<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; menikah</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/menikah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Mengapa Cintamu Berubah?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Mar 2013 15:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Dalam artikel “Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?”, kita sudah membahas secara garis besar mengapa cinta bisa mengalami perubahan. Mau tahu lebih detilnya? Ayo, simak terus ya tulisan ini.
Jadi begini nih. Dengan usia yang bertambah, ternyata ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam artikel “<a href="http://pranikah.org/pranikah/?p=313">Jangan Pernah Berubah, Sayang. Mungkinkah?</a>”, kita sudah membahas secara garis besar mengapa cinta bisa mengalami perubahan. Mau tahu lebih detilnya? Ayo, simak terus ya tulisan ini.</p>
<p><span style="font-size: 13px;">Jadi begini nih. Dengan usia yang bertambah, ternyata ada beberapa hal berubah, baik berubah secara alamiah maupun karena kondisi. Berikut ini beberapa di antaranya:</span></p>
<p><span id="more-316"></span></p>
<ul>
<li><strong>Perubahan fisik</strong>, sebagian besar terjadi secara alamiah. Perubahan fisik bisa menimbulkan perubahan juga dalam proses mencintai, terutama apabila perubahan fisik kurang disadari atau menimbulkan masalah.<a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/cintaCupid.png"><img class="alignright size-full wp-image-322" alt="cinta" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/03/cintaCupid.png" width="224" height="192" /></a>
<ul>
<li>Kekuatan fisik mereka yang beranjak dewasa berbeda jauh dengan kekuatan fisik lansia. Dengan demikian mereka yang menikah di usia sekitar 20 awal mungkin merasa santai saja mengerjakan berbagai hal sendirian, sementara mereka yang lansia sangat membutuhkan bantuan pasangan atau keluarganya. Jika sudah terbiasa melakukan berbagai hal sendirian, lalu setelahnya jadi kesulitan karena tak kuat lagi, akan timbul kondisi-kondisi psikologis lanjutan. Contohnya perasaan minder, perasaan tak berguna lagi, perasaan kalah, perasaan tak dipahami, dan lain-lain. Semua perasaan ini kemudian mengubah cara kita menghadapi pasangan, dan perubahan kita akan direspon oleh pasangan dengan perubahan lain.</li>
<li>Berbagai penyakit kronis juga cenderung lebih banyak dialami mereka yang berusia lebih lanjut, sehingga mungkin saja pembicaraan sehari-hari diwarnai keharusan minum obat, pantangan makanan, atau keharusan melakukan olah fisik tertentu. Terkadang ini terasa melelahkan bagi pasangan, sehingga tak jarang menjadi sumber konflik.</li>
<li>Sebagian orang sudah peduli pola hidup sehat sejak muda, sementara sebagian orang lain baru ketika usia lebih lanjut. Perbedaan tingkat kepedulian pasangan terhadap pola hidup sehat lumayan rentan menimbulkan pertengkaran lho.</li>
<li>Kehamilan, masa nifas setelah melahirkan, dan proses menyusui mengubah bentuk dan fungsi tubuh. Beberapa ibu hamil harus mengalami bedrest atau resiko keguguran (tenang, persentasenya kecil kok) sehingga tidak bisa melakukan hubungan intim dengan suami. Suami dari ibu yang menyusui juga harus bergiliran dengan si bayi kan untuk ‘menggunakan’ payudara istrinya? Suami yang tidak memahami perubahan ini cenderung memaksakan hubungan intim, sehingga mengganggu relasi positif dengan istri.</li>
<li>Perubahan penampilan juga sering mengubah cara pandang kita terhadap pasangan. Misalnya yang tadinya kurus menjadi gemuk, yang tadinya sangat menarik karena berdandan cantik sekarang hanya berdandan seadanya, ada pula yang tadinya selalu wangi sekarang malas mandi, dan lain-lain.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Memiliki anak</strong>, terkadang mengubah cinta secara alamiah ataupun karena kondisi yang menyertainya, seperti berikut ini:
<ul>
<li>Merasakan adanya kebanggaan memiliki keturunan, yang merupakan hasil kerjasama antara suami dan istri. Kebanggaan ini seringkali meningkatkan kualitas cinta.</li>
<li>Kesibukan tambahan untuk mengurus anak. Anak yang terus-menerus bangun, butuh disusui, diganti popoknya, dicucikan bajunya, itu sebagian kecil kesibukan ketika anak masih bayi. Ketika sudah semakin besar, suami-istri perlu bekerja sama untuk menstimulasi dan mengajari anak berbagai hal. Ketika suami dan istri mampu bekerja sama dalam mengurus si kecil, cinta dapat semakin berkualitas. Sebaliknya pasangan yang kurang mendukung satu sama lain seringkali jadi punya masalah tambahan.</li>
<li>Tanggung jawab bertambah. Memiliki anak tentunya juga berarti membiayai anak, menyediakan waktu dan energi untuk mengurus anak. Lagi-lagi, pembagian tanggung jawab yang jelas akan meningkatkan cinta, dibandingkan pembagian tanggung jawab yang samar atau saling diperebutkan.</li>
<li>Waktu berdua berkurang. Akibat kesibukan mengurus anak, seringkali waktu suami-istri untuk berdua saja jadi berkurang. Beberapa pasangan merasa tak perlu lagi berduaan (dan terus terang pendapat ini salah besar!). Komunikasi hanya berkisar pada urusan anak dan seringkali akhirnya mereka berdua mengalami kesulitan menemukan cinta satu sama lain lagi.</li>
<li>Ikut campur dari keluarga besar untuk mengurus anak. Bukan hanya pasangan suami-istri yang berbahagia, keluarga besar pun ikut senang, dan itu seringkali ditunjukkan lewat ikut campur mengurus anak. Apabila keikutsertaan keluarga besar selaras dengan visi-misi suami-istri, tentu cinta akan bertambah.</li>
<li>Perbedaan cara mengasuh. Suami dan istri berasal dari keluarga yang berbeda, dan tentu saja jadi memiliki idealisme sendiri tentang bagaimana sebaiknya anak diasuh. Apabila idealisme keduanya bisa dipertemukan, maka suami-istri akan semakin kompak dan semakin cinta.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Pekerjaan</strong>, mampu memberikan eksistensi diri, namun terkadang juga memunculkan stress yang dapat berpengaruh terhadap relasi dalam keluarga.
<ul>
<li>Promosi, mutasi, demosi pekerjaan. Promosi dan mutasi seringkali memunculkan eustress, yaitu stress positif dan meningkatkan semangat kerja, dapat punya efek positif ataupun negatif terhadap keluarga. Demosi lebih sering memunculkan distress, yaitu stress negatif, efeknya lebih sering negatif terhadap keluarga dan pasangan.</li>
<li>Banyak sedikitnya tuntutan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan yang tinggi sering menimbulkan semangat kerja lebih tinggi, tapi terkadang juga memunculkan stress, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap bagaimana relasi kita dengan keluarga.</li>
<li>Pindah kantor, pindah bidang kerja. Perubahan kebiasaan kerja memang mampu memberikan semangat baru, tapi terkadang juga menimbulkan kecemasan tinggi bagi mereka yang berpindah kerja, ataupun bagi pasangannya.</li>
<li>Panjang pendek jam kerja di kantor. Jam kerja yang lebih panjang, apalagi kalau disertai waktu perjalanan yang juga panjang, menimbulkan kelelahan luar biasa. Kalau sambutan yang diterima di rumah kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, maka terkadang menimbulkan kemarahan.</li>
<li>Penghasilan yang diterima dari pekerjaan. Bukan besar kecilnya, namun seberapa dianggap cukup. Jika dianggap cukup atau bahkan lebih dari cukup, maka cenderung memuaskan. Sementara jika dianggap kurang, terkadang menimbulkan rasa kurang percaya diri terhadap pasangan. Pasangan yang tidak memahami terkadang justru memberikan tuntutan tambahan yang justru meningkatkan stress.</li>
<li>Kenalan lain dari lingkungan pekerjaan. Dalam bekerja tak mungkin kan sendirian saja, tentu kita berhubungan dengan banyak pihak lain. Terkadang terjadi <i>witing tresna jalaran saka kulina</i>, yaitu jatuh hati pada rekan kerja akibat terbiasa bertemu.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Kecelakaan, kematian</strong>.
<ul>
<li>Trauma yang dirasakan akibat kecelakaan atau kematian anggota keluarga sering mengubah cara kita melihat dunia, termasuk cara kita berhubungan dengan pasangan.</li>
<li>Adanya perubahan fisik, misalnya akibat kecelakaan menjadi kehilangan anggota tubuh, atau adanya kelumpuhan. Setelah kecelakaan terkadang ada fungsi tubuh yang jadi berkurang, misalnya menjadi tuli atau buta setelah terkena bom.</li>
<li>Kehilangan, memunculkan kesedihan yang amat sangat. Apabila pasangan tidak bisa mengendalikan perasaan kehilangan, seringkali berpengaruh negatif terhadap relasi.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Komunikasi</strong>.
<ul>
<li>Mudah sulitnya berkomunikasi, misalnya karena jarak yang jauh (long distance marriage) atau karena pasangan lebih banyak berada di lingkungan pekerjaannya. Apabila tak disikapi dengan dewasa, maka bisa jadi masalah besar.</li>
<li>Komunikasi yang terjadi nyambung atau tidak. Jika lebih sering ‘nggak nyambung’, cenderung menurunkan niat berkomunikasi dengan pasangan.</li>
<li>Pertengkaran yang pernah terjadi. Apabila diskusi setelah pertengkaran menghasilkan pemahaman yang lebih tinggi satu sama lain, biasanya pasangan jadi lebih saling mencintai. Namun apabila pertengkaran belum menemukan solusi terbaik buat keduanya, terkadang menimbulkan kekesalan dan tak jarang mengubah perasaan satu sama lain.</li>
<li>Kurang terbuka satu sama lain, termasuk mereka yang terbiasa memendam masalah, lama-lama api cintanya seakan padam.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</li>
<li><strong>Isu emosional</strong>.
<ul>
<li>Kebosanan. Dalam kehidupan pernikahan yang paling indah pun sesekali ada kebosanan. Namun apabila sering sekali terjadi kebosanan dan tak bisa diatasi oleh pasangan, tentu cenderung menurunkan semangat satu sama lain untuk terus bersama.</li>
<li>Dendam atau kemarahan yang belum tuntas, baik terhadap satu sama lain, terhadap masa lalu, maupun terhadap orang lain di sekitar keluarga. Semakin banyak dialami maka relasinya semakin negatif.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak sekali yang mungkin membuat relasi pasangan berubah? Ya, betul sekali. Jadi jangan berharap cintanya kepada kita akan terus sama. Mungkin bertambah, mungkin berkurang. Tantangannya adalah walaupun mengalami berbagai macam masalah dalam hidup, tapi kita dan pasangan tetap saling mencintai. Betul kan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p><em>Arnett, Jeffrey Jensen. (2012). Human Development: A Cultural Approach. Boston: Pearson Education, Inc.</em></p>
<p><em>Cavanaugh, J.C., Blanchard-Fields, F. (2011). Adult Development and Aging, 6<sup>th</sup> ed. California: Wadsworth.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/mengapa-cintamu-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siap Mental Menikah? Premarital Psychological Screening</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 17:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak yang mau masuk sekolah dasar akhir-akhir ini diperiksa apakah ia sudah memiliki kematangan sekolah. Jika sudah, maka orangtua dapat segera menyiapkan kelanjutan sekolahnya. Namun jika dianggap belum cukup matang, biasanya disarankan untuk menunda masuk sekolah dasar, atau memberikan berbagai stimulasi secara intensif agar anak segera siap ketika memasuki sekolah.</p>
<p>Ibu yang hamil juga kini diberi berbagai kesempatan untuk menyiapkan diri menjadi orangtua, walaupun sebetulnya sejak ia hamil, iapun telah menjadi seorang ibu (bukankah dia disebut ‘ibu hamil’? Dan dia pun sudah menjalani prenatal parenting walaupun mungkin tak disadari). Persiapan menjadi orangtua misalnya adalah memahami proses kehamilan dan kelahiran, menyiapkan diri untuk menyusui, senam hamil, belajar cara pijat bayi, dan macam-macam lagi. Calon ayah juga</p>
<p>sangat diharapkan kehadirannya dalam pemeriksaan kehamilan maupun persiapan menjadi orangtua, agar kelak dapat bekerjasama dengan sang ibu.</p>
<p>Yang menarik, ketika bicara tentang persiapan menikah, sering yang dibicarakan orang hanyalah tentang persiapan akad atau resepsi pernikahan. Pasangan sering lupa bahwa sebetulnya ada berbagai persiapan lain yang jauh lebih dibutuhkan, agar kehidupan setelah pesta dapat berjalan dengan indah. Padahal pernikahan adalah rumah dari kehamilan, pertumbuhan anak, juga pertumbuhan orang-orang dalam keluarga tersebut.</p>
<p>Bicara tentang <em><strong>premarital health screening</strong></em> (Pemeriksaan Kesehatan Pranikah), maka ada 3 hal yang perlu kita cari tahu, yaitu:<span id="more-215"></span></p>
<ol>
<li>Kondisi kesehatan secara umum</li>
<li>Penyakit yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh</li>
<li>Penyakit yang diturunkan / genetik.</li>
</ol>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-219" title="family" alt="" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/family.jpg" width="165" height="111" /></p>
<p>Dari sisi psikologis, ada juga lho premarital screening, biasanya dilakukan oleh psikolog perkawinan, psikolog keluarga, atau psikolog klinis dewasa. Tujuannya pun mirip dengan premarital health screening, namun yang dicari tahu lebih ke arah kondisi kesehatan mentalnya, sehingga dapat kita sebut sebagai premarital mental health screening atau premarital psychological screening. Sebagai tambahan, psikolog juga perlu memeriksa kondisi kedua calon pengantin sebagai pasangan, untuk memahami pola relasi antara keduanya. Jadi apa saja yang dicari tahu dari pemeriksaan kondisi psikologis sebelum menikah? Ini dia:</p>
<ol>
<li>Kondisi psikologis masing-masing individu secara umum</li>
<li>Adakah gangguan psikologis yang mungkin akan mengganggu  kelak</li>
<li>Adakah kondisi psikologis yang mungkin diturunkan atau ‘ditularkan’ baik secara genetik ataupun lewat interaksi sosial</li>
<li>Kondisi relasi pasangan tersebut</li>
</ol>
<p>Apa sih tujuan premarital psychological screening? Lagi-lagi mirip kok tujuannya dengan premarital health screening:</p>
<ol>
<li>Meningkatkan kematangan pribadi, sehingga lebih siap menikah. Dengan menuntaskan masalah pribadi, hidup kita jadi lebih ringan, kita juga lebih mampu mengolah masalah yang datang kelak.</li>
<li>Melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi masalah lebih besar.</li>
<li>Bisa mengambil keputusan sesuai nilai bersama yang telah dibicarakan sebelumnya.</li>
<li>Mampu menjalin interaksi yang jauh lebih sehat secara psikologis.</li>
</ol>
<p>Cara pemeriksaan psikolog bisa dengan menggunakan alat-alat tes psikologi, bisa sama ataupun berbeda dengan ‘psikotes’ yang selama ini dikenal masyarakat. Namun cara periksa yang paling utama adalah wawancara dan observasi, yang seringkali dilihat oleh awam sebagai ‘ngobrol doang’, namun sebetulnya terdiri dari banyak teknik.</p>
<p>Tulisan ini bukan berniat menakut-nakuti lho. Tim kami hanya ingin membuka fakta bahwa ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah. Bukankah lebih baik kalau semua potensi masalah sudah diketahui, sehingga bisa dilakukan antisipasinya, daripada dibiarkan dan kelak jadi duri dalam daging pernikahan?</p>
<p>Nah, yuk kita bahas lebih detil. Apa saja sih kondisi psikologis individu yang dicari tahu? Ini beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Kepercayaan diri. Bagaimana sih tingkat kepercayaan diri masing-masing calon? Terus terang banyak sekali masalah bersumber tingkat PD. Contoh, perempuan A, cantik namun kurang PD. Ketika pasangannya memuji kecantikan orang lain, A mungkin langsung merasa kurang cantik. Efek baiknya sih mungkin saja dia mempercantik diri. Tapi seringkali muncul efek buruknya, misalnya jadi marah dan cemburu terhadap pasangannya, melabrak perempuan lain yang dipuji pasangan, menghabiskan terlalu banyak uang untuk mempercantik diri, dan lain-lain.</li>
<li>Kemandirian. Sudahkah masing-masing calon mampu memenuhi kebutuhan pribadinya? Ini bisa dalam hal keuangan ataupun kegiatan sehari-hari (misalnya bisa bekerja sendiri, atau bisa mencari informasi yang dibutuhkannya tanpa bantuan). Contoh masalah, laki-laki B masih terus menggunakan fasilitas dari orangtuanya. Istrinya mungkin jadi malu terhadap keluarga asalnya, merasa terganggu dengan campur-tangan keluarga suami, justru terlalu dibatasi geraknya, dan berbagai kemungkinan lain.</li>
<li>Kemampuan komunikasi. Jangan salah, ternyata masih banyak lho orang dewasa yang masih kesulitan untuk mengemukakan idenya atau menceritakan masalahnya dengan cara sehat. Cara komunikasi yang kurang sehat misalnya memaksakan ide, terus bicara tanpa mendengarkan, atau kesulitan menceritakan perasaannya.</li>
<li>Efek masa lalu. Banyak orang memiliki masa lalu yang sangat disesalinya. Perlu dicari tahu seberapa jauh dia sudah menuntaskan isu masa lalunya. Dalam kehidupan berkeluarga, sudah jamak sekali isu-isu masa lalu kembali mewarnai hidup kita, dan ini bisa kembali mengingatkan sakit hati di masa lalu. Efek negatif yang sering terjadi misalnya orang ini menjadi terlalu defensif, mengalami stres dan depresi, jadi bertengkar dengan pasangannya, dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>Lanjut, poin kedua. Adakah gangguan psikologis yang mungkin mengganggu kelak? Ini contohnya:</p>
<ul>
<li>Gangguan obsesif kompulsif/ obsessive compulsive disorder (OCD), misalnya mereka yang terus-terusan mencuci tangan karena cemas tangannya kotor, atau mereka yang bolak-balik mengecek kunci rumah atau mobil karena kurang yakin pada keamanan barangnya. Bayangkan kalau si calon sedang sibuk dan sangat butuh bantuan, eh pasangannya yang OCD malah berpuluh-puluh kali memeriksa kunci mobilnya, terganggu kan.</li>
<li>Insomnia, yaitu mereka yang kesulitan tidur. Bayangkan, si calon sudah sangat lelah setelah seharian mengurus anak yang sakit, dia ingin tidur, tapi pasangannya yang insomnia terus mengajaknya mengobrol atau menciptakan keberisikan karena tak bisa tidur.</li>
<li>Anorexia nervosa, mereka yang sangat berusaha menjadi kurus dan cenderung menolak makan. Bayangkan diundang ke acara keluarga besar yang dilakukan sepanjang hari (ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki acara adat yang makan waktu seharian bahkan lebih), kalau si pasangan yang mengalami anorexia nervosa menolak bahkan memuntahkan makanan yang disajikan, tentunya bisa menimbulkan kegemparan dalam keluarga besar.</li>
</ul>
<p>Gangguan psikologis yang mungkin diturunkan apa saja ya? Beberapa di antaranya:</p>
<ul>
<li>Depresi, kondisi sedih berkepanjangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Orangtua yang punya riwayat depresi bisa menurunkan gangguan depresi, baik secara genetik ataupun lewat pola asuhnya yang cenderung menawarkan suasana sendu.</li>
<li>Skizofrenia / schizophrenia, secara awam disebut sebagai ‘gila’. Riwayat kegilaan itu bisa diturunkan lho secara genetik, tapi juga bisa diantisipasi.</li>
<li>Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa anak yang mengalami kekerasan di masa lalu terkadang menjadi individu dewasa yang justru jadi pelaku kekerasan.</li>
</ul>
<p>Itu baru beberapa lho. Masih banyak lagi kondisi pribadi yang bisa dicek dalam premarital psychological screening. Di luar kondisi pribadi, ada pula kondisi sebagai pasangan. Yang dicek contohnya:</p>
<ul>
<li>Kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi. Dicari tahu bagaimana cara pasangan ini saling mengomunikasikan hal-hal berat yang mereka alami. Kemampuan berkomunikasi ini kelak sangat dibutuhkan dalam mengantisipasi berbagai masalah dalam hidup berkeluarga. Jika sebelum menikah pasangan hanya mampu mengomunikasikan hal-hal yang dangkal saja, mungkin mereka belum siap menikah.</li>
<li>Cara bertengkar. Mampukah pasangan bertengkar dengan sehat? Apakah pertengkaran yang pasangan lakukan dapat menyelesaikan masalah yang dialami? Pasangan yang belum pernah bertengkar, misalnya karena masa perkenalan yang baru sebentar sehingga belum menemukan masalah besar, harusnya lebih berhati-hati. Jangan sampai kaget kalau menemukan pasangannya bertengkar dengan cara yang sangat berbeda dari dirinya, sangat keras, atau bahkan terlalu lembut.</li>
<li>Relasi dengan keluarga besar. Sudah rahasia umum bahwa pernikahan di budaya Indonesia melibatkan keluarga besar. Dalam premarital psychological screening dicari tahu seberapa jauh pasangan mampu menerima dan diterima oleh keluarga besar, juga seberapa jauh keluarga besar menjadi sumber masalah bagi pasangan ini.</li>
</ul>
<p>Dari hasil pemeriksaan ini, psikolog akan memberikan pandangan tentang masalah apa saja yang mungkin timbul. Diberikan pula saran apa saja yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah tersebut. Jika calon pengantin menghendaki, maka dapat dilakukan terapi ataupun pelatihan untuk dapat mengatasi potensi masalah.</p>
<p>Sebetulnya ada begitu banyak hal lain yang perlu dicari tahu juga sebelum pasangan memutuskan untuk menikah, bukan hanya hal-hal di atas saja. Kalau Anda memutuskan tutup mata saja, itupun hak Anda lho. Yang penting bersikaplah dewasa ketika kelak menghadapi masalah.</p>
<p>Memang tidak ada pernikahan yang sempurna, kecuali pernikahan dalam dongeng. Menyelesaikan banyak isu sebelum menikah bisa membantu untuk membuat ekspektasi jadi lebih realistis, dan akhirnya lebih mampu dicapai, dan akhirnya jadi jauh lebih bahagia. Itulah doa kami untuk teman-teman semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/siap-mental-menikah-premarital-psychological-screening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Buat Tabungan Bersama? Yuk Tuangkan Dalam Perjanjian</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 00:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perjanjian]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan adalah janji suci/ikatan lahir bathin/bersepakat untuk cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memiliki komitmen lahir bathin. Perjanjian hubungan perdata yang mencantumkan klausul jangka waktu saja harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu isi dan konsekuensi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/saving4two.png"><img class="wp-image-223 alignleft" title="saving for wedding" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/saving4two.png" alt="" width="135" height="125" /></a>Pernikahan adalah janji suci/ikatan lahir bathin/bersepakat untuk cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memiliki komitmen lahir bathin. Perjanjian hubungan perdata yang mencantumkan klausul jangka waktu saja harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu isi dan konsekuensi dari apa yang diperjanjikan, apalagi perjanjian yang lahir bathin dan direncanakan untuk sepanjang hayat.<br />
Untuk dapat mengetahui dan memahami isi dan konsekuensi dari perkawinan, butuh waktu, butuh proses. Tentu saja proses tiap-tiap individu bisa sangat berbeda-beda, tergantung dari latar belakang, nilai yang dianut dan pertimbangan lainnya. Pastikan proses tersebut berjalan secara sehat, aman dan terencana, dengan harapan dapat memberi manfaat jangka panjang dan berkah bagi pihak-pihak terkait.</p>
<p>Oleh karena itu terbukalah, diskusikan apa tujuan relasi dan mau dibawa ke mana relasi yang dibina tersebut.</p>
<p>Tahu kan bahwa dalam formulir permohonan atau pelaporan hendak menikah kepada KUA atau kantor Catatan Sipil, ada pertanyaan mengenai kebiasaan menabung?</p>
<p>Selain yang sudah disampaikan pada kultwit dengan tagar #tabbersama, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tabungan bersama:<br />
(1) Sebaiknya tabungan bersama ini dilakukan setelah dipastikan relasi disetujui oleh keluarga masing-masing<br />
(2) Buat tujuan dan peruntukan yang jelas dari tabungan bersama ini<br />
(3) Buat perjanjian tertulis yang mengatur rinci mengenai tabungan bersama ini</p>
<p>Kenapa ya perlu dibuat perjanjian tertulis? Bukankah bisa memilih produk keuangan yang menyediakan pilihan joint account? Ya betul, bisa saja memilih produk keuangan yang memfasilitasi dua pihak, namun pada umumnya produk keuangan ini hanya mengatur mengenai akses terhadap produk tersebut, misal mengenai penarikan dan penutupan.</p>
<p>Padahal terhadap harta dapat melekat hukum lain tergantung pada apa yang terjadi pada masa tertentu, yang seringkali kejadian-kejadian yang diluar perkiraan atau tidak pernah diharapkan.</p>
<p>Hukum nampak menakut-nakuti orang untuk menikah? Sebenarnya bukan menakuti tapi tujuannya adalah untuk memagari, memayungi itikad baik para pihak, dengan tetap memastikan adanya perlindungan terhadap kepentingan tiap-tiap pihak bila mengalami kejadian atau berada dalam keadaan yang tidak dikehendaki atau di luar kemampuannya sebagai manusia biasa.<br />
Seandainya kita berhasil melanjutkan relasi pada perkawinan maka, perlu memperhatikan pasal 35 UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974, yang menyebutkan bahwa jika tidak ada perjanjian pranikah yang mengatur mengenai pembagian harta, maka secara otomatis harta yang berasal dari masing-masing pasutri dibawa penguasaan masing-masing.</p>
<p>Nah berarti mesti jelas kan, harta yang dibawa masing-masing pasutri? Mungkin inilah maksud dari kolom pertanyaan pada formulir pelaporan rencana menikah tentang kebiasaan menabung dan jumlah tabungan masing-masing.</p>
<p>Produk keuangan dengan fasilitas Joint account, tidak mengatur dari mana asal dana yang masuk ke dalam produk investasi bersama atau rekening bersama tersebut. Produk keuangan ini juga tidak mengatur bagaimana bila terjadi sesuatu terhadap para pihak. Misal batal menikah, bagaimana penyelesaiannya jika masing-masing pihak tidak mau lagi berkomunikasi, untuk selesaikan urusan tersebut. Lalu bagaimana pembagian bunga, bonus atau hadiah yg berasal dari investasi bersama tersebut? Bagaimana status dananya bila salah satu pihak meninggal dunia sebelum pernikahan?</p>
<p>Jadi, mari tuangkan kesepakatan dengan pasangan kedalam perjanjian tertulis, agar dapat mengatur dan melindungi hal-hal yang tidak jelas tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siklus Kehidupan Keluarga</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/siklus-kehidupan-keluarga/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/siklus-kehidupan-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2013 00:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[siklus keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya anak yang berkembang, keluargapun juga berkembang lho. Tiap tahapan perkembangannya memunculkan kondisi psikologis yang berbeda, termasuk sumber stress yang berbeda juga. Seperti apa sih siklus kehidupan keluarga? Simak pendapat Carter dan McGoldrick (1988, ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/cycleFam.jpg"><img class="alignleft  wp-image-227" title="cycleFamily" alt="" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/cycleFam.jpg" width="203" height="188" /></a>Bukan hanya anak yang berkembang, keluargapun juga berkembang lho. Tiap tahapan perkembangannya memunculkan kondisi psikologis yang berbeda, termasuk sumber stress yang berbeda juga. Seperti apa sih siklus kehidupan keluarga? Simak pendapat Carter dan McGoldrick (1988, dalam Santrock, 2004) yang jadi acuan para psikolog keluarga berikut ini:</p>
<p>1. Tahap ‘Meninggalkan Rumah dan Menjadi Individu Dewasa Lajang’. Tahap ini tidak selalu terjadi di budaya kita, karena banyak orang dewasa memilih tinggal di rumah orangtuanya. Yang pasti, ketika sudah mulai kuliah, biasanya seseorang jadi jauh lebih mandiri dibandingkan usia sebelumnya. Yang cukup banyak terjadi di budaya kita adalah beberapa individu dewasa yang sudah memiliki penghasilan ikut membayar beberapa pengeluaran di rumah, sementara yang belum punya penghasilan membantu mengurus rumah. Kemandirian ini (mulai melepas pengaruh orangtua) penting lho dalam tahapan hidup berkeluarga. Justru mereka yang masih terlalu tergantung pada orangtuanya di tahap ini (misalnya masih terus mengharap dibayari oleh orangtua) seringkali mengalami masalah dalam kehidupan berkeluarganya kelak.</p>
<p>2. Tahap ‘Pasangan Baru’. Tahap ini terjadi di bulan-bulan pertama pernikahan. Pada tahap ini terjadi beberapa perubahan peran, mulai dari sepasang kekasih menjadi suami dan istri. Dalam budaya kita, kebanyakan orang sudah menyadari bahwa ketika menikah, dia juga harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar pasangan. Pada tahap ini biasanya individu yang menikah mengubah beberapa perilakunya sehingga sesuai dengan pasangannya. Contohnya apabila biasanya ia pulang dari kantornya sesukanya, kini mungkin ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa segera pulang. Contoh lain adalah mereka yang kemudian jadi punya kebiasaan baru untuk memasak sarapan. Beberapa pertengkaran besar mungkin terjadi pada tahap ini karena baik suami dan istri sedang berusaha menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai suami / istri, juga sebagai menantu, dan bagian baru dari lingkungan pasangan. Berbagai pembelajaran juga terjadi pada saat ini, terutama kalau pasangan bisa bertengkar dengan cara yang baik.</p>
<p>3. Tahap ‘Menjadi Orangtua’. Banyak yang mengatakan bahwa tahap ini terjadi setelah anak lahir. Kenyataannya tahap ini sudah terjadi sejak pasangan menyadari kehamilan sang istri. Bukankah setelah sadar hamil, maka mulai ada beberapa perubahan perilaku, seperti usaha menjaga asupan makanan, istirahat lebih banyak, pemeriksaan kehamilan, juga membeli barang yang akan digunakan untuk anak kelak? Tahap ini terjadi setidaknya sampai anak memasuki masa remajanya. Sampai pada tahap itu idealnya pasangan yang kini menjadi orangtua memiliki visi dan misi yang sejalan dan dapat saling mendukung, karena inilah yang akan membuat anak tumbuh dan berkembang optimal. Kenyataannya banyak pasangan yang justru mengalami pertengkaran terhebatnya pada tahap ini, karena berbagai kelemahan personal dan ketidaksiapannya menjadi orangtua. Pada budaya kita, keluarga besar seringkali punya peran pula dalam tahap ini, dan tantangan ini harus disikapi secara tepat.</p>
<p>4. Tahap ‘Keluarga dengan Remaja’. Ini merupakan salah satu tahap yang paling menantang dalam kehidupan berkeluarga. Anak yang tadinya penurut cenderung jadi remaja tak penurut, dan ini merupakan perkembangan normal. Anak yang sebelumnya sulit diatur, jadi remaja yang jauh lebih sulit diatur. Orangtua yang sudah terbiasa mengatur dengan cara yang telah berhasil pada tahap sebelumnya cenderung mengalami kesulitan, dan tentu saja ini jadi tantangan tersendiri dalam hidup bersama pasangan. Apabila pasangan memang betul-betul siap dan trampil menjadi pasangan dan menjadi orangtua, tantangan besar ini akan lebih mudah dihadapi.</p>
<p>5. Tahap ‘Keluarga dengan Anak Dewasa’, artinya anak yang mereka besarkan saat ini sudah menjadi dewasa mandiri. Anak dari pasangan ini mungkin sudah atau belum menikah, tapi belum punya keturunan. Beberapa pasangan merasa lebih dekat satu sama lain di tahap ini, karena masa-masa mengasuh anak telah mereka lewati bersama. Beberapa pasangan lain justru menjadi asing satu sama lain, terutama mereka yang pada tahap-tahap sebelumnya kurang memahami cara berkomunikasi yang hangat.</p>
<p>6. Tahap ‘Keluarga di Masa Pensiun’. Pensiun mengubah cara hidup keluarga, biasanya karena tanggung jawab untuk bekerja dan penghasilan menjadi sangat berkurang dibandingkan sebelumnya. Selain itu terjadi pula perubahan fisik, beberapa orang mengalami sakit berkepanjangan dan butuh beraneka perawatan. Cucu yang telah dilahirkan anak mereka juga menjadikan pasangan sebagai nenek dan kakek, dan ini membedakan pula kondisi psikologis mereka. Meninggalnya pasangan menjadikan individu sebagai janda / duda, dan ini adalah tantangan tersendiri.</p>
<p>Tahap-tahap ini terjadi pada sebagian besar keluarga. Apabila ada yang terlewat (contohnya tidak mengalami tahap ‘Pasangan Baru’ karena terlanjur hamil sebelum menikah), maka pasangan ini harus bekerja lebih keras untuk membuat pernikahannya bahagia. Dalam tiap tahap pun ada cara-cara yang berbeda untuk mengatasi permasalahan yang dialami. Jika pasangan lebih suka menyalahkan satu sama lain dibandingkan bekerja keras bersama, tentu saja yang didapatkan adalah masalah lebih besar, bukan kebahagiaan.</p>
<p>Semua tahapan ini dapat dibicarakan sebelum pernikahan terjadi, untuk menyamakan persepsi dengan pasangan. Jangan sampai ternyata ia memiliki cita-cita yang jauh berbeda dengan idealisme Anda, karena tentunya akan menimbulkan konflik yang sangat besar di kemudian hari.</p>
<p>So, tunggu apa lagi? Diskusikan ini dengan pasangan Anda.</p>
<p>Sumber:<br />
Santrock, John W. (2004). Life-Span Development 9th ed. New York: McGraw-Hill.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/siklus-kehidupan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah perlu berdaya kesehatan?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2013 04:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Menikah perlu berdaya kesehatan? Apa maksudnya berdaya kesehatan? Lalu apa hubunganya dengan menikah?
Berdaya kesehatan, seperti dengan halnya berdaya di bidang lain adalah dapat melakukan upaya kesehatan (terutama promotif dan preventif) sampai tahap tertentu secara mandiri. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/dokter.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-229" title="dokter" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/dokter.jpg" alt="" width="226" height="192" /></a>Menikah perlu berdaya kesehatan? Apa maksudnya berdaya kesehatan? Lalu apa hubunganya dengan menikah?</p>
<p>Berdaya kesehatan, seperti dengan halnya berdaya di bidang lain adalah dapat melakukan upaya kesehatan (terutama promotif dan preventif) sampai tahap tertentu secara mandiri. Kok harus mandiri? Harus dong, upaya kesehatan promotif (meningkatkan derajat kesehatan) dan preventif (pencegahan) yang utama ada di tangan kita, sebagai si pemilik kesehatan.  Lagipula, kita semua tahu, kesehatan itu penting sekali, walau baru terasa pentingnya di saat kita sakit. Tanpa kesehatan kita dapat terhalang untuk beraktivitas dan berkarya sesuai kehendak kita.</p>
<p>Upaya promotif dan preventif kesehatan di antaranya adalah kebersihan, pola makan sehat, gaya hidup sehat, istirahat cukup, menjadi pasien yang cerdas/berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi. Kalau dilihat apa saja yang perlu dilakukan, betul bukan bahwa semua itu ada di tangan kita?</p>
<p>Lalu apa hubungan berdaya kesehatan dengan menikah? Kenapa ada tim dokter di @twitpranikah? Menikah adalah dasar terbentuknya keluarga. Kebiasaan baik atau buruk pertama-tama dikenalkan dalam keluarga. Kebersihan, pola makan dan gaya hidup adalah yang pasti kita kenal pertama kali dari keluarga.  Bagaimana kebiasaan kita terhadap kebersihan, pola makan dan gaya hidup pasti sedikit banyak dipengaruhi dengan bagaimana kita melihatnya di keluarga/rumah kita.</p>
<p>Penting banget lho bicarakan visi misi kita soal kesehatan dengan (calon) pasangan.  Jangan salah, perbedaan visi misi dalam hal kesehatan, bisa lho memicu pertengkaran suami istri dan bisa memicu masalah di bidang lain, seperti keuangan. Misal: suami terbiasa makan makanan rumahan, sementara istri lebih senang makan di luar.  Hal ini bisa memicu pertengkaran dan bila kebiasaan makan di luar yang terjadi dalam keluarga atau timbul masalah kesehatan akibat kebiasaan makan di luar yang tidak baik, tentu berdampak pada keuangan.  Dengan mampu menjaga kesehatan dan menjadi konsumen kesehatan yang cerdas, banyak lho dana yang bisa kita hemat .</p>
<p>Semakin jelas ya, bahwa berdaya alias “melek” kesehatan diperlukan dalam hidup berkeluarga, terlebih bila telah berhadapan dengan kehamilan dan anak.</p>
<p>Jadi apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk “berdaya kesehatan” sebagai persiapan membangung keluarga? Langkah pertama dan utama tentu: belajar dan belajar.  Belajar bersama dengan pasangan sangat membantu menyamakan visi misi berdua, tapi bila pun belum ada pasangan saat ini, mari tetap belajar agar ketika pasangan hadir, kita siap berbagi ilmu dengannya.</p>
<p>Belajar tentang apa?  yang amat penting tapi sering dilupakan karena mengganggap sudah tahu adalah belajar pola makan, gaya hidup sehat dan kebersihan  serta bagaimana mewujudkannya.  Dan jangan lupa, bukan hanya pola makan dan gaya hidup orang dewasa saja, pelajari bagaimana pola makan dan hidup sehat untuk anak.  Kita semua pasti ingin punya anak yang punya kebiasaan yang sehat bukan? Ayah dan ibu adalan tim guru sekaligus pemberi contoh yang pertama dan utama bagi si anak.</p>
<p>Yang pertama belajar tentang gaya hidup sehat.    Pencinta olahraga cenderung berasal dari keluarga yang punya kebiasaan olah raga yang baik.  Penikmat makanan rumahan cenderung lahir dari keluarga yang rajin memasak di rumah.  Para perokok cenderung berasal dari keluarga yang ada perokoknya  Hmm.. yang satu ini perlu dibicarakan secara sangat serius bagi mereka yang (calon) pasanganya adalah perokok.  Saya bagi pengalaman saya sedikit ya… Dulu, ketika masih pacaran suami saya perokok berat.  Saat melamar saya, kami bicarakan hal ini.  Dampak rokok, cara berhenti dan target berhenti kami bicarakan bersama.  Suami saya berhenti merokok total 3 bulan sebelum kami menikah dan puji Tuhan berlangsung hingga sekarang dan saya harap seterusnya karena kami punya 2 anak laki-laki.</p>
<p>Yang kedua: mari belajar tentang pola makan yang sehat (untuk anak dan dewasa) dan bagaimana mewujudkannya dalam keluarga. Mulai dari belajar bagaimana bisa sukses menyusui, mengenalkan makanan pendamping ASI alami rumahan yang sehat serta bagaimana untuk mempertahankan menyusui sampai usia 2 tahun, meyapih dengan cinta dan mengajari anak untuk punya selera dan kebiasaan makan yang sehat hingga kelak dewasa (masing-masing akan dibahas di artikel2 terpisah).</p>
<p>Yang ketiga, soal kebersihan,  kebersihan.. ini juga sering dianggap tahu dan tidak penting untuk dibahas. Masak iya gak bisa bedakan bersih dan kotor ? tapi yakin sudah punya persepsi yang benar dan sepaham dengan (calon) pasangan? Perlu gak sih mencuci tangan dengan sabun antibakteri? mengepel lantai dengan obat pel antibakteri? Benar gak sih harus beli AC antivirus ? Hmm… nanti ini akan jadi 1 artikel terpisah ya…</p>
<p>Selanjutnya (keempat) belajar tentang menjadi pasien yang berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi.  Kenapa juga mau menikah aja harus belajar semua itu? Kan tinggal pergi ke dokter?</p>
<p>Setelah menikah, yang terlintas tentu adalah kehadiran anak. Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas generasi penerus, anak-anak kita.  Kualitas anak pertama-tama ditentukan oleh kualitas kehamilanya bukan? Pernah dengar gerakan 1000 hari ? 1000 hari ini adalah untuk mempersiapkan kualitas generasi penerus yang baik, dimulai dari 3 bulan pra-konsepsi, alias 3 bulan sebelum hamil, selama masa kehamilan 9 bulan hingga usia anak 2 tahun (total 3 tahun alias 1000 hari bukan?).  Sejak pra kehamilan ini semestinya calon ayah-ibu sudah mendatangi layanan kesehatan (sebagai pasien) untuk mendapatkan arahan, suplementasi dan vaksinasi. Nantikan artikel berikut tentang hal ini ya… <img src="http://pranikah.org/pranikah/wp-includes/images/smilies/simple-smile.png" alt=":-)" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> (bikin penasaran)</p>
<p>Lalu, setelah hamil sudah pasti kita akan berhubungan secara rutin dengan tenaga kesehatan.  Penting sekali untuk punya pengetahuan yang baik tentang kesehatan kehamilan, persalinan dan anak agar kita dapat mengambil keputusan untuk diri kita sendiri berdasarkan informasi yang baik dan tidak sepihak (hanya dari dokter).   Untuk membantu terwujudnya layanan kesehatan yang baik, kita perlu jadi konsumen kesehatan yang kritis dan ikut bertanggung jawab.</p>
<p>Bagaimana penggunaan obat rasional dan vaksinasi berperan dalam kesehatan dan kualitas keluarga kita? Nantikan artikel khusus tentang 2 hal ini ya…  Hadduuuh ini artikel kerjanya cuman bikin orang penasaran.</p>
<p>Jangan lupa, langkah kedua setelah mempelajari semua hal di atas (yang akan dirinci dalam kultwit2 setiap senin selanjutnya) adalah komunikasikan dengan pasangan.  Masalah seputar kesehatan dapat memicu pertengkaran, tidak saja dengan pasangan tapi juga dengan keluarga besar, terlebih bila menyangkut kesehatan anak (cucu ).</p>
<p>Maaf ya teman-teman pra-nikah. Ini adalah artikel pembuka tentang mengapa kok kita sebaiknya melek soal kesehatan sebelum kita menikah dan semoga setiap senin teman2 setia mengikuti kultwit seputar kesehatan &amp; keluarga</p>
<p>Dengan membangun keluarga yang sehat,  kita akan memiliki bangsa yang seha dan mampu berkarya. Yuk, kita mulai itu dari sekarang, dari sebelum kita menikah, sebelum anak hadir, sebelum sakit datang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
