarik, nggak papa juga. PD aja punya pilihan sendiri. Bukankah kita yang paling tahu siapa orang yang layak mendapatkan perhatian kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p>DeGenova, Mary Kay. (2008). Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7th ed. New York:McGraw-Hill Companies.<br />
Miller, Rowland S. (2012). Intimate Relationship, 6th ed. New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siap Mental Menikah? Premarital Psychological Screening</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 17:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk sekolah dasar, atau memberikan berbagai stimulasi secara intensif agar anak segera siap ketika memasuki sekolah.</p>
<p>Ibu yang hamil juga kini diberi berbagai kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi orangtua, walaupun sebetulnya sejak ia hamil, iapun telah menjadi seorang ibu (bukankah dia disebut ‘ibu hamil’? Dan dia pun sudah menjalani prenatal parenting walaupun mungkin tak disadari). Persiapan menjadi orangtua misalnya adalah memahami proses kehamilan dan kelahiran, menyiapkan diri untuk menyusui, senam hamil, belajar cara pijat bayi, dan macam-macam lagi. Calon ayah juga</p>
<p>sangat diharapkan kehadirannya dalam pemeriksaan kehamilan maupun persiapan menjadi orangtua, agar kelak dapat bekerjasama dengan sang ibu.</p>
<p>Yang menarik, ketika bicara tentang persiapan menikah, sering yang dibicarakan orang hanyalah tentang persiapan akad atau resepsi pernikahan. Pasangan sering lupa bahwa sebetulnya ada berbagai persiapan lain yang jauh lebih dibutuhkan, agar kehidupan setelah pesta dapat berjalan dengan indah. Padahal pernikahan adalah rumah dari kehamilan, pertumbuhan anak, juga pertumbuhan orang-orang dalam keluarga tersebut.</p>
<p>Bicara tentang <em><strong>premarital health screening</strong></em> (Pemeriksaan Kesehatan Pranikah), maka ada 3 hal yang perlu kita cari tahu, yaitu:<span id="more-215"></span></p>
<ol>
<li>Kondisi kesehatan secara umum</li>
<li>Penyakit yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh</li>
<li>Penyakit yang diturunkan / genetik.</li>
</ol>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-219" title="family" alt="" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/family.jpg" width="165" height="111" /></p>
<p>Dari sisi psikologis, ada juga lho premarital screening, biasanya dilakukan oleh psikolog perkawinan, psikolog keluarga, atau psikolog klinis dewasa. Tujuannya pun mirip dengan premarital health screening, namun yang dicari tahu lebih ke arah kondisi kesehatan mentalnya, sehingga dapat kita sebut sebagai premarital mental health screening atau premarital psychological screening. Sebagai tambahan, psikolog juga perlu memeriksa kondisi kedua calon pengantin sebagai pasangan, untuk memahami pola relasi antara keduanya. Jadi apa saja yang dicari tahu dari pemeriksaan kondisi psikologis sebelum menikah? Ini dia:</p>
<ol>
<li>Kondisi psikologis masing-masing individu secara umum</li>
<li>Adakah gangguan psikologis yang mungkin akan mengganggu  kelak</li>
<li>Adakah kondisi psikologis yang mungkin diturunkan atau ‘ditularkan’ baik secara genetik ataupun lewat interaksi sosial</li>
<li>Kondisi relasi pasangan tersebut</li>
</ol>
<p>Apa sih tujuan premarital psychological screening? Lagi-lagi mirip kok tujuannya dengan premarital health screening:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan kematangan pribadi, sehingga lebih siap menikah. Dengan menuntaskan masalah pribadi, hidup kita jadi lebih ringan, kita juga lebih mampu mengolah masalah yang datang kelak.</li>
<li>Melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi masalah lebih besar.</li>
<li>Bisa mengambil keputusan sesuai nilai bersama yang telah dibicarakan sebelumnya.</li>
<li>Mampu menjalin interaksi yang jauh lebih sehat secara psikologis.</li>
</ol>
<p>Cara pemeriksaan psikolog bisa dengan menggunakan alat-alat tes psikologi, bisa sama ataupun berbeda dengan ‘psikotes’ yang selama ini dikenal masyarakat. Namun cara periksa yang paling utama adalah wawancara dan observasi, yang seringkali dilihat oleh awam sebagai ‘ngobrol doang’, namun sebetulnya terdiri dari banyak teknik.</p>
<p>Tulisan ini bukan berniat menakut-nakuti lho. Tim kami hanya ingin membuka fakta bahwa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah. Bukankah lebih baik kalau semua potensi masalah sudah diketahui, sehingga bisa dilakukan antisipasinya, daripada dibiarkan dan kelak jadi duri dalam daging pernikahan?</p>
<p>Nah, yuk kita bahas lebih detil. Apa saja sih kondisi psikologis individu yang dicari tahu? Ini beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Kepercayaan diri. Bagaimana sih tingkat kepercayaan diri masing-masing calon? Terus terang banyak sekali masalah bersumber tingkat PD. Contoh, perempuan A, cantik namun kurang PD. Ketika pasangannya memuji kecantikan orang lain, A mungkin langsung merasa kurang cantik. Efek baiknya sih mungkin saja dia mempercantik diri. Tapi seringkali muncul efek buruknya, misalnya jadi marah dan cemburu terhadap pasangannya, melabrak perempuan lain yang dipuji pasangan, menghabiskan terlalu banyak uang untuk mempercantik diri, dan lain-lain.</li>
<li>Kemandirian. Sudahkah masing-masing calon mampu memenuhi kebutuhan pribadinya? Ini bisa dalam hal keuangan ataupun kegiatan sehari-hari (misalnya bisa bekerja sendiri, atau bisa mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa bantuan). Contoh masalah, laki-laki B masih terus menggunakan fasilitas dari orangtuanya. Istrinya mungkin jadi malu terhadap keluarga asalnya, merasa terganggu dengan campur-tangan keluarga suami, justru terlalu dibatasi geraknya, dan berbagai kemungkinan lain.</li>
<li>Kemampuan komunikasi. Jangan salah, ternyata masih banyak lho orang dewasa yang masih kesulitan untuk mengemukakan idenya atau menceritakan masalahnya dengan cara sehat. Cara komunikasi yang kurang sehat misalnya memaksakan ide, terus bicara tanpa mendengarkan, atau kesulitan menceritakan perasaannya.</li>
<li>Efek masa lalu. Banyak orang memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Perlu dicari tahu seberapa jauh dia sudah menuntaskan isu masa lalunya. Dalam kehidupan berkeluarga, sudah jamak sekali isu-isu masa lalu kembali mewarnai hidup kita, dan ini bisa kembali mengingatkan sakit hati di masa lalu. Efek negatif yang sering terjadi misalnya orang ini menjadi terlalu defensif, mengalami stres dan depresi, jadi bertengkar dengan pasangannya, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>Lanjut, poin kedua. Adakah gangguan psikologis yang mungkin mengganggu kelak? Ini contohnya:</p>
<ul>
<li>Gangguan obsesif kompulsif/ obsessive compulsive disorder (OCD), misalnya mereka yang terus-terusan mencuci tangan karena cemas tangannya kotor, atau mereka yang bolak-balik mengecek kunci rumah atau mobil karena kurang yakin pada keamanan barangnya. Bayangkan kalau si calon sedang sibuk dan sangat butuh bantuan, eh pasangannya yang OCD malah berpuluh-puluh kali memeriksa kunci mobilnya, terganggu kan.</li>
<li>Insomnia, yaitu mereka yang kesulitan tidur. Bayangkan, si calon sudah sangat lelah setelah seharian mengurus anak yang sakit, dia ingin tidur, tapi pasangannya yang insomnia terus mengajaknya mengobrol atau menciptakan keberisikan karena tak bisa tidur.</li>
<li>Anorexia nervosa, mereka yang sangat berusaha menjadi kurus dan cenderung menolak makan. Bayangkan diundang ke acara keluarga besar yang dilakukan sepanjang hari (ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki acara adat yang makan waktu seharian bahkan lebih), kalau si pasangan yang mengalami anorexia nervosa menolak bahkan memuntahkan makanan yang disajikan, tentunya bisa menimbulkan kegemparan dalam keluarga besar.</li>
</ul>
<p>Gangguan psikologis yang mungkin diturunkan apa saja ya? Beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Depresi, kondisi sedih berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Orangtua yang punya riwayat depresi bisa menurunkan gangguan depresi, baik secara genetik ataupun lewat pola asuhnya yang cenderung menawarkan suasana sendu.</li>
<li>Skizofrenia / schizophrenia, secara awam disebut sebagai ‘gila’. Riwayat kegilaan itu bisa diturunkan lho secara genetik, tapi juga bisa diantisipasi.</li>
<li>Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa anak yang mengalami kekerasan di masa lalu terkadang menjadi individu dewasa yang justru jadi pelaku kekerasan.</li>
</ul>
<p>Itu baru beberapa lho. Masih banyak lagi kondisi pribadi yang bisa dicek dalam premarital psychological screening. Di luar kondisi pribadi, ada pula kondisi sebagai pasangan. Yang dicek contohnya:</p>
<ul>
<li>Kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi. Dicari tahu bagaimana cara pasangan ini saling mengomunikasikan hal-hal berat yang mereka alami. Kemampuan berkomunikasi ini kelak sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi berbagai masalah dalam hidup berkeluarga. Jika sebelum menikah pasangan hanya mampu mengomunikasikan hal-hal yang dangkal saja, mungkin mereka belum siap menikah.</li>
<li>Cara bertengkar. Mampukah pasangan bertengkar dengan sehat? Apakah pertengkaran yang pasangan lakukan dapat menyelesaikan masalah yang dialami? Pasangan yang belum pernah bertengkar, misalnya karena masa perkenalan yang baru sebentar sehingga belum menemukan masalah besar, harusnya lebih berhati-hati. Jangan sampai kaget kalau menemukan pasangannya bertengkar dengan cara yang sangat berbeda dari dirinya, sangat keras, atau bahkan terlalu lembut.</li>
<li>Relasi dengan keluarga besar. Sudah rahasia umum bahwa pernikahan di budaya Indonesia melibatkan keluarga besar. Dalam premarital psychological screening dicari tahu seberapa jauh pasangan mampu menerima dan diterima oleh keluarga besar, juga seberapa jauh keluarga besar menjadi sumber masalah bagi pasangan ini.</li>
</ul>
<p>Dari hasil pemeriksaan ini, psikolog akan memberikan pandangan tentang masalah apa saja yang mungkin timbul. Diberikan pula saran apa saja yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Jika calon pengantin menghendaki, maka dapat dilakukan terapi ataupun pelatihan untuk dapat mengatasi potensi masalah.</p>
<p>Sebetulnya ada begitu banyak hal lain yang perlu dicari tahu juga sebelum pasangan memutuskan untuk menikah, bukan hanya hal-hal di atas saja. Kalau Anda memutuskan tutup mata saja, itupun hak Anda lho. Yang penting bersikaplah dewasa ketika kelak menghadapi masalah.</p>
<p>Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, kecuali pernikahan dalam dongeng. Menyelesaikan banyak isu sebelum menikah bisa membantu untuk membuat ekspektasi jadi lebih realistis, dan akhirnya lebih mampu dicapai, dan akhirnya jadi jauh lebih bahagia. Itulah doa kami untuk teman-teman semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
