<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; pernikahan</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/pernikahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Putus!!</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/putus/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/putus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 May 2013 07:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[putus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[by: Anna Surti Ariani
Mumpung belum menikah, masih boleh dong Teman Pranikah pilih-pilih siapa pasangan yang paling tepat untuk diajak maju ke jenjang berikutnya. Kalau pasangan saat ini dianggap kurang oke, masih boleh lho untuk putus. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>by: Anna Surti Ariani</p>
<p><span style="font-size: medium"><span style="color: #000000"><span style="font-family: Calibri">Mumpung belum menikah, masih boleh dong Teman Pranikah pilih-pilih siapa pasangan yang paling tepat untuk diajak maju ke jenjang berikutnya. Kalau pasangan saat ini dianggap kurang oke, masih boleh lho untuk putus. Lebih baik putus dan sakit hati sekarang, daripada memilih pasangan yang salah dan bercerai kelak kan.</span></span></span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px">Biar ‘putus’ nggak terlalu menyakitkan, ada beberapa hal yang bisa dipikirkan. Coba yuk dicek saran dari Bataglia, Datteri, dan Lord berikut ini:<span id="more-424"></span></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/05/putus1.png"><img class="alignleft size-full wp-image-428" alt="putus1" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/05/putus1.png" width="278" height="218" /></a>Pikirkan secara jernih</span><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px"> mengapa Teman Pranikah ingin putus. Coba timbang baik-baik sisi positif maupun sisi negatif dari hubungan Teman Pranikah.</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px">Kalau Teman Pranikah </span><span style="text-decoration: underline">ingin bertahan, tapi bingung</span><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px"> karena ada masalah berat yang terus menerus terjadi, coba deh Teman Pranikah minta pendapat dulu dari orang lain yang dipercaya. Orang lain tersebut bisa teman, sahabat, orang yang dituakan, pemuka agama, konselor, ataupun psikolog. Jangan ragu-ragu, sekarang banyak lho pasangan yang belum menikah namun berkonsultasi secara serius agar mampu menuntaskan potensi masalah di kemudian hari. Ingat, apapun yang disarankan oleh orang yang dipercaya ini, pilihannya tetap di tangan Teman Pranikah. Bukankah yang akan menjalani nanti adalah Teman Pranikah sendiri?</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline">Diskusikan perasaan dan keraguan Teman Pranikah kepada pasangan</span><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px"> sejujur mungkin, tanpa menyalahkan dia (tanpa menyalahkan diri kita juga tentunya). Pasangan berhak tahu lho kenapa Teman Pranikah ingin mengakhiri hubungan. Usahakan agar keputusan untuk ‘putus’ adalah keputusan berdua. Kalau belum sepakat, mungkin perlu waktu tambahan untuk berdiskusi. Beberapa pasangan mengalami kesulitan untuk putus karena pihak yang satu belum setuju dengan pemikiran pihak lain. Usahakan tetap mendiskusikannya, bukan dengan bertengkar, marah-marah, ataupun memaksakan pendapat. Soalnya begini, kalau Teman Pranikah mampu mendiskusikannya, juga mampu mengambil keputusan bersama, maka ‘putus’ jadi tidak terlalu menyakitkan buat keduanya, keduanya juga mampu ‘move on’ lebih cepat. Selain itu, kemampuan mengambil keputusan bersama sungguh dibutuhkan kok kelak ketika berumahtangga. So, berlatihlah sejak sekarang dengan siapapun.</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline">Tak perlu merasa takut menyakiti pasangan</span><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px"> hanya gara-gara Teman Pranikah ingin mengajak diskusi tentang putus. Ketakutan menyakiti pasangan bukan alasan untuk meneruskan hubungan yang merugikan lho. Justru sangat mungkin pasangan akan lebih lega ketika Teman Pranikah mencoba mendiskusikan alternatif ini.</span></p>
<p><span style="text-decoration: underline">Putus dengan jelas dan tegas</span><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px">, tak perlu mencoba untuk nyambung lagi kalau akhirnya putus juga. Justru ‘putus-sambung’ yang akan membuat perasaan Teman Pranikah lebih terombang-ambing. Bukan berarti tak boleh berhubungan lagi. Cobalah kembali menjadi pasangan apabila Teman Pranikah sudah melakukan konseling atau telah betul-betul menyelesaikan masalah yang pernah terjadi. Ingat, menyelesaikan masalah, bukan melupakan masalah ya. Artinya sudah punya kesepakatan apabila masalah tersebut berulang, apa yang akan dilakukan berikutnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;font-family: Calibri;font-size: medium"> </span><span style="font-size: medium"><span style="color: #000000"><span style="font-family: Calibri">Jika pasangan Teman Pranikah secara sepihak memutuskan, Teman Pranikah punya hak untuk merasa marah dan sedih lho. Banyak orang yang pura-pura tegar setelah diputusin, yang akhirnya justru jatuh dalam masalah lebih besar.</span></span></span></p>
<p><span style="font-size: medium"><span style="color: #000000"><span style="font-family: Calibri">Masih oke kok untuk marah dan sedih selama beberapa hari sampai dua minggu, setelahnya segera ‘move on’ dong. Ayo cari pasangan baru lagi. Kalau kesedihan dan kemarahan masih berlanjut setelah 2 minggu, ada baiknya Teman Pranikah segera mencari psikolog atau psikiater karena mungkin mengalami depresi tingkat awal. Lebih baik disembuhkan segera daripada berkelanjutan.</span></span></span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px">Ingat ya, yang dibicarakan dalam artikel ini adalah pasangan yang belum menikah, jadi memang punya keleluasaan untuk putus ataupun tetap mempertahankan hubungan. Kalau sudah menikah? Tentu saja jauh lebih kompleks daripada yang diceritakan di sini.</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri;color: #000000;font-size: medium;line-height: 19px">Referensi:</span></p>
<p><span style="color: #000000"><span style="font-family: Calibri"><span style="font-size: medium">DeGenova, Mary Kay. (2008). </span><i><span style="font-size: medium">Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7</span><sup>th</sup><span style="font-size: medium"> ed.</span></i><span style="font-size: medium"> New York:McGraw-Hill Companies.</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/putus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahagia vs Tidak Bahagia</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/bahagia-vs-tidak-bahagia/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/bahagia-vs-tidak-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 03:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Bener nggak kalau dibilang kayak gini: Salah satu kecemasan utama sebelum menikah (#CemasPranikah) bagi para pasangan adalah “Apakah pernikahan kami akan bahagia?”. Pertanyaan ini ternyata juga jadi pertanyaan para ahli lho. Mereka mencoba memprediksi pernikahan ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="colabs-sc-box info  rounded ">Artikel berikut ini mungkin saja dirasa menampar. Tapi bukankah lebih baik kita tahu supaya bisa memperbaiki diri, daripada sok tahu tapi malah melakukan kesalahan?</div>
<p><span style="font-family: Calibri; color: #000000; font-size: medium; line-height: 19px;">Bener nggak kalau dibilang kayak gini: Salah satu kecemasan utama sebelum menikah (#CemasPranikah) bagi para pasangan adalah “Apakah pernikahan kami akan bahagia?”. Pertanyaan ini ternyata juga jadi pertanyaan para ahli lho. Mereka mencoba memprediksi pernikahan seperti apa yang akan bahagia, dan mana yang cenderung nelangsa atau menyedihkan.<span id="more-419"></span></span></p>
<p><span style="font-family: Calibri; color: #000000; font-size: medium; line-height: 19px;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/05/happySad.png"><img class="alignleft size-full wp-image-448" alt="happySad" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/05/happySad.png" width="250" height="121" /></a>Salah satu ahli yang paling rajin meneliti tentang pernikahan bahagia adalah John Gottman. Ia memaparkan perbedaan antara pernikahan yang bahagia dan pernikahan yang tak bahagia. Kalau kita banyak melakukan hal-hal yang dilakukan mereka yang pernikahannya bahagia, sangat mungkin pernikahan kita kelak juga akan lebih bahagia. Sementara sebaliknya, kalau semakin banyak kita lakukan hal-hal yang dilakukan mereka yang pernikahannya tak bahagia, mungkin saja kita bertahan pada pernikahan yang membuat hidup jadi sengsara. Tak mau yang seperti itu kan?</span></p>
<p><span style="font-family: Calibri; color: #000000; font-size: medium; line-height: 19px;">Memangnya apa sih yang membedakan pernikahan bahagia dan tak bahagia? Coba simak kata John Gottman (1998, dalam DeGenova, 2008):</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">1.</span>       <span style="font-family: Calibri;"><i><span style="font-size: medium;">Timbal balik komunikasi</span></i><span style="font-size: medium;">. Yang namanya berkomunikasi tentu timbal balik, pasangan mengatakan sesuatu dan kita meresponnya. Ternyata cara timbal balik komunikasi berpengaruh lho terhadap kebahagiaan kita.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">a.</span>       <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Dalam pernikahan bahagia, ketika pasangan kita mengatakan sesuatu yang positif, maka kita mengomentarinya dengan cara yang positif juga. Sementara ketika pasangan mengatakan sesuatu yang negatif, mereka yang pernikahannya bahagia tidak langsung memberikan respon, cenderung bersikap santai, atau mencoba memahami pasangannya.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">b.</span>      <span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: medium;">Dalam pernikahan tak bahagia, ketika pasangan kita mengatakan sesuatu yang positif, kita tak memberikan respon, atau menganggap itu biasa saja. Sementara itu mereka yang pernikahannya tak bahagia cenderung langsung membalas perkataan negatif pasangan mereka dengan perkataan yang negatif juga, atau memperlihatkan gerak-gerik atau raut muka yang negatif. </span><span style="font-size: medium;"> </span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">2.</span>       <span style="font-family: Calibri;"><i><span style="font-size: medium;">Interpretasi pesan</span></i><span style="font-size: medium;">. Ketika sedang bertengkar, terkadang kata-kata yang disampaikan pasangan menyakitkan hati kita. Contohnya nih, pasangan kita mungkin mengatakan, “Diam! Jangan ganggu aku lagi!” Cara kita menginterpretasi dan menanggapi pesan menyakitkan tersebut ternyata juga dapat berpengaruh terhadap kebahagiaan kita.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">a.</span>       <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Dalam pernikahan bahagia, ketika pasangan kita mengatakan kata-kata yang menyakitkan, kita tidak menyalahkan dia dan tak juga menyalahkan diri sendiri, namun berusaha untuk fokus mencari sumber permasalahannya, dan berusaha untuk mencari sisi lebih positif dari perkataan tersebut. Contohnya, kita bisa mengatakan dengan tenang, “Maaf, tadi kamu bilang apa? Mungkin aku salah dengar,” atau, “Oke, aku akan memberikan waktu untuk kamu menenangkan diri dulu. Nanti kalau kamu sudah selesai, silahkan lho menghampiri aku lagi.”</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">b.</span>      <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Dalam pernikahan tak bahagia, si pendengar justru fokus pada rasa sakit hatinya, sehingga lebih mungkin membalas dengan kalimat atau gerak-gerik penuh kemarahan. Misalnya mengatakan dengan suara keras sambil berkacak pinggang, “Kamu tuh yang ganggu aku!”atau, “Ternyata kamu lebih suka kalau aku bicara sama orang lain daripada bicara sama kamu!”</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">3.</span>       <span style="font-family: Calibri;"><i><span style="font-size: medium;">Interpretasi perilaku pasangan</span></i><span style="font-size: medium;">. Perilaku kita tak mungkin selalu manis, terkadang kita melakukan sesuatu yang dipandang negatif oleh pasangan kita. Namun cara kita menginterpretasikan dan merespon perilaku pasangan ternyata membedakan kebahagiaan kita lho.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">a.</span>       <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Pada pernikahan bahagia, ketika pasangan melakukan sesuatu yang negatif (misalnya marah meledak atau bicara kasar), kita menginterpretasikannya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja dan akan segera berlalu. Kita juga melihat perilaku negatifnya itu diakibatkan sesuatu di luar pasangan kita. Contohnya kita bisa berpikir bahwa ketika dia marah, mungkin karena terlalu lelah atau karena sedang mengalami tekanan di kantornya. Sementara itu, ketika pasangan melakukan sesuatu yang positif, kita menginterpretasikannya sebagai ‘memang itulah dia’.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">b.</span>      <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Pada pernikahan yang tak bahagia, ketika pasangan kita melakukan sesuatu yang negatif, kita justru mengartikannya sebagai ‘memang itulah dia’, dia egois, dia tak perhatian, dan sifat-sifat negatif lain. Sebaliknya ketika pasangan melakukan sesuatu yang positif, justru kita berpikir bahwa itu sesuatu yang sementara saja.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">4.</span>       <span style="font-family: Calibri;"><i><span style="font-size: medium;">Pola ‘menuntut-menarik diri’</span></i><span style="font-size: medium;">. Biasanya perempuan yang menuntut, sementara laki-laki mundur dan menarik diri. Jika pola ini ada, maka pernikahan cenderung kurang bahagia.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">a.</span>       <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Pada pernikahan bahagia, tuntutan diberikan secara wajar dan dikomunikasikan dengan cara yang tepat. Pasangannya mendengarkan, mengomunikasikan tuntutan tersebut, dan berusaha memenuhinya dengan dukungan penuh cinta dari ‘si penuntut’.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri; font-size: medium;">b.</span>      <span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Calibri;">Dalam pernikahan tak bahagia, yang satu memberikan tuntutan yang sulit dipenuhi, pasangannya malah menarik diri, komunikasi kurang berjalan, dan akhirnya keduanya frustrasi.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;"> </span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri;">Nah, dari perbedaan-perbedaan yang disebutkan John Gottman, moga-moga cukup jelas bahwa pernikahan yang bahagia bukannya sama sekali tak punya kata-kata atau perilaku negatif. Tetap ada kok. Kita bahkan bisa mengatakan bahwa dalam semua pernikahan ada kata-kata negatif, ada banyak hal yang rentan membuat kita tak bahagia. Namun pasangan yang bahagia cenderung fokus pada hal-hal yang positif, dan berusaha mengembalikan kondisi menjadi lebih positif lagi. Sementara pasangan yang tak bahagia cenderung sibuk memperhatikan sisi negatifnya, rasa sakit hatinya, atau kemarahannya, sehingga akhirnya justru memperburuk kondisi.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;"> </span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri;">Ini semua bukan keharusan, namun merupakan pilihan. Ingin pernikahan yang bahagia atau tidak? Jika selama ini Teman Pranikah punya kebiasaan berkomunikasi seperti yang terjadi pada pernikahan tak bahagia dan ingin jadi lebih bahagia, gimana kalau mulai sekarang berusaha keras mengubah diri? Ingat, perubahan itu harus dimulai dari kita, bukan dari menyalahkan orang lain.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;"> </span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri;">Setelahnya ajak pasangan untuk membaca artikel ini, diskusikan langkah-langkah apa yang ingin dilakukan agar lebih berbahagia. Sulit berdiskusi? Mungkin Anda sudah butuh orang ketiga yang netral untuk menengahi Anda berdua.</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000; font-family: Calibri; font-size: medium;"> (Anna Surti Ariani)</span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri;">Referensi:</span></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Calibri;"><span style="font-size: medium;">DeGenova, Mary Kay. (2008). </span><i><span style="font-size: medium;">Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7</span><span><sup>th</sup></span><span style="font-size: medium;"> ed.</span></i><span style="font-size: medium;"> New York:McGraw-Hill Companies.</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/bahagia-vs-tidak-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
