<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; kesehatan</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/tag/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Tunjukkan Cinta Dengan Jauhi Seks Bebas</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/tunjukkan-cinta-dengan-jauhi-seks-bebas/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/tunjukkan-cinta-dengan-jauhi-seks-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Sep 2013 10:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Sayang dengan pacar? Sayang dengan diri sendiri? Jangan menjerumuskan diri sendiri dalam masalah yang rumit, terlebih melibatkan makhluk kecil tidak berdosa. Bagaimakah perasaan orang tua jika hal ini terjadi? Hindari seks bebas dan berbahagialah saat menyambut kehadiran makhluk kecil di dunia ini karena kehadirannya telah dipersiapkan dan dinaungi oleh pernikahan.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/MP900440294.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-579" alt="Rose On Wood BW" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/MP900440294-1024x767.jpg" width="557" height="417" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau pacaran ngapain aja sih? Kegiatan seru apa yang dilakukan bersama-sama? Jalan-jalan keliling Indonesia? Olahraga sama-sama atau nonton film terbaru di bioskop?</p>
<p style="text-align: justify;">Pranikah akan mengangkat tema tentang pacaran sehat. Apa sih pacaran sehat itu? Tentunya dengan menjauhi seks bebas. Kenapa harus dijauhi?</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, sebanyak 4,8 persen dari usia 10 tahun sampai 14 tahun, remaja melakukan hubungan di luar nikah. Sebesar 0,5 persen sampai 1,5 persen di antaranya hamil. Kemudian sebesar 41,8 persen pada usia 15 tahun sampai 19 tahun melakukan hubungan di luar nikah dan 13 persen di antaranya hamil!<span id="more-578"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jika tiba-tiba hamil sebelum menikah dan masih menjadi siswa SMP, SMA atau masih kuliah, reaksinya yang timbul biasanya malu, takut, stres dan lain-lain yang pasti dirasakan. Ancaman putus sekolah, penolakan keluarga dan masa depan yang belum jelas salah satu hal yang pasti akan dikhawatirkan. Hamil tanpa rencana juga memiliki banyak resiko dan masalah lain yang mengikuti, dan juga hamil disaat usia masih terlalu muda juga memiliki banyak resiko kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan kondom sebagai pelindung saat berhubungan tetap memiliki resiko karena tingkat kegagalan kondom sebagai alat kontrasepsi cukup tinggi yaitu sekitar 15-20%.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya hamil sebelum menikah saja resiko dari seks bebas, tapi juga resiko tertular penyakit. Apakah pasangan bebas dari Hepatitis B? Bebas dari HIV, apakah ada penyakit menular lainnya yang sudah diketahui?</p>
<p style="text-align: justify;">Data terakhir menunjukkan bahwa 9060 warga Jakarta mengidap penyakit menular seksual dan 3007 orang diantaranya berusia 14-24 tahun.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa sajakah resiko hamil diluar nikah bagi si ibu? Biasanya kehamilan terjadi tidak direncanakan dan mengundang banyak sekali konsekuensinya. Diantaranya yaitu:</strong></p>
<ol>
<li>Gangguan mental pada ibu.</li>
<li>Depresi pada ibu karena hamil diluar nikah bisa menyebabkan ibu lebih mudah mengalami sakit selama masa kehamilan, menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, sehingga lahir dengan berat yang rendah dan kelahiran prematur.</li>
<li>Ibu dan bayi tertular hepatitis B atau HIV dari si ayah bayi, karena tidak adanya pemeriksaan kesehatan dan pencegahan sebelumnya. Ibu yang hamil di luar nikah, banyak yang tidak periksa hamil secara rutin, karena malu atau hal lainnya, dan ini bisa fatal buat si ibu, karena masalah serius pada kehamilan bisa tidak terdeteksi.</li>
<li>Bayi mengalami cacat bawaan berat karena ibu kekurangan asam folat (yang harusnya diminum sejak 3 bulan sebelum hamil) atau karena ibu terpapar penyakit infeksi selama kehamilan (karena ibu tidak vaksinasi) atau karena ibu tertular dari ayah bayi karena tidak adanya pemeriksaan kesehatan kedua belah pihak sebelum hubungan seks terjadi.</li>
<li>Bayi mengidap penyakit yang diturunkan dari ayah maupun ibu, karena tidak adanya pencegahan.</li>
<li>Hubungan batin ibu dan bayi kurang baik, yang dapat berdampak pada tumbuh kembang bayi nantinya</li>
<li>Persalinan yang berisiko, karena tidak ditolong oleh tenaga kesehatan, karena malu atau karena masalah biaya.</li>
<li>Kegagalan menyusui.  Kegagalan menyusui ini membawa dampak yang panjang buat kesehatan ibu dan bayi.</li>
<li>Bayi yang dilahirkan dari kehamilan akibat seks bebas lebih berisiko mengalami kekerasan dan pengabaian.</li>
<li>Risiko aborsi yang mengancam jiwa ibu dan kesehatan alat reproduksi ibu.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana dengan resiko sang ayah? Diantaranya yaitu:</strong></p>
<ol>
<li>Ayah bayi juga bisa tertular penyakit menular yang ternyata dimiliki oleh si ibu bayi karena saling tidak mengetahui kesehatan masing-masing pasangan.</li>
<li>Ayah bayi juga terancam depresi karena rasa bersalah pada diri sendiri, orang tua dan pacar.</li>
<li>Ayah bayi terancam putus sekolah karena harus menikah dan mencari nafkah, masa depan mendadak berubah dalam waktu singkat</li>
<li>Perasaan bersalah seumur hidup jika tidak siap bertanggung jawab dan memilih mengabaikan tanggung jawab.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sayang dengan pacar? Sayang dengan diri sendiri? Jangan menjerumuskan diri sendiri dalam masalah yang rumit, terlebih melibatkan makhluk kecil tidak berdosa. Bagaimakah perasaan orang tua jika hal ini terjadi? Hindari seks bebas dan berbahagialah saat menyambut kehadiran makhluk kecil di dunia ini karena kehadirannya telah dipersiapkan dan dinaungi oleh pernikahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/tunjukkan-cinta-dengan-jauhi-seks-bebas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cek Kesehatan Sebelum Menikah</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/cek-kesehatan-sebelum-menikah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/cek-kesehatan-sebelum-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Sep 2013 04:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Siap-siap menikah? Selain gedung, katering, gaun, undangan apa lagi ya? Jangan lupakan pre marital check up atau pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Emang penting? Selama ini tidak ada keluhan kok? Nah baca dulu artikel ini yuk, ternyata banyak yang perlu dipahami sebelum menikah sehubungan kesehatan pasangan masing-masing. ]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-COUPLES-COUNSELING-large570.jpg"><img class="size-medium wp-image-560 aligncenter" alt="r-COUPLES-COUNSELING-large570" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-COUPLES-COUNSELING-large570-300x125.jpg" width="300" height="125" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Image Source: <a href="http://i.huffpost.com/gen/1231347/thumbs/r-COUPLES-COUNSELING-large570.jpg?6">here</a></p>
<p>Saat tanggal pernikahan ditentukan, pada umumnya para pasangan yang mau menikah beserta keluarganya sibuk dengan tetek bengek persiapan teknis pernikahan seperti gedung, format acara, baju pengantin, katering, dll. Sedikit sekali pasangan yang memasukkan cek kesehatan ke dalam daftar persiapan pernikahannya. Dalam tulisan kali ini, akan dipaparkan kenapa sih Pre- Marital Check up atau Screening yang sering disebut juga Pre-Conception Screening sangat penting.</p>
<p>Sebagian besar masyarakat umumnya tidak sepenuhnya mengetahui status kesehatannya secara detil, apalagi bagi yang tidak melaksanakan general check up rutin tahunan. Seseorang yang terlihat sehat bisa saja sebenarnya adalah silent carrier/pembawa dari beberapa penyakit infeksi &amp; hereditas dan saat hamil dapat mempengaruhi janin atau bayi yang dilahirkannya nanti. Pre-Marital Screening terdiri atas beberapa kelompok tes untuk pasangan yang akan menikah. Tes-tes ini dirancang untuk mengidentifikasi adakah masalah kesehatan saat ini / yang akan muncul di kemudian hari saat pasangan mengandung/memiliki anak.</p>
<p>Beberapa negara sudah mulai memasukkan Pre-Marital Screening sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan izin untuk menikah (by law / secara hukum).  Salah satu contohnya adalah Kementrian Kesehatan Saudi Arabia yang sejak tahun 2004 mewajibkan Pre-Marital Screening ini untuk menurunkan angka terjadinya kelainan genetis generasi selanjutnya. Programnya dinamakan Pre-Marital Medical Test. Pada tahun 2008 program ini diperbaharui dengan dimasukannya Screening Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV sebagai syarat wajib pasangan yang akan menikah dan program ini dinamakan Program of Healthy Marriage. Negara lain yang mengimplementasikan Pre-Marital Screening ini adalah China, selain itu diadakan pula program konseling / pembekalan di bidang kesehatan kepada pasangan yang akan menikah.</p>
<p>Selanjutnya akan dipaparkan hal-hal apa saja yang perlu dimasukkan dalam Pre-Marital Screening beserta penjelasannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/poto.jpg"><img class="size-medium wp-image-561 aligncenter" alt="poto" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/poto-300x274.jpg" width="300" height="274" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Image Source: <a href="http://prosidia.files.wordpress.com/2010/12/poto.jpg">here</a></p>
<p><b>Pemeriksaan kesehatan secara umum, yang terdiri dari :</b></p>
<p><b>1. Pemeriksaan fisik / klinis lengkap</b></p>
<p>Salah satu manfaatnya dapat diketahui status tekanan darah pasangan.  Tekanan darah yang normal adalah salah satu kunci kesehatan.Tekanan darah tinggi/hipertensi berbahaya saat wanita hamil. Hipertensi saat kehamilan salah satunya dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. Selain itu apakah calon pasangan obesitas atau tidak. Obesitas dapat mempengaruhi kesuburan. Obesitas selama kehamilan menyebabkan beberapa resiko seperti diabetes, pre-eklampsia, meningkatnya resiko infeksi saluran kemih, sulit untuk melahirkan tepat waktu, meningkatkan resiko keguguran dan kesulitan saat melahirkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>2. Pemeriksaan darah rutin meliputi kadar hemoglobin (hb), hematokrit, sel darah putih (leukosit) dan faktor pembekuan darah (trombosit)</b>.</p>
<p>Bagi calon Ibu, perlu diketahui kadar hb nya apakah menderita anemia / tidak, juga agar diketahui apakah calon Ibu mengalami ganguan faktor pembekuan darah.  Dari hasil pemeriksaan darah juga dapat diketahui apakah pasangan mengalami kondisi kadar kolesterol tinggi yang meningkatkan resiko penyakit jantung koroner dan stroke. Hal penting lainnya adalah  pemeriksaan gula darah , yang diperiksa sewaktu puasa dan tidak puasa agar diketahui apakah calon Ibu mengidap diabetes mellitus, atau setidaknya memiliki kelainan yang dapat berkembang menjadi diabetes mellitus, seperti intoleransi glukosa. Ibu hamil yang menderita diabetes tidak terkontrol dapat mengalami beberapa masalah seperti : janin yang tidak sempurna/cacat, hipertensi, hydramnions (meningkatnya cairan ketuban), meningkatkan resiko kelahiran prematur, serta macrosomia (bayi menerima kadar glukosa yang tinggi dari Ibu saat kehamilan sehingga janin tumbuh sangat besar).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>3. Golongan darah dan Rhesus</b>.</p>
<p>Apabila Ibu bergolongan darah O sementara bayi bukan bergolongan darah O adalah salah satu faktor resiko Jaundice/Kuning pada bayi (ABO Incompatibility). Sementara bila diketahui Janin Rhesus (+) pada ibu Rhesus (-) akan menimbulkan inkompatibilitas Rhesus yang bisa mengakibatkan kematian pada janin. Dengan mengatahui Rhesus sebelum hamil, dokter dapat segera mengatasinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>4. Urinalisis lengkap</b></p>
<p>Agar diketahui adakah ISK/ infeksi saluran kemih dan adanya darah, protein, dll yang menunjukkan adanya penyakit tententu. Penyakit ISK saat kehamilan beresiko baik bagi Ibu dan bayi berupa kelahiran prematur, berat janin yang rendah dan resiko kematian saat persalinan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pemeriksaan beberapa penyakit hereditas</b><b> atau </b><b>yang diturunkan dari orangtua</b></p>
<p><b></b><b>1. Thalasemia.</b></p>
<p>Thalasemia adalah salah satu penyakit kelainan darah. Penderita penyakit ini tidak mampu memproduksi hemoglobin yang normal. Penderita Thalasemia mayor tidak dapat disembuhkan sehingga menjalani pengobatan berupa transfusi darah seumur hidup dan beresiko penumpukan zat besi dalam tubuh. Thalasemia telah menjadi salah satu isu kesehatan di Indonesia karena 3- 10% populasi di Indonesia adalah carrier / pembawa gen Thalasemia beta dan 2,6-11% pembawa Thalasemia alfa. Saat ini paling tidak tercatat 5.000 pasien Thalasemia di Indonesia dan diperkirakan angka ini sangat jauh lebih rendah dari penderita Thalasemia di Indonesia yang tidak terdata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>2. Hemofilia</b>.</p>
<p>Darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang lain yang normal. Penderita hemofilia akan lebih banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>3. Sickle Cell Disease</b>.</p>
<p>SCD disebut juga penyakit sel sabit di Indonesia, merupakan penyakit kelainan sel darah merah yang mudah pecah sehingga menyebabkan anemia. Secara statistik penyakit ini lebih banyak ditemukan pada ras Afrika, kemudian Timur Tengah dan beberapa kasus di Asia (India).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pemeriksaan beberapa penyakit menular</b><b></b></p>
<p><b>1. HIV, Hepatitis B (HBV) dan Hepatitis C (HCV) . </b><b></b></p>
<p>Saat ini menurut WHO terdapat 4,1 juta jiwa di dunia terinfeksi HIV, dimana 95% diantaranya berada di negara berkembang seperti sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2012 ditemukan kasus HIV sebanyak 21.511 penderita dan jumlah ini jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sementara untuk penderita Hepatitis B saat ini diperkirakan sebanyak 1,8 milyar manusia dan 350 juta jiwa sudah mengalami infeksi kronis. Sementara diperkirakan 170 juta jiwa di dunia terinfeksi virus Hepatitis C .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>2. Penyakit HIV, Hepatitis B dan C adalah penyakit yang mengancam jiwa</b>.</p>
<p>Infeksi virus ini dapat ditularkan melalui darah, hubungan seksual dan cairan tubuh. Penularan HIV juga bisa melalui transfusi darah dan transplantasi organ tubuh. Sementara penularan virus Hepatitis B&amp;C rentan terjadi pada pemakai obat-obatan terlarang melalui jarum suntik. Pemeriksaan akan 3 (tiga) penyakit infeksi ini sangat penting karena virus-virus ini dapat ‘diam/tidur’ dalam jangka waktu yang lama tanpa menunjukkan gejala apapun. Menikah dengan pasangan yang membawa virus-virus ini beresiko membahayakan pasangan dan juga calon bayi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>3. TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex Virus)</b>.</p>
<p>Infeksi TORCH saat kehamilan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir prematur, atau bahkan kelainan bawaan pada bayi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>4. Venereal Disease Screen (pemeriksaan untuk penyakit syphilis) &amp; penyakit-penyakit lain yang ditularkan melalui hubungan seksual lainnya (STI/Sexually Transmitted Infections)</b></p>
<p>Seperti chlamydia, gonorrhea, HPV/Human papillomavirus , herpes. Penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan masalah kesuburan dan saat kehamilan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pemeriksaan yang berhubungan dengan organ reproduksi </b><b>dan</b><b> kesuburan</b></p>
<p><b>1. Untuk wanita</b></p>
<p>Meliputi pemeriksaan USG agar diketahui kondisi rahim, saluran telur, indung telur. Pemeriksaan lebih lanjut seperti HSG (Hysterosalpingogram) untuk mengetahui kondisi tuba falopii dan adakah sumbatan akibat kista, polip endometrium, tumor fibroid, dll. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk wanita yang siklus haidnya tidak teratur atau sebaliknya berlebihan. Hormon yang diperiksa misalnya hormon FSH (Follicle stimulating hormone), LH (Lutenizing hormone) dan Estradiol (hormone estrogen).</p>
<p>2. <b>Untuk pria</b></p>
<p>Selain dilakukan pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan penis, skrotum, prostat juga dilakukan pemeriksaan hormon FSH yang berperan dalam proses pembentukan sperma serta kadar hormon testosteron. Dapat dilakukan juga analisis semen dan sperma.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Alergi</b>. Salah satu yang sering terlewatkan adalah alergi.  Alergi adalah sistem kekebalan tubuh yang bereaksi di luar normal terhadap beberapa substansi (alergen) yang tidak berbahaya bagi sebagian besar manusia. Kecenderungan seseorang memiliki alergi adalah karena faktor keturunan walaupun tidak selalu orang tua yang memiliki bakat alergi akan menurunkannya kepada anak-anaknya. Cukup penting untuk membuat daftar hal-hal yang memicu alergi dari kedua pasangan terutama bila pasangan ada yang pernah mengalami reaksi anafilaksis yang dapat menyebabkan kematian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/9349286_orig.jpg"><img class="size-medium wp-image-562 aligncenter" alt="9349286_orig" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/9349286_orig-300x213.jpg" width="300" height="213" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Vaksinasi Dewasa</b><b>.  </b>Vaksin yang berkaitan langsung dengan kehamilan adalah Vaksin Hepatitis B, Tetanus, MMR (Measles, Mumps, Rubella), Varisela (cacar air), Influenza, serta Vaksin-vaksin dewasa lainnya sesuai Jadwal Imunisasi Dewasa yang dikeluarkan oleh Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI.<b></b></p>
<p>Sebagai penutup , Pre-marital screening saja kurang lengkap tanpa dikombinasikan dengan bimbingan/konseling kesehatan serta sikap pro aktif dari pasangan yang akan menikah untuk mencari informasi mengenai kesehatan. Selain itu pasangan yang akan menikah diharapkan menjadi konsumen kesehatan cerdas yang menjadi mitra sejajar tenaga kesehatan. Semoga di masa mendatang Pre-marital Screening ini menjadi program pemerintah dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/cek-kesehatan-sebelum-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pranikah Matang: Keluarga Berkualitas, Ketahanan Keluarga Kuat</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 20:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hak dan kewajiban pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan berkeluarga]]></category>
		<category><![CDATA[selamatkan pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Menikah atau membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah adalah hak setiap orang (UU 52/2009).  Menikah yang merupakan ikatan lahir batin antara suami dan isteri bertujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13px; line-height: 19px;">Menikah atau membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah adalah hak setiap orang (UU 52/2009).  Menikah yang merupakan ikatan lahir batin antara suami dan isteri bertujuan untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (UU 1/1974). Dengan menikah, suami dan isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat (UU 1/1974).</span></p>
<p>Setelah menikah, pasangan suami isteri (pasutri) harus siap menjadi Ayah dan Bunda, baik dari segi ekonomi,  maupun dari segi pendidikan.  Mengapa?  Karena dengan siap menjadi Ayah Ibu yang bertanggungjawab maka dengan sendirinya akan melindungi dan memenuhi hak asasi anak untuk hidup aman dan nyaman. Hal ini pun menjadi perhatian pemerintah sebagaimana terlihat dari artikel berikut http://menegpp.go.id/V2/index.php/component/content/article/12-anak/477-ilm</p>
<p>Bagaimana cara menjadi Orangtua yang siap dan bertanggungjawab? mulai dgn benar! perkokoh relasi sejak #pranikah, agar dapat bersama membentuk keluarga berkualitas.</p>
<p><span id="more-377"></span><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/04/keluarga-bahagia1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-406" alt="keluarga-bahagia1" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/04/keluarga-bahagia1.jpg" width="217" height="185" /></a></p>
<p><b>K</b><b>eluarga</b><b> Berkualitas</b><b> </b></p>
<p>Menurut UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (“UU 52/2009”), Keluarga berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, keluarga yang bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Keluarga yang berkualitas dapat menjadi media sumber daya manusia yang tangguh bagi kepentingan bangsa dan negara.</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Mulai dengan Benar!</b></p>
<p>Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.  Menurut UU 52/2009, untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, perlu memastikan bahwa:</p>
<ol start="1">
<li>keluarga berada dalam lingkungan yang sehat,</li>
<li>penyiapan dan pengaturan perkawinan,</li>
<li>memastikan kehamilan dan kelahiran yang aman,</li>
<li>penurunan angka kematian,</li>
<li>pengembangan kualitas penduduk,</li>
<li>peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.</li>
</ol>
<p>Memang keenam hal diatas adalah kewajiban pemerintah untuk dapat memfasilitasi terwujudnya hak penduduk tersebut, namun pada dasarnya hal tersebut hanya dapat terwujud bila masyarakatnya dalam hal ini suami dan isteri bahu membahu mewujudkannya. Keenam hal diatas butuh persiapan dan pembelajaran yang cukup baik dari segi kesehatan, keuangan dan kecukupan informasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Perkokoh Relasi</b></p>
<p>Masa pranikah adalah masa yang tepat untuk saling belajar memahami makna kewajiban menurut UU 1/1974 tentang perkawinan ini, agar kewajiban suami isteri untuk <strong>saling</strong> <strong>cinta mencintai</strong>, <strong>hormat menghormati, setia</strong> dan <strong>memberi bantuan lahir bathin</strong> yang satu kepada yang lain, tidak hanya diketahui tapi juga dipahami dan dilaksanakan.</p>
<p>Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan bukanlah tujuan sepihak, didalamnyapun mengandung hak atas kesehatan reproduksi. Oleh karenanya calon pasangan suami isteri (pasutri) sejak masa pranikah perlu bersama membicarakan dan merencanakan pencapaian tujuan keluarga bahagia dan kekal.</p>
<p>Tak sedikit pasutri yang baru membicarakan mengenai melanjutkan keturunan setelah menikah, karena saat pranikah mereka sepakat untuk membicarakannya setelah rumah tangga mereka yakini kokoh untuk maju ke tahap selanjutnya tersebut. Tentunya untuk itu butuh memastikan dilakukannya penundaan kehamilan secara medis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Bersama Berencana</b></p>
<p>Suami dan/atau isteri mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berencana (Pasal 25 UU 52/2009) (baca juga artikel Kesetaraan dalam Pernikahan)</p>
<p>Pengaturan Keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam UU 52/2009 tersebut dapat menjadi bekal diskusi di masa pranikah.  Pasangan dapat berdiskusi kapan mereka berencana menikah, sudah idealkah usia mereka dari segi kesehatan reproduksi, sudah idealkah usia pasangan, bila setelah menikah mereka akan langsung dianugerahi kehamilan oleh Yang Maha Kuasa?</p>
<p>Pasangan wajib untuk menghormati dan mempelajari hak kesehatan reproduksi yang dimiliki oleh pasangannya.  Karena kehamilan, kelahiran akan sangat menentukan dan ditentukan oleh kesehatan tiap tiap pasangan. Inilah mengapa pendidikan mengenai kesehatan reproduksi perlu dipelajari sedini mungkin dengan harapan tidak terjadi kehamilan yang tidak diharapkan dan atau kehamilan di usia dini yang tidak hanya beresiko bagi keselamatan ibu dan bayi, tapi juga akan memberikan dampak kehidupan tumbuh kembang anak.</p>
<p>Kehamilan yang sehat, Kelahiran yang aman dan pola pemberian makan bayi membutuhkan informasi yang rasional untuk dapat dilalui dengan aman dan nyaman. Pasangan dapat mulai mencari tau mengapa UU 52/2009 menyampaikan bahwa air susu ibu (ASI) serta menyusui ekslusif dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya, mengapa UU Kesehatan Nomor 36/2009 pun bicara bahwa ASI Ekslusif adalah hak bayi dan mengapa WHO pun mengatakan standar emas pemberian makan bayi adalah menyusui ekslusif 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai dengan anak berusia 2 tahun atau lebih dengan didampingi makanan pendamping ASI alami sejak usia 6 bulan. (<i>baca juga artikel artikel di divisi medis pranikah.org)</i></p>
<p>Angka kematian ibu dan bayi masih tinggi di Indonesia, kehamilan beresiko, ketidaktahuan proses kelahiran yang aman dan ketidaktahuan berjuta manfaat ASI bagi keselamatan bayi, membuat perempuan dan anak menjadi kaum rentan dengan resiko kematian yang tinggi.</p>
<p>Karena itu seluruh masyarakat perlu memberikan perhatian penuh, untuk melindungi ibu dan bayi di Indonesia. Kita dapat memulainya dengan memastikan kesehatan dan keselamatan pasangan kita. Ketika kita memutuskan melamarnya untuk melindunginya bukan? Membuatnya dapat tersenyum bahagia selalu dan selamanya seperti saat pertama kali kita jatuh cinta kepadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Ketahanan Keluarga Kuat</b></p>
<p>Ketahanan dan kesejahteraan keluarga menurut UU 52/2009 adalah keluarga yang ulet, tangguh dan mampu secara fisik materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.</p>
<p>Ketahanan keluarga membutuhkan Iman dan ketakwaan, karena itu pernikahan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, karena tak ada seorangpun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk siap menemui dan menjalani masa itu. (<i>baca juga artikel-artikel divisi psikologi dan keuangan di pranikah.org</i>)</p>
<p>Salah satu tugas Ayah dan Ibu adalah memastikan perlindungan bagi anak-anaknya. Untuk siap menjadi Ayah dan Ibu yang bertanggungjawab, dan menjalankan peran masyarakat dalam memastikan perlindungan anak, ada baiknya di masa pranikah, pasanganpun mempelajari apa yang diatur dalam Convention on the right of the child (<a href="http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CRC.aspx">http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CRC.aspx</a>) dan Undang Undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002.</p>
<p>Ketika memutuskan untuk siap dianugerahi Anak oleh Yang Maha Kuasa, maka harusnya pada saat itu pula kita sudah mempersiapkan penyambutannya, sudah memahami dan siap menjalankan kewajiban orangtua untuk memastikan anak mendapatkan kehidupan yang layak, kesehatan yang terbaik, pendidikan yang terbaik dan keamanan dan kenyamanan dalam tumbuh kembangnya. Siap menjadi orangtua yang mau dan mampu mendidik dan memberi bekal bagi anaknya untuk menjadi pribadi yang cerdas, tangguh dan bertakwa.</p>
<p>Tak ada alasan atau kondisi apapun yang membolehkan ayah dan/atau ibu melakukan kekerasan (baik fisik maupun psikis) pada anaknya.  Berbagai perangkat hukum tak akan pernah cukup menjamin terhapusnya kekerasan pada anak, kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri, menghargai dan menghormati hak-hak anak.</p>
<p>Tak ada alasan apapun atau siapapun yang dapat memisahkan anak dari orangtuanya, bahkan sejak saat dilahirkan (adalah hak anak untuk mendapatkan inisiasi menyusu dini &#8211; PP 33/2012 tentang pemberian ASI Ekslusif), namun dengan demikian adalah kewajiban orangtua untuk memastikan bahwa kita dapat menjadi orangtua yang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi tumbuh kembangnya untuk dapat menjadi generasi penerus yang akan memajukan Bangsa Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Yuk! Selamatkan pernikahan, selamatkan rumah tangga, selamatkan anak-anak kita </b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
<p align="center"><b> </b></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/pranikah-matang-keluarga-berkualitas-ketahanan-keluarga-kuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah perlu berdaya kesehatan?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2013 04:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Menikah perlu berdaya kesehatan? Apa maksudnya berdaya kesehatan? Lalu apa hubunganya dengan menikah?
Berdaya kesehatan, seperti dengan halnya berdaya di bidang lain adalah dapat melakukan upaya kesehatan (terutama promotif dan preventif) sampai tahap tertentu secara mandiri. ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/dokter.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-229" title="dokter" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/dokter.jpg" alt="" width="226" height="192" /></a>Menikah perlu berdaya kesehatan? Apa maksudnya berdaya kesehatan? Lalu apa hubunganya dengan menikah?</p>
<p>Berdaya kesehatan, seperti dengan halnya berdaya di bidang lain adalah dapat melakukan upaya kesehatan (terutama promotif dan preventif) sampai tahap tertentu secara mandiri. Kok harus mandiri? Harus dong, upaya kesehatan promotif (meningkatkan derajat kesehatan) dan preventif (pencegahan) yang utama ada di tangan kita, sebagai si pemilik kesehatan.  Lagipula, kita semua tahu, kesehatan itu penting sekali, walau baru terasa pentingnya di saat kita sakit. Tanpa kesehatan kita dapat terhalang untuk beraktivitas dan berkarya sesuai kehendak kita.</p>
<p>Upaya promotif dan preventif kesehatan di antaranya adalah kebersihan, pola makan sehat, gaya hidup sehat, istirahat cukup, menjadi pasien yang cerdas/berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi. Kalau dilihat apa saja yang perlu dilakukan, betul bukan bahwa semua itu ada di tangan kita?</p>
<p>Lalu apa hubungan berdaya kesehatan dengan menikah? Kenapa ada tim dokter di @twitpranikah? Menikah adalah dasar terbentuknya keluarga. Kebiasaan baik atau buruk pertama-tama dikenalkan dalam keluarga. Kebersihan, pola makan dan gaya hidup adalah yang pasti kita kenal pertama kali dari keluarga.  Bagaimana kebiasaan kita terhadap kebersihan, pola makan dan gaya hidup pasti sedikit banyak dipengaruhi dengan bagaimana kita melihatnya di keluarga/rumah kita.</p>
<p>Penting banget lho bicarakan visi misi kita soal kesehatan dengan (calon) pasangan.  Jangan salah, perbedaan visi misi dalam hal kesehatan, bisa lho memicu pertengkaran suami istri dan bisa memicu masalah di bidang lain, seperti keuangan. Misal: suami terbiasa makan makanan rumahan, sementara istri lebih senang makan di luar.  Hal ini bisa memicu pertengkaran dan bila kebiasaan makan di luar yang terjadi dalam keluarga atau timbul masalah kesehatan akibat kebiasaan makan di luar yang tidak baik, tentu berdampak pada keuangan.  Dengan mampu menjaga kesehatan dan menjadi konsumen kesehatan yang cerdas, banyak lho dana yang bisa kita hemat .</p>
<p>Semakin jelas ya, bahwa berdaya alias “melek” kesehatan diperlukan dalam hidup berkeluarga, terlebih bila telah berhadapan dengan kehamilan dan anak.</p>
<p>Jadi apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk “berdaya kesehatan” sebagai persiapan membangung keluarga? Langkah pertama dan utama tentu: belajar dan belajar.  Belajar bersama dengan pasangan sangat membantu menyamakan visi misi berdua, tapi bila pun belum ada pasangan saat ini, mari tetap belajar agar ketika pasangan hadir, kita siap berbagi ilmu dengannya.</p>
<p>Belajar tentang apa?  yang amat penting tapi sering dilupakan karena mengganggap sudah tahu adalah belajar pola makan, gaya hidup sehat dan kebersihan  serta bagaimana mewujudkannya.  Dan jangan lupa, bukan hanya pola makan dan gaya hidup orang dewasa saja, pelajari bagaimana pola makan dan hidup sehat untuk anak.  Kita semua pasti ingin punya anak yang punya kebiasaan yang sehat bukan? Ayah dan ibu adalan tim guru sekaligus pemberi contoh yang pertama dan utama bagi si anak.</p>
<p>Yang pertama belajar tentang gaya hidup sehat.    Pencinta olahraga cenderung berasal dari keluarga yang punya kebiasaan olah raga yang baik.  Penikmat makanan rumahan cenderung lahir dari keluarga yang rajin memasak di rumah.  Para perokok cenderung berasal dari keluarga yang ada perokoknya  Hmm.. yang satu ini perlu dibicarakan secara sangat serius bagi mereka yang (calon) pasanganya adalah perokok.  Saya bagi pengalaman saya sedikit ya… Dulu, ketika masih pacaran suami saya perokok berat.  Saat melamar saya, kami bicarakan hal ini.  Dampak rokok, cara berhenti dan target berhenti kami bicarakan bersama.  Suami saya berhenti merokok total 3 bulan sebelum kami menikah dan puji Tuhan berlangsung hingga sekarang dan saya harap seterusnya karena kami punya 2 anak laki-laki.</p>
<p>Yang kedua: mari belajar tentang pola makan yang sehat (untuk anak dan dewasa) dan bagaimana mewujudkannya dalam keluarga. Mulai dari belajar bagaimana bisa sukses menyusui, mengenalkan makanan pendamping ASI alami rumahan yang sehat serta bagaimana untuk mempertahankan menyusui sampai usia 2 tahun, meyapih dengan cinta dan mengajari anak untuk punya selera dan kebiasaan makan yang sehat hingga kelak dewasa (masing-masing akan dibahas di artikel2 terpisah).</p>
<p>Yang ketiga, soal kebersihan,  kebersihan.. ini juga sering dianggap tahu dan tidak penting untuk dibahas. Masak iya gak bisa bedakan bersih dan kotor ? tapi yakin sudah punya persepsi yang benar dan sepaham dengan (calon) pasangan? Perlu gak sih mencuci tangan dengan sabun antibakteri? mengepel lantai dengan obat pel antibakteri? Benar gak sih harus beli AC antivirus ? Hmm… nanti ini akan jadi 1 artikel terpisah ya…</p>
<p>Selanjutnya (keempat) belajar tentang menjadi pasien yang berdaya, penggunaan obat rasional dan vaksinasi.  Kenapa juga mau menikah aja harus belajar semua itu? Kan tinggal pergi ke dokter?</p>
<p>Setelah menikah, yang terlintas tentu adalah kehadiran anak. Kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas generasi penerus, anak-anak kita.  Kualitas anak pertama-tama ditentukan oleh kualitas kehamilanya bukan? Pernah dengar gerakan 1000 hari ? 1000 hari ini adalah untuk mempersiapkan kualitas generasi penerus yang baik, dimulai dari 3 bulan pra-konsepsi, alias 3 bulan sebelum hamil, selama masa kehamilan 9 bulan hingga usia anak 2 tahun (total 3 tahun alias 1000 hari bukan?).  Sejak pra kehamilan ini semestinya calon ayah-ibu sudah mendatangi layanan kesehatan (sebagai pasien) untuk mendapatkan arahan, suplementasi dan vaksinasi. Nantikan artikel berikut tentang hal ini ya… <img src="http://pranikah.org/pranikah/wp-includes/images/smilies/simple-smile.png" alt=":-)" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> (bikin penasaran)</p>
<p>Lalu, setelah hamil sudah pasti kita akan berhubungan secara rutin dengan tenaga kesehatan.  Penting sekali untuk punya pengetahuan yang baik tentang kesehatan kehamilan, persalinan dan anak agar kita dapat mengambil keputusan untuk diri kita sendiri berdasarkan informasi yang baik dan tidak sepihak (hanya dari dokter).   Untuk membantu terwujudnya layanan kesehatan yang baik, kita perlu jadi konsumen kesehatan yang kritis dan ikut bertanggung jawab.</p>
<p>Bagaimana penggunaan obat rasional dan vaksinasi berperan dalam kesehatan dan kualitas keluarga kita? Nantikan artikel khusus tentang 2 hal ini ya…  Hadduuuh ini artikel kerjanya cuman bikin orang penasaran.</p>
<p>Jangan lupa, langkah kedua setelah mempelajari semua hal di atas (yang akan dirinci dalam kultwit2 setiap senin selanjutnya) adalah komunikasikan dengan pasangan.  Masalah seputar kesehatan dapat memicu pertengkaran, tidak saja dengan pasangan tapi juga dengan keluarga besar, terlebih bila menyangkut kesehatan anak (cucu ).</p>
<p>Maaf ya teman-teman pra-nikah. Ini adalah artikel pembuka tentang mengapa kok kita sebaiknya melek soal kesehatan sebelum kita menikah dan semoga setiap senin teman2 setia mengikuti kultwit seputar kesehatan &amp; keluarga</p>
<p>Dengan membangun keluarga yang sehat,  kita akan memiliki bangsa yang seha dan mampu berkarya. Yuk, kita mulai itu dari sekarang, dari sebelum kita menikah, sebelum anak hadir, sebelum sakit datang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/menikah-perlu-berdaya-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
