<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; pasangan</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/pasangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>I Message</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/i-message/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/i-message/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2013 01:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[#bicara]]></category>
		<category><![CDATA[#komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[#konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!
Saya sedih kamu ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?</p>
<ol>
<li>Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!</li>
<li>Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini.</li>
</ol>
<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-657" alt="conversation" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation-160x300.jpg" width="160" height="300" /></a></p>
<p>Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat A, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda. Kenapa? Karena kalimat A cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’. Pssst, sudah rahasia umum di kalangan mereka yang paham bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya&#8230;’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.</p>
<p><span id="more-625"></span></p>
<p>Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah. Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘kamu’sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat pasangan kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah. Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’. Contohnya, “Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, kamu menelpon saya tanpa henti.” Contoh lain, “Saya cemas kamu memikirkan mantanmu ketika saya tak sedang bersamamu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap pasangan kita, tidak menyalahkan pasangan kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan pasangan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kesedihan kita. Pasangan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita sedih, iapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Keterus-terangan adalah bagian penting dari suatu hubungan kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu cara terbaik untuk menggunakan I message adalah XYZ statement. Caranya begini: sebut perilaku X, di situasi Y, dan perasaan Anda Z. Contohnya, “Ketika kamu marah-marah lewat BBM (X) saat saya terlambat menjemputmu minggu lalu (Y), saya merasa kesal sekali (Z).” Contoh lain, “Saya terus terang merasa malu sekali (Z) ketika kamu berteriak di halte (X) memarahi ibu penjual makanan itu (Y).”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cobalah melakukannya dengan bahasa yang paling sesuai dengan Anda. Contohnya, jika Anda biasa mengganti diri dengan sebutan ‘Ayang’, katakan saja ‘Ayang’, bukan dengan sebutan lain yang tidak familiar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Merasa aneh melakukannya? Yup, tentunya sulit untuk melakukan ini, ketika belum terbiasa. Pasangan Anda juga mungkin belum terbiasa, sehingga responnya bisa jadi tak sesuai harapan. Namun kalau jaminannya adalah komunikasi yang lebih berkualitas dan hubungan yang lebih baik, masa sih Anda nggak mau mengusahakannya? (ASA)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darrington, J., &amp; Brower, N. (2012). <em>Effective Communication Skills: &#8220;I&#8221; Messages and Beyond.</em> Utah State University.</p>
<p>Miller, Rowland S. (2012). <i>Intimate Relationship, 6<sup>th</sup> ed.</i> New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/i-message/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Terlihat Lebih Menarik? Pahami 4 Hal Ini Dulu</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2013 08:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daya tarik]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[tertarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-569 aligncenter" alt="r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" width="570" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Image Source: <a href="http://www.huffingtonpost.com/">Here</a></p>
<p>Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?</p>
<p>Serunya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli mencari tahu lewat penelitian ilmiah. Para ahli mengelompokkannya dalam beberapa bagian. Kalau sudah tahu, sangat mungkin kita bisa membuat diri kita jadi tampil lebih menarik lho!</p>
<p>Kamu merasa kurang menarik? Masih jomblo tanpa tahu kapan akan dapat pasangan? Gimana kalau kamu cek dulu artikel ini, siapa tahu setelahnya kamu jadi semakin tahu cara terlihat menarik di mata orang lain.<span id="more-568"></span></p>
<p><strong>FISIK</strong><br />
Orang bilang, kalau kita cantik atau tampan, orang lain pasti tertarik. Betul juga sih sebetulnya, tapi bukan hanya itu. Ada orang yang tertarik dengan tinggi badan, seringkali lelaki yang lebih tinggi dianggap lebih menarik, sementara perempuan terlalu tinggi dianggap kurang menarik jadi pasangan. Ada pula yang tertarik dengan lekuk tubuh sehingga lebih memperhatikan apakah orang yang dia taksir memiliki lekuk tubuh atau tidak.</p>
<p>Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan berambut panjang terlihat lebih menarik (Boynton, 2008; Knapp-Kline, dkk, 2005). Tak berarti perempuan harus memelihara rambut panjang demi terlihat menarik, karena seringkali yang dilihat adalah sehat atau tak sehat rambutnya. Bukankah kalau rambut panjang tapi si perempuan sering menggaruk kepalanya, jadi tak menarik kan?</p>
<p>Apakah harus tampil seksi atau perkasa? Tidak juga. Lelaki yang terlalu perkasa justru dianggap mengerikan oleh banyak perempuan, karena ada yang menganggap mereka kasar. Kurus juga tak selalu jadi jaminan akan dianggap menarik, karena terkadang diasosiasikan sebagai orang yang kurang sehat.</p>
<p>Secara umum, dari sisi fisik, mereka yang dianggap menarik adalah mereka yang cukup sehat tubuhnya. Berbagai penelitian (Perriloux dkk, 2010; Soler, 2003; Hinsz dkk, 2001, dll) menunjukkan bahwa wajah yang simetris dan tubuh terlihat sehat bisa jadi daya tarik luar biasa. Sehat artinya tak mudah sakit, kulit cukup terawat, rambut relatif sehat, juga beberapa ciri sehat yang lain. So, biar jadi lebih menarik, maka kita perlu peduli pada kesehatan kita kan!</p>
<p><strong>KEDEKATAN</strong><br />
Witing tresna jalaran saka kulina, demikian kata para tetua di daerah Jawa Tengah. Seringnya bertemu, menurut para peneliti, juga membuat kita tertarik pada orang lain lho. Tak usah kaget kalau kita tiba-tiba jatuh cinta pada teman sekantor, itu karena faktor kedekatan fisik juga karena merasa familiar dengan orang tersebut. Reis, dkk (2011) bahkan menegaskan bahwa seringnya kontak dengan seseorang bukan hanya membuat interaksi antara mereka jadi terasa lebih nyaman, namun juga membuat orang tersebut terlihat semakin menarik.</p>
<p>Nggak susah kan bikin kita terlihat menarik? Sering-seringlah bergaul, jangan terus menarik diri atau malu-malu. Bukan berarti harus pamer atau cari perhatian orang lho, lakukan sewajarnya. Tetaplah berusaha menjadi diri sendiri ketika sedang bergaul dengan orang lain. Selain akan terasa lebih mudah untuk jadi diri sendiri, kalaupun ada yang tertarik, itu karena dia melihat diri kita yang sebenarnya kan.</p>
<p><strong>KEPRIBADIAN</strong><br />
Yang dimaksud bukan barang-barang pribadi seperti mobil pribadi atau rumah pribadi lho. Kepribadian adalah bagaimana seseorang bertingkahlaku, berinteraksi dengan orang lain, menampilkan dirinya, atau mengambil pilihan-pilihan hidupnya.</p>
<p>DeGenova (2008) menyimpulkan dari beberapa penelitian bahwa lelaki yang dianggap menarik adalah mereka yang perhatian, penuh pengertian, jujur dan bisa dipercaya, dan sensitif. Lelaki juga dianggap menarik ketika terlihat percaya diri, cerdas, dan terlihat mampu memimpin. Lelaki ternyata punya pilihan yang berbeda, banyak lelaki yang suka dengan perempuan yang hangat, setia, jujur, punya rasa humor, dan cerdas. Di sisi lain, perempuan dan lelaki yang kasar, ceroboh, tak sensitif, labil, dan tak bertanggungjawab, sering dianggap sebagai orang yang tak menarik.</p>
<p>Tak menemukan orang yang sempurna? Tentu saja tak ada orang sempurna. Oleh karena itu, kita perlu menentukan dulu kepribadian seperti apa yang paling kita inginkan untuk jadi pasangan kita, mana yang kita anggap paling penting. Contohnya, kalau kita ingin pasangan yang cerdas, sabar dan setia, coba tentukan mana yang paling penting, mana yang nomor 2, nomor 3, dst. Misalnya kita punya 10 syarat, bagus kok jika orang yang kita taksir memiliki setidaknya 5-7 di antaranya. Kalau tak ada juga yang memenuhi syarat, jangan-jangan syarat kita terlalu berat.</p>
<p>Di sisi lain, susah-susah gampang untuk menjadi pribadi yang menarik. Namun kita tetap bisa mengusahakannya lho. Boleh kok untuk menargetkan diri jadi orang yang lebih hangat, setia, bisa dipercaya, penuh pengertian, perhatian, dan sifat baik lainnya. Cermati sifat apa yang sudah baik dalam diri kita, kembangkan itu.</p>
<p><strong>PENGARUH MASA LALU</strong><br />
Terkadang kita tak bisa menjelaskan mengapa kita tertarik pada seseorang. Nah, kabarnya, masa lalu sangat berperan, menentukan kepada siapa kita tertarik. Contohnya, kita seringkali tanpa sengaja memilih orang yang memiliki sifat yang sama dengan orangtua kita, baik sisi positif maupun negatifnya.</p>
<p>Kita juga terkadang tertarik dengan mereka yang membuat diri kita merasa lebih baik, misalnya mereka yang banyak memuji kita. Teman Pranikah tertarik dengan seseorang yang terlihat tak berdaya, selalu butuh dibantu, dan sangat tergantung? Mungkin karena kita ingin merasa dibutuhkan dan diinginkan. Ada pula yang tertarik dengan seseorang yang sangat diidolakan, misalnya orang yang memiliki semua sifat yang tidak kita miliki.</p>
<p>Nenek atau mama kita sering berkata bahwa kita harus ramah dan sopan? Rupanya orang yang banyak tersenyum, terlihat ramah, dan sopan juga dianggap lebih menarik kok. Tentu saja senyumnya tulus lho, bukan senyum yang dipaksakan keluar.</p>
<p>Memang sih, yang namanya ketertarikan atau daya tarik orang lain, sifatnya personal sekali. Tiap orang bisa punya selera yang berbeda, tergantung pengalaman hidupnya. Jadi kalau semua orang tertarik pada seorang idola, dan kita sama sekali nggak tertarik, nggak papa juga. PD aja punya pilihan sendiri. Bukankah kita yang paling tahu siapa orang yang layak mendapatkan perhatian kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p>DeGenova, Mary Kay. (2008). Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7th ed. New York:McGraw-Hill Companies.<br />
Miller, Rowland S. (2012). Intimate Relationship, 6th ed. New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Cintamu Berubah?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 15:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Dalam artikel “Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?”, kita sudah membahas secara garis besar mengapa cinta bisa mengalami perubahan. Mau tahu lebih detilnya? Ayo, simak terus ya tulisan ini.
Jadi begini nih. Dengan usia yang bertambah, ternyata ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam artikel “<a href="http://pranikah.org/pranikah/?p=313">Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?</a>”, kita sudah membahas secara garis besar mengapa cinta bisa mengalami perubahan. Mau tahu lebih detilnya? Ayo, simak terus ya tulisan ini.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Jadi begini nih. Dengan usia yang bertambah, ternyata ada beberapa hal berubah, baik berubah secara alamiah maupun karena kondisi. Berikut ini beberapa di antaranya:</span></p>
<p><span id="more-316"></span></p>
<ul>
<li><strong>Perubahan fisik</strong>, sebagian besar terjadi secara alamiah. Perubahan fisik bisa menimbulkan perubahan juga dalam proses mencintai, terutama apabila perubahan fisik kurang disadari atau menimbulkan masalah.<a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/cintaCupid.png"><img class="alignright size-full wp-image-322" alt="cinta" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/cintaCupid.png" width="224" height="192" /></a>
<ul>
<li>Kekuatan fisik mereka yang beranjak dewasa berbeda jauh dengan kekuatan fisik lansia. Dengan demikian mereka yang menikah di usia sekitar 20 awal mungkin merasa santai saja mengerjakan berbagai hal sendirian, sementara mereka yang lansia sangat membutuhkan bantuan pasangan atau keluarganya. Jika sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendirian, lalu setelahnya jadi kesulitan karena tak kuat lagi, akan timbul kondisi-kondisi psikologis lanjutan. Contohnya perasaan minder, perasaan tak berguna lagi, perasaan kalah, perasaan tak dipahami, dan lain-lain. Semua perasaan ini kemudian mengubah cara kita menghadapi pasangan, dan perubahan kita akan direspon oleh pasangan dengan perubahan lain.</li>
<li>Berbagai penyakit kronis juga cenderung lebih banyak dialami mereka yang berusia lebih lanjut, sehingga mungkin saja pembicaraan sehari-hari diwarnai keharusan minum obat, pantangan makanan, atau keharusan melakukan olah fisik tertentu. Terkadang ini terasa melelahkan bagi pasangan, sehingga tak jarang menjadi sumber konflik.</li>
<li>Sebagian orang sudah peduli pola hidup sehat sejak muda, sementara sebagian orang lain baru ketika usia lebih lanjut. Perbedaan tingkat kepedulian pasangan terhadap pola hidup sehat lumayan rentan menimbulkan pertengkaran lho.</li>
<li>Kehamilan, masa nifas setelah melahirkan, dan proses menyusui mengubah bentuk dan fungsi tubuh. Beberapa ibu hamil harus mengalami bedrest atau resiko keguguran (tenang, persentasenya kecil kok) sehingga tidak bisa melakukan hubungan intim dengan suami. Suami dari ibu yang menyusui juga harus bergiliran dengan si bayi kan untuk ‘menggunakan’ payudara istrinya? Suami yang tidak memahami perubahan ini cenderung memaksakan hubungan intim, sehingga mengganggu relasi positif dengan istri.</li>
<li>Perubahan penampilan juga sering mengubah cara pandang kita terhadap pasangan. Misalnya yang tadinya kurus menjadi gemuk, yang tadinya sangat menarik karena berdandan cantik sekarang hanya berdandan seadanya, ada pula yang tadinya selalu wangi sekarang malas mandi, dan lain-lain.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Memiliki anak</strong>, terkadang mengubah cinta secara alamiah ataupun karena kondisi yang menyertainya, seperti berikut ini:
<ul>
<li>Merasakan adanya kebanggaan memiliki keturunan, yang merupakan hasil kerjasama antara suami dan istri. Kebanggaan ini seringkali meningkatkan kualitas cinta.</li>
<li>Kesibukan tambahan untuk mengurus anak. Anak yang terus-menerus bangun, butuh disusui, diganti popoknya, dicucikan bajunya, itu sebagian kecil kesibukan ketika anak masih bayi. Ketika sudah semakin besar, suami-istri perlu bekerja sama untuk menstimulasi dan mengajari anak berbagai hal. Ketika suami dan istri mampu bekerja sama dalam mengurus si kecil, cinta dapat semakin berkualitas. Sebaliknya pasangan yang kurang mendukung satu sama lain seringkali jadi punya masalah tambahan.</li>
<li>Tanggung jawab bertambah. Memiliki anak tentunya juga berarti membiayai anak, menyediakan waktu dan energi untuk mengurus anak. Lagi-lagi, pembagian tanggung jawab yang jelas akan meningkatkan cinta, dibandingkan pembagian tanggung jawab yang samar atau saling diperebutkan.</li>
<li>Waktu berdua berkurang. Akibat kesibukan mengurus anak, seringkali waktu suami-istri untuk berdua saja jadi berkurang. Beberapa pasangan merasa tak perlu lagi berduaan (dan terus terang pendapat ini salah besar!). Komunikasi hanya berkisar pada urusan anak dan seringkali akhirnya mereka berdua mengalami kesulitan menemukan cinta satu sama lain lagi.</li>
<li>Ikut campur dari keluarga besar untuk mengurus anak. Bukan hanya pasangan suami-istri yang berbahagia, keluarga besar pun ikut senang, dan itu seringkali ditunjukkan lewat ikut campur mengurus anak. Apabila keikutsertaan keluarga besar selaras dengan visi-misi suami-istri, tentu cinta akan bertambah.</li>
<li>Perbedaan cara mengasuh. Suami dan istri berasal dari keluarga yang berbeda, dan tentu saja jadi memiliki idealisme sendiri tentang bagaimana sebaiknya anak diasuh. Apabila idealisme keduanya bisa dipertemukan, maka suami-istri akan semakin kompak dan semakin cinta.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Pekerjaan</strong>, mampu memberikan eksistensi diri, namun terkadang juga memunculkan stress yang dapat berpengaruh terhadap relasi dalam keluarga.
<ul>
<li>Promosi, mutasi, demosi pekerjaan. Promosi dan mutasi seringkali memunculkan eustress, yaitu stress positif dan meningkatkan semangat kerja, dapat punya efek positif ataupun negatif terhadap keluarga. Demosi lebih sering memunculkan distress, yaitu stress negatif, efeknya lebih sering negatif terhadap keluarga dan pasangan.</li>
<li>Banyak sedikitnya tuntutan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi sering menimbulkan semangat kerja lebih tinggi, tapi terkadang juga memunculkan stress, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap bagaimana relasi kita dengan keluarga.</li>
<li>Pindah kantor, pindah bidang kerja. Perubahan kebiasaan kerja memang mampu memberikan semangat baru, tapi terkadang juga menimbulkan kecemasan tinggi bagi mereka yang berpindah kerja, ataupun bagi pasangannya.</li>
<li>Panjang pendek jam kerja di kantor. Jam kerja yang lebih panjang, apalagi kalau disertai waktu perjalanan yang juga panjang, menimbulkan kelelahan luar biasa. Kalau sambutan yang diterima di rumah kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, maka terkadang menimbulkan kemarahan.</li>
<li>Penghasilan yang diterima dari pekerjaan. Bukan besar kecilnya, namun seberapa dianggap cukup. Jika dianggap cukup atau bahkan lebih dari cukup, maka cenderung memuaskan. Sementara jika dianggap kurang, terkadang menimbulkan rasa kurang percaya diri terhadap pasangan. Pasangan yang tidak memahami terkadang justru memberikan tuntutan tambahan yang justru meningkatkan stress.</li>
<li>Kenalan lain dari lingkungan pekerjaan. Dalam bekerja tak mungkin kan sendirian saja, tentu kita berhubungan dengan banyak pihak lain. Terkadang terjadi <i>witing tresna jalaran saka kulina</i>, yaitu jatuh hati pada rekan kerja akibat terbiasa bertemu.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Kecelakaan, kematian</strong>.
<ul>
<li>Trauma yang dirasakan akibat kecelakaan atau kematian anggota keluarga sering mengubah cara kita melihat dunia, termasuk cara kita berhubungan dengan pasangan.</li>
<li>Adanya perubahan fisik, misalnya akibat kecelakaan menjadi kehilangan anggota tubuh, atau adanya kelumpuhan. Setelah kecelakaan terkadang ada fungsi tubuh yang jadi berkurang, misalnya menjadi tuli atau buta setelah terkena bom.</li>
<li>Kehilangan, memunculkan kesedihan yang amat sangat. Apabila pasangan tidak bisa mengendalikan perasaan kehilangan, seringkali berpengaruh negatif terhadap relasi.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Komunikasi</strong>.
<ul>
<li>Mudah sulitnya berkomunikasi, misalnya karena jarak yang jauh (long distance marriage) atau karena pasangan lebih banyak berada di lingkungan pekerjaannya. Apabila tak disikapi dengan dewasa, maka bisa jadi masalah besar.</li>
<li>Komunikasi yang terjadi nyambung atau tidak. Jika lebih sering ‘nggak nyambung’, cenderung menurunkan niat berkomunikasi dengan pasangan.</li>
<li>Pertengkaran yang pernah terjadi. Apabila diskusi setelah pertengkaran menghasilkan pemahaman yang lebih tinggi satu sama lain, biasanya pasangan jadi lebih saling mencintai. Namun apabila pertengkaran belum menemukan solusi terbaik buat keduanya, terkadang menimbulkan kekesalan dan tak jarang mengubah perasaan satu sama lain.</li>
<li>Kurang terbuka satu sama lain, termasuk mereka yang terbiasa memendam masalah, lama-lama api cintanya seakan padam.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Isu emosional</strong>.
<ul>
<li>Kebosanan. Dalam kehidupan pernikahan yang paling indah pun sesekali ada kebosanan. Namun apabila sering sekali terjadi kebosanan dan tak bisa diatasi oleh pasangan, tentu cenderung menurunkan semangat satu sama lain untuk terus bersama.</li>
<li>Dendam atau kemarahan yang belum tuntas, baik terhadap satu sama lain, terhadap masa lalu, maupun terhadap orang lain di sekitar keluarga. Semakin banyak dialami maka relasinya semakin negatif.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak sekali yang mungkin membuat relasi pasangan berubah? Ya, betul sekali. Jadi jangan berharap cintanya kepada kita akan terus sama. Mungkin bertambah, mungkin berkurang. Tantangannya adalah walaupun mengalami berbagai macam masalah dalam hidup, tapi kita dan pasangan tetap saling mencintai. Betul kan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p><em>Arnett, Jeffrey Jensen. (2012). Human Development: A Cultural Approach. Boston: Pearson Education, Inc.</em></p>
<p><em>Cavanaugh, J.C., Blanchard-Fields, F. (2011). Adult Development and Aging, 6<sup>th</sup> ed. California: Wadsworth.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 15:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[“Sekarang atau lima puluh tahun lagi
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu”
Ingat kan lagu yang dinyanyikan oleh kelompok musik Warna, dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara dan Raffi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>“Sekarang atau lima puluh tahun lagi<br />
Ku masih akan tetap mencintaimu<br />
Tak ada bedanya rasa cintaku<br />
Masih sama seperti pertama bertemu”</p>
<p>Ingat kan lagu yang dinyanyikan oleh kelompok musik Warna, dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara dan Raffi Ahmad? Buat Anda yang sedang pacaran, tentunya lagu ini terasa sangat romantis, menjanjikan kesamaan cinta dari tahun ke tahun, bahkan sampai lima puluh tahun yang akan datang. Beberapa orang yang sudah menikah, apalagi yang pernikahannya bermasalah, biasanya mendengarkan lagu ini dengan sinis, menganggap tidak mungkin terjadi kesamaan cinta seperti yang dinyanyikan dalam lagu ini.</p>
<p>Sebetulnya mungkin nggak sih untuk tetap mencintai setelah lima puluh tahun bersama? Tentu saja mungkin. Lalu, apakah mungkin punya cinta yang sama persis seperti pertama kali bertemu? Terus terang jawabannya adalah mungkin, tapi sangat sulit. Kenapa? Ada beberapa alasan yang sangat ilmiah di balik jawaban tadi, yaitu bahwa manusia berkembang.</p>
<p>Mungkin ada Teman Pranikah yang heran, masa sih orang dewasa berkembang? Bukankah yang berkembang hanyalah anak-anak? Betul, anak memang berkembang mulai dari bayi sampai remaja. Yang masih jarang diketahui orang, selama masa dewasa, manusia juga berkembang lho. Bahkan ada 4 tahap besar yang dialami oleh manusia dewasa (Arnett, 2012), yaitu:<br />
• Emerging adulthood, beranjak dewasa, yaitu mulai dari sekitar usia 18 tahun, pada kebanyakan orang berakhir di sekitar usia 25 tahun.<br />
• Young adulthood, dewasa muda, yaitu sekitar usia 25, ada ahli yang mengatakan berakhir di usia sekitar 35 tahun, ada pula yang menyebutkan di sekitar usia 40 bahkan 45 tahun.<br />
• Middle adulthood, dewasa madya, yaitu sekitar usia 40 tahun sampai sekitar usia 60 tahun.<br />
• Late adulthood, dewasa tua atau lansia, yaitu yang di atas usia 60-65 tahun. Dalam tahap inipun manusia masih terbagi jadi 3 tahap perkembangan: young-old (65-74 tahun), old-old (75-84 tahun), dan oldest-old (di atas 85 tahun).</p>
<p>Patokan usia di atas adalah relatif. Artinya tidak selalu mereka yang berusia 23 tahun pasti berada pada tahap emerging adulthood, bisa saja dibuktikan bahwa kematangan psikologisnya berada pada tahap young adulthood. Mereka yang berusia 38 tahun juga bisa saja masih di tahap young adulthood ataupun sudah di tahap middle adulthood.</p>
<p>Lalu kenapa kalau ada perkembangan di masa dewasa? Apa hubungannya dengan perubahan rasa cinta? Tentu ada hubungannya, karena tiap tahap perkembangan punya keistimewaan sendiri. Contohnya, kekuatan fisik mereka yang di tahap dewasa muda tentu berbeda dengan dewasa tua. Perkembangan lain seperti dalam aspek kognitif (kemampuan berpikir, keluasan wawasan, daya ingat, kemampuan konsentrasi, dll), aspek emosional dan aspek sosial, juga berubah. Mau tahu lebih detilnya, perubahan personal dan lingkungan apa saja yang kita alami? Baca artikel “<a href="http://pranikah.org/pranikah/?p=316">Mengapa Cintamu Berubah</a>” ya.</p>
<p>So, dengan adanya perubahan diri, mungkinkah cinta kita betul-betul sama seperti 50 tahun lagi? Silahkan menjawab sendiri, Teman Pranikah.</p>
<p>Referensi:<br />
Arnett, Jeffrey Jensen. (2012). Human Development: A Cultural Approach. Boston: Pearson Education, Inc.<br />
Cavanaugh, J.C., Blanchard-Fields, F. (2011). Adult Development and Aging, 6th ed. California: Wadsworth.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/jangan-pernah-berubah-sayang-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siap Mental Menikah? Premarital Psychological Screening</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 17:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk sekolah dasar, atau memberikan berbagai stimulasi secara intensif agar anak segera siap ketika memasuki sekolah.</p>
<p>Ibu yang hamil juga kini diberi berbagai kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi orangtua, walaupun sebetulnya sejak ia hamil, iapun telah menjadi seorang ibu (bukankah dia disebut ‘ibu hamil’? Dan dia pun sudah menjalani prenatal parenting walaupun mungkin tak disadari). Persiapan menjadi orangtua misalnya adalah memahami proses kehamilan dan kelahiran, menyiapkan diri untuk menyusui, senam hamil, belajar cara pijat bayi, dan macam-macam lagi. Calon ayah juga</p>
<p>sangat diharapkan kehadirannya dalam pemeriksaan kehamilan maupun persiapan menjadi orangtua, agar kelak dapat bekerjasama dengan sang ibu.</p>
<p>Yang menarik, ketika bicara tentang persiapan menikah, sering yang dibicarakan orang hanyalah tentang persiapan akad atau resepsi pernikahan. Pasangan sering lupa bahwa sebetulnya ada berbagai persiapan lain yang jauh lebih dibutuhkan, agar kehidupan setelah pesta dapat berjalan dengan indah. Padahal pernikahan adalah rumah dari kehamilan, pertumbuhan anak, juga pertumbuhan orang-orang dalam keluarga tersebut.</p>
<p>Bicara tentang <em><strong>premarital health screening</strong></em> (Pemeriksaan Kesehatan Pranikah), maka ada 3 hal yang perlu kita cari tahu, yaitu:<span id="more-215"></span></p>
<ol>
<li>Kondisi kesehatan secara umum</li>
<li>Penyakit yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh</li>
<li>Penyakit yang diturunkan / genetik.</li>
</ol>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-219" title="family" alt="" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/family.jpg" width="165" height="111" /></p>
<p>Dari sisi psikologis, ada juga lho premarital screening, biasanya dilakukan oleh psikolog perkawinan, psikolog keluarga, atau psikolog klinis dewasa. Tujuannya pun mirip dengan premarital health screening, namun yang dicari tahu lebih ke arah kondisi kesehatan mentalnya, sehingga dapat kita sebut sebagai premarital mental health screening atau premarital psychological screening. Sebagai tambahan, psikolog juga perlu memeriksa kondisi kedua calon pengantin sebagai pasangan, untuk memahami pola relasi antara keduanya. Jadi apa saja yang dicari tahu dari pemeriksaan kondisi psikologis sebelum menikah? Ini dia:</p>
<ol>
<li>Kondisi psikologis masing-masing individu secara umum</li>
<li>Adakah gangguan psikologis yang mungkin akan mengganggu  kelak</li>
<li>Adakah kondisi psikologis yang mungkin diturunkan atau ‘ditularkan’ baik secara genetik ataupun lewat interaksi sosial</li>
<li>Kondisi relasi pasangan tersebut</li>
</ol>
<p>Apa sih tujuan premarital psychological screening? Lagi-lagi mirip kok tujuannya dengan premarital health screening:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan kematangan pribadi, sehingga lebih siap menikah. Dengan menuntaskan masalah pribadi, hidup kita jadi lebih ringan, kita juga lebih mampu mengolah masalah yang datang kelak.</li>
<li>Melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi masalah lebih besar.</li>
<li>Bisa mengambil keputusan sesuai nilai bersama yang telah dibicarakan sebelumnya.</li>
<li>Mampu menjalin interaksi yang jauh lebih sehat secara psikologis.</li>
</ol>
<p>Cara pemeriksaan psikolog bisa dengan menggunakan alat-alat tes psikologi, bisa sama ataupun berbeda dengan ‘psikotes’ yang selama ini dikenal masyarakat. Namun cara periksa yang paling utama adalah wawancara dan observasi, yang seringkali dilihat oleh awam sebagai ‘ngobrol doang’, namun sebetulnya terdiri dari banyak teknik.</p>
<p>Tulisan ini bukan berniat menakut-nakuti lho. Tim kami hanya ingin membuka fakta bahwa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah. Bukankah lebih baik kalau semua potensi masalah sudah diketahui, sehingga bisa dilakukan antisipasinya, daripada dibiarkan dan kelak jadi duri dalam daging pernikahan?</p>
<p>Nah, yuk kita bahas lebih detil. Apa saja sih kondisi psikologis individu yang dicari tahu? Ini beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Kepercayaan diri. Bagaimana sih tingkat kepercayaan diri masing-masing calon? Terus terang banyak sekali masalah bersumber tingkat PD. Contoh, perempuan A, cantik namun kurang PD. Ketika pasangannya memuji kecantikan orang lain, A mungkin langsung merasa kurang cantik. Efek baiknya sih mungkin saja dia mempercantik diri. Tapi seringkali muncul efek buruknya, misalnya jadi marah dan cemburu terhadap pasangannya, melabrak perempuan lain yang dipuji pasangan, menghabiskan terlalu banyak uang untuk mempercantik diri, dan lain-lain.</li>
<li>Kemandirian. Sudahkah masing-masing calon mampu memenuhi kebutuhan pribadinya? Ini bisa dalam hal keuangan ataupun kegiatan sehari-hari (misalnya bisa bekerja sendiri, atau bisa mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa bantuan). Contoh masalah, laki-laki B masih terus menggunakan fasilitas dari orangtuanya. Istrinya mungkin jadi malu terhadap keluarga asalnya, merasa terganggu dengan campur-tangan keluarga suami, justru terlalu dibatasi geraknya, dan berbagai kemungkinan lain.</li>
<li>Kemampuan komunikasi. Jangan salah, ternyata masih banyak lho orang dewasa yang masih kesulitan untuk mengemukakan idenya atau menceritakan masalahnya dengan cara sehat. Cara komunikasi yang kurang sehat misalnya memaksakan ide, terus bicara tanpa mendengarkan, atau kesulitan menceritakan perasaannya.</li>
<li>Efek masa lalu. Banyak orang memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Perlu dicari tahu seberapa jauh dia sudah menuntaskan isu masa lalunya. Dalam kehidupan berkeluarga, sudah jamak sekali isu-isu masa lalu kembali mewarnai hidup kita, dan ini bisa kembali mengingatkan sakit hati di masa lalu. Efek negatif yang sering terjadi misalnya orang ini menjadi terlalu defensif, mengalami stres dan depresi, jadi bertengkar dengan pasangannya, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>Lanjut, poin kedua. Adakah gangguan psikologis yang mungkin mengganggu kelak? Ini contohnya:</p>
<ul>
<li>Gangguan obsesif kompulsif/ obsessive compulsive disorder (OCD), misalnya mereka yang terus-terusan mencuci tangan karena cemas tangannya kotor, atau mereka yang bolak-balik mengecek kunci rumah atau mobil karena kurang yakin pada keamanan barangnya. Bayangkan kalau si calon sedang sibuk dan sangat butuh bantuan, eh pasangannya yang OCD malah berpuluh-puluh kali memeriksa kunci mobilnya, terganggu kan.</li>
<li>Insomnia, yaitu mereka yang kesulitan tidur. Bayangkan, si calon sudah sangat lelah setelah seharian mengurus anak yang sakit, dia ingin tidur, tapi pasangannya yang insomnia terus mengajaknya mengobrol atau menciptakan keberisikan karena tak bisa tidur.</li>
<li>Anorexia nervosa, mereka yang sangat berusaha menjadi kurus dan cenderung menolak makan. Bayangkan diundang ke acara keluarga besar yang dilakukan sepanjang hari (ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki acara adat yang makan waktu seharian bahkan lebih), kalau si pasangan yang mengalami anorexia nervosa menolak bahkan memuntahkan makanan yang disajikan, tentunya bisa menimbulkan kegemparan dalam keluarga besar.</li>
</ul>
<p>Gangguan psikologis yang mungkin diturunkan apa saja ya? Beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Depresi, kondisi sedih berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Orangtua yang punya riwayat depresi bisa menurunkan gangguan depresi, baik secara genetik ataupun lewat pola asuhnya yang cenderung menawarkan suasana sendu.</li>
<li>Skizofrenia / schizophrenia, secara awam disebut sebagai ‘gila’. Riwayat kegilaan itu bisa diturunkan lho secara genetik, tapi juga bisa diantisipasi.</li>
<li>Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa anak yang mengalami kekerasan di masa lalu terkadang menjadi individu dewasa yang justru jadi pelaku kekerasan.</li>
</ul>
<p>Itu baru beberapa lho. Masih banyak lagi kondisi pribadi yang bisa dicek dalam premarital psychological screening. Di luar kondisi pribadi, ada pula kondisi sebagai pasangan. Yang dicek contohnya:</p>
<ul>
<li>Kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi. Dicari tahu bagaimana cara pasangan ini saling mengomunikasikan hal-hal berat yang mereka alami. Kemampuan berkomunikasi ini kelak sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi berbagai masalah dalam hidup berkeluarga. Jika sebelum menikah pasangan hanya mampu mengomunikasikan hal-hal yang dangkal saja, mungkin mereka belum siap menikah.</li>
<li>Cara bertengkar. Mampukah pasangan bertengkar dengan sehat? Apakah pertengkaran yang pasangan lakukan dapat menyelesaikan masalah yang dialami? Pasangan yang belum pernah bertengkar, misalnya karena masa perkenalan yang baru sebentar sehingga belum menemukan masalah besar, harusnya lebih berhati-hati. Jangan sampai kaget kalau menemukan pasangannya bertengkar dengan cara yang sangat berbeda dari dirinya, sangat keras, atau bahkan terlalu lembut.</li>
<li>Relasi dengan keluarga besar. Sudah rahasia umum bahwa pernikahan di budaya Indonesia melibatkan keluarga besar. Dalam premarital psychological screening dicari tahu seberapa jauh pasangan mampu menerima dan diterima oleh keluarga besar, juga seberapa jauh keluarga besar menjadi sumber masalah bagi pasangan ini.</li>
</ul>
<p>Dari hasil pemeriksaan ini, psikolog akan memberikan pandangan tentang masalah apa saja yang mungkin timbul. Diberikan pula saran apa saja yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Jika calon pengantin menghendaki, maka dapat dilakukan terapi ataupun pelatihan untuk dapat mengatasi potensi masalah.</p>
<p>Sebetulnya ada begitu banyak hal lain yang perlu dicari tahu juga sebelum pasangan memutuskan untuk menikah, bukan hanya hal-hal di atas saja. Kalau Anda memutuskan tutup mata saja, itupun hak Anda lho. Yang penting bersikaplah dewasa ketika kelak menghadapi masalah.</p>
<p>Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, kecuali pernikahan dalam dongeng. Menyelesaikan banyak isu sebelum menikah bisa membantu untuk membuat ekspektasi jadi lebih realistis, dan akhirnya lebih mampu dicapai, dan akhirnya jadi jauh lebih bahagia. Itulah doa kami untuk teman-teman semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
