<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; Psikologi</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/category/psikologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Menanggapi &#8220;Kapan Nikah?&#8221;</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/menanggapi-kapan-nikah/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/menanggapi-kapan-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2018 06:22:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Pingkan]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[#StopTanyaKapanKawin]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=730</guid>
		<description><![CDATA[&#160;

Hari Raya #IdulFitri identik dengan kumpul bersama keluarga besar dan tetangga. Saat berkumpul, entah sengaja atau tidak, ada pertanyaan &#8220;terlarang&#8221; yang kurang nyaman didengar. Kemungkinan besar, pertanyaan tersebut adalah cara basa-basi, untuk mempererat kekerabatan. Atau ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2018/06/IMG_20180612_125839_089.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-731" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2018/06/IMG_20180612_125839_089-300x300.jpg" alt="IMG_20180612_125839_089" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Hari Raya #IdulFitri identik dengan kumpul bersama keluarga besar dan tetangga. Saat berkumpul, entah sengaja atau tidak, ada pertanyaan &#8220;terlarang&#8221; yang kurang nyaman didengar. Kemungkinan besar, pertanyaan tersebut adalah cara basa-basi, untuk mempererat kekerabatan. Atau bisa saja, berasal dari keingintahuan yang tulus. Tapi tetap saja, beberapa pertanyaan terkesan ikut campur urusan pribadi. Misalnya saja pertanyaan &#8220;Kapan menikah?&#8221; bagi kaum muda yang masih lajang.</p>
<p>Ada berbagai cara menjawab pertanyaan ini. Pertama-tama perlu diingat bahwa *tidak ada jawaban salah atau benar* untuk pertanyaan tersebut. Meskipun masyarakat mengharapkan kita untuk menikah. Tetapi keputusan tentang akan menikah atau tidak, dan kapan akan menikah di tangan kita sendiri. Toh, <strong>pernikahan bukanlah suatu kompetisi.</strong> Perlu <strong><a href="http://pranikah.org/pranikah/kesiapan-menikah-vs-persiapan-pernikahan/">persiapan yang matang</a></strong> sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk menikah. Bayangkan saja, berkomitmen seumur hidup dengan seseorang, tentu bukan hal yang mudah. Perlu siap mental, finansial, terampil mengelola stres dan tahu cara mengasuh anak. Tenang saja, tiap orang punya ritme sendiri dalam hidup. Jadi kalau Anda belum siap menikah sekarang, tidak apa-apa. Lebih baik bersiap daripada menyesal kemudian, bukan?</p>
<p>Oleh karena itu, menurut kami, cara terbaik menjawab pertanyaan ialah tersenyum (untuk menjaga sopan santun) dan menjawab sejujurnya. Misal: belum ada rencana, masih fokus kuliah/kerja; belum tahu, inginnya tahun depan kalau bertemu orang yang sesuai harapan; sudah ada rencana, tapi belum pasti, tunggu saja kabar selanjutnya, dll. <strong>Jawablah dengan cara yang senyaman mungkin</strong>. Jika merasa hal tersebut sangat pribadi, cukup senyum (supaya sopan), <strong>bilang saja belum tahu, lalu permisi dari situasi tersebut</strong>. Bisa juga Anda jadikan bahan kelakar, jika cukup nyaman. Tidak ada keharusan untuk menjawab secara detil.</p>
<p>Seperti digambarkan dengan manis oleh @bethdrawsthings dalam gambar di atas, tidak apa-apa kalau merasa tak punya jawaban pas untuk pertanyaan yang dilontarkan kerabat. Ingatlah bahwa perasaan Anda penting, apapun itu. Terserah apa kata orang, ingatlah bahwa diri Anda berharga dan spesial. <em>Hidup bukan sekedar untuk menikah dan punya anak, kan?</em> ❤</p>
<p>Jadi, <strong>#StopTanyaKapanKawin</strong>! Lagipula, daripada tanya #KapanKawin lebih baik tanya #ApaKabar.</p>
<p>Selamat Hari Raya Idul Fitri dan Selamat berkumpul dengan keluarga!??<br />
#Lebaran #ApaKabar #Silaturahmi #StopTanyaKapanKawin<br />
#MudikTwitter</p>
<p>Salam,<br />
Tim @twitpranikah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/menanggapi-kapan-nikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KESIAPAN MENIKAH VS PERSIAPAN PERNIKAHAN</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/kesiapan-menikah-vs-persiapan-pernikahan/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/kesiapan-menikah-vs-persiapan-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2015 09:34:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[pranikah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Individu lajang usia 25 hingga 40 tahun di Indonesia pasti seringkali menerima pertanyaan kapan menikah? Penulis sendiri mengalaminya waktu belum menikah, terutama setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang magister. Ada kesan bahwa setelah menunaikan pendidikan, menikah ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Individu lajang usia 25 hingga 40 tahun di Indonesia pasti seringkali menerima pertanyaan kapan menikah? Penulis sendiri mengalaminya waktu belum menikah, terutama setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang magister. Ada kesan bahwa setelah menunaikan pendidikan, menikah adalah suatu keharusan. Seakan-akan menjadi lajang bukanlah suatu hal yang wajar. Seakan-akan siklus kehidupan dibuat secara sederhana: lahir – sekolah – lulus – menikah – punya anak – menikahkan anak – meninggal. Namun, benarkah demikian? Tepatkah jika kita mendorong teman, saudara, bahkan anak berusia 25 – 40 tahun yang masih lajang untuk segera menikah? Timbul pertanyaan, jangan-jangan tekanan tersebut membuat individu memasuki pernikahan karena “tekanan sosial” dan bukan karena individu yang bersangkutan sudah siap.<span id="more-712"></span></p>
<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2015/07/nikah1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-713" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2015/07/nikah1.jpg" alt="I love You More" width="318" height="159" /></a>Memasuki pernikahan memang berbeda dengan memainkan “rumah-rumahan” seperti layaknya dilakukan anak-anak. Pernikahan adalah institusi sosial dimana dua orang berkomitmen menjalani hubungan yang diakui secara sosial, dimana hubungan seksual adalah hal yang sah dan ada tanggung jawab hukum untuk keturunan serta untuk pasangan. Dari definisi ini terlihat bahwa memasuki pernikahan berarti masuk ke dalam ikatan antar suami dan istri yang diakui oleh agama serta hukum, dengan tujuan membina keluarga. Saat individu menikah, ia akan memainkan peran baru, baik sebagai suami, maupun sebagai istri. Bahkan dalam agama tertentu, memasuki pernikahan berarti siap menjalankan peran tersebut dengan berkomitmen seumur hidup, hingga maut memisahkan. Sehingga, masuk ke pernikahan memerlukan kesiapan tertentu.</p>
<p>Kesiapan (<em>readiness</em>) dalam psikologi berarti: 1) suatu keadaan siap untuk bertindak atau berespon terhadap suatu stimulus, atau 2) derajat persiapan untuk melakukan suatu tugas spesifik, atau suatu subjek yang dibutuhkan untuk menghasilkan pembelajaran yang bermakna (<em>meaningful learning</em>). (VandenBos, 2007). Kata <em>readiness</em> sendiri sudah biasa digunakan untuk menggambarkan keadaan siap berespon terhadap pengajaran/instruksi dalam membaca, matematika atau bahasa asing. Dengan kata lain, kesiapan belajar matematika adalah sejauh mana individu mampu memahami instruksi dalam bidang matematika.</p>
<p>Ditinjau dari asal kata, maka kesiapan menikah atau <em>marriage readiness</em> bisa diartikan sebagai keadaan siap berespon pada komitmen dan tanggung jawab dalam pernikahan. Beberapa ahli mencoba merumuskan kesiapan menikah sebagai:</p>
<ul>
<li>Persepsi individu mengenai kemampuan diri untuk menjalankan peran-peran yang ada dalam pernikahan dan melihat hal tersebut sebagai aspek dari pemilihan pasangan atau proses perkembangan hubungan. Persepsi indvidu ini merupakan bagian dari sifat individu yang terbentuk dari persepsi mereka mengenai proses interpersonal pasangan, dan faktor sosial, keluarga serta faktor-faktor pribadi (Holman dan Li, 1997).</li>
<li>Persepsi individu adalah penilaian subjektif seseorang mengenai berapa siap ia memenuhi peran dan tanggung jawab dalam pernikahan (DeLaph, 2000).</li>
<li>kemampuan individu untuk menyandang peran baru, sebagai suami atau istri dan digambarkan oleh adanya kematangan pribadi, pengalaman dalam menjalin hubungan interpersonal, usia minimal dewasa muda, serta sumber finansial dan studi yang telah selesai (Wiryasti, 2004). Wiryasti (2004) membagi kemampuan individu untuk menyandang peran baru menjadi:
<ul>
<li>Komunikasi</li>
<li>Keuangan</li>
<li>Anak dan Pengasuhan</li>
<li>Pembagian peran suami istri</li>
<li>Latar belakang pasangan dan relasi dengan keluarga besar</li>
<li>Agama</li>
<li>Minat dan pemanfaatan waktu luang</li>
<li>Perubahan pada pasangan dan pola hidup</li>
<li>Latar belakang suku bangsa</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Dari definisi di atas, maka kesiapan menikah terdiri dari kemampuan pasangan dalam komunikasi, pengaturan keuangan, kesepakatan tentang pengasuhan anak, pembagian peran suami istri, kemampuan menerima latar belakang pasangan (suku, agama), kemampuan menjaga relasi dengan keluarga besar, kemmampuan membagi waktu untuk berdua dan melaksanakan minat pribadi, kemampuan menghadapi perubahan pola hidup setelah menikah.</p>
<p>Namun, seringkali pasangan muda yang akan menikah lebih berfokus ke persiapan teknis seperti pemilihan gedung, pakaian adat, serta catering, daripada kemampuan yang disebutkan di atas. Jadi, bagi Anda yang mungkin punya rencana untuk menikah, ada baiknya merefleksikan hal-hal berikut ini: apakah Anda sudah merasa mampu berkomunikasi dengan pasangan? Apakah Anda sudah memiliki rencana terkait finansial saat menika nanti? Apakah Anda dan pasangan sudah pernah membicarakan pembagian peran saat menikah nanti? Bagaimana pasangan Anda beradaptasi dengan kebiasaan keluarga Anda? Sebaliknya, bagaimana Anda beradaptasi dengan kebiasaan keluarga pasangan? Dimana Anda akan tinggal segera setelah menikah? Berapa jumlah anak yang Anda inginkan?</p>
<p>Masih banyak lagi pertanyaan yang perlu ditanyakan dan menjadi bahan evaluasi sebelum menikah. Sebagai saudara atau orangtua, ada baiknya mengingatkan pasangan yang akan menikah untuk membicarakan mengenai hal-hal di atas. Sementara bagi Anda yang berencana untuk menikah, selamat berdiskusi dengan pasangan!</p>
<p>repost : http://psychology.binus.ac.id/2015/06/23/kesiapan-menikah-vs-persiapan-pernikahan/</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/kesiapan-menikah-vs-persiapan-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Message</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/i-message/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/i-message/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2013 01:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[#bicara]]></category>
		<category><![CDATA[#komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[#konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?

Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!
Saya sedih kamu ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan ketika pasangan Anda kembali lagi mengulangi kesalahan yang sama, tentu mengesalkan bukan? Di antara pilihan di bawah ini, yang mana kiranya yang akan Anda katakan kepadanya?</p>
<ol>
<li>Kamu selalu deh mengulang lagi kesalahan ini!</li>
<li>Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini.</li>
</ol>
<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-657" alt="conversation" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/11/conversation-160x300.jpg" width="160" height="300" /></a></p>
<p>Kalau Anda terbiasa secara otomatis memilih kalimat A, hati-hati, Anda sebetulnya sedang merusak hubungan Anda. Kenapa? Karena kalimat A cenderung diterima sebagai kalimat yang merendahkan dan menghina, dan akhirnya direspon dengan defensif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Coba disimak, ada 2 hal utama yang mengganggu pada kalimat ini. Pertama adalah penggunaan kata ‘selalu’. Pssst, sudah rahasia umum di kalangan mereka yang paham bahwa kata ‘selalu’ itu harus dihindari, karena terlalu menggeneralisasi dan tidak menghargai orang yang ditunjuk. Kata lain yang harus dihindari adalah ‘tidak pernah’, ‘kamu tuh orangnya&#8230;’, dan kata-kata lain yang menggeneralisasi perilaku orang lain.</p>
<p><span id="more-625"></span></p>
<p>Kenapa kata-kata yang menggeneralisasi perlu dihindari? Karena tak memberi kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menunjukkan perubahan, dan pada akhirnya cenderung malas berubah. Contoh, di atas disebutkan bahwa si lawan bicara ‘selalu’ mengulang kesalahan, artinya dia tak pernah tak mengulang kesalahan. Padahal tak mungkin kan? Dalam kehidupan sehari-hari, dia pasti pernah secara sengaja atau tidak, tidak mengulangi kesalahan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘Kesalahan’ kedua dari kalimat tersebut adalah penggunaan ‘kamu’sebagai subyek. Bukan berarti tak boleh, tapi menggunakan ‘you message’ seperti ini cenderung membuat pasangan kita merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dll. Apalagi kalau kalimat ini dikombinasikan dengan bahasa tubuh berkacak pinggang sambil menunjuk lawan bicara, dan dengan raut muka marah. Menerima pesan yang dianggap negatif, cenderung membuat lawan bicara jadi defensif, berusaha membela diri. Tak menutup kemungkinan dia justru lebih marah lagi dan kemudian berusaha menyalahkan Anda, dalam usahanya membela diri. Dan akhirnya Anda saling menyalahkan, dan semakin sulit membicarakan permasalahan Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>So mesti gimana? Para ahli menyarankan kalimat kedua (Saya sedih kamu mengulang lagi kesalahan ini), dikombinasikan dengan intonasi tenang, mata menatap prihatin atau sedih (bukan marah). Kalimat kedua ini sering disebut para ahli sebagai ‘I message’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I message, mudahnya didefinisikan sebagai cara mengekspresikan pikiran dan perasaaan kita tentang suatu pengalaman atau interaksi, dengan menggunakan suara lembut dan pernyataan yang dimulai dengan ‘saya’. Contohnya, “Saya merasa terganggu kalau tiap kali sedang meeting, kamu menelpon saya tanpa henti.” Contoh lain, “Saya cemas kamu memikirkan mantanmu ketika saya tak sedang bersamamu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memang I message bukan bicara fakta, ia membicarakan tentang pengalaman pribadi kita terhadap sesuatu. Justru karena ini adalah pengalaman pribadi, maka bentuk komunikasi ini sangat terbuka terhadap diskusi. Dengan menyebutkan ‘saya’, maka kita sudah mengurangi serangan terhadap pasangan kita, tidak menyalahkan pasangan kita, dan akhirnya bisa memperbaiki komunikasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada contoh di atas, kita bukan menyalahkan pasangan kita karena dia mengulang kesalahannya. Kita hanya mengungkapkan kesedihan kita. Pasangan kita justru lebih mungkin merasa bersalah karena telah membuat kita sedih, iapun mengerti apa perasaan kita, tak perlu menebak-nebak lagi. Keterus-terangan adalah bagian penting dari suatu hubungan kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu cara terbaik untuk menggunakan I message adalah XYZ statement. Caranya begini: sebut perilaku X, di situasi Y, dan perasaan Anda Z. Contohnya, “Ketika kamu marah-marah lewat BBM (X) saat saya terlambat menjemputmu minggu lalu (Y), saya merasa kesal sekali (Z).” Contoh lain, “Saya terus terang merasa malu sekali (Z) ketika kamu berteriak di halte (X) memarahi ibu penjual makanan itu (Y).”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cobalah melakukannya dengan bahasa yang paling sesuai dengan Anda. Contohnya, jika Anda biasa mengganti diri dengan sebutan ‘Ayang’, katakan saja ‘Ayang’, bukan dengan sebutan lain yang tidak familiar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Merasa aneh melakukannya? Yup, tentunya sulit untuk melakukan ini, ketika belum terbiasa. Pasangan Anda juga mungkin belum terbiasa, sehingga responnya bisa jadi tak sesuai harapan. Namun kalau jaminannya adalah komunikasi yang lebih berkualitas dan hubungan yang lebih baik, masa sih Anda nggak mau mengusahakannya? (ASA)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Darrington, J., &amp; Brower, N. (2012). <em>Effective Communication Skills: &#8220;I&#8221; Messages and Beyond.</em> Utah State University.</p>
<p>Miller, Rowland S. (2012). <i>Intimate Relationship, 6<sup>th</sup> ed.</i> New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/i-message/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Pernikahan Bahagia</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Oct 2013 05:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih rahasia pernikahan bahagia itu? Ternyata berkaitan erat dengan visi dan passion. Apa hubungannya ya? Temukan jawabannya di artikel ini. ]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/MP900442372.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-601" alt="MP900442372-300x199" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/MP900442372-300x199.jpg" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Apa sih kriteria utama kamu untuk pasangan hidup ideal? Baik hati? Jujur? Pekerja keras? Ganteng? Cantik dan berambut panjang? Atau jangan-jangan belum terpikir pasangan seperti apa yang bisa bikin kamu berkata<strong> &#8220;I want to spend my life time loving you&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau memang belum tahu, tenang saja.. Artikel ini ditulis untuk kamu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-599" alt="article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/article-2277586-1788FDAA000005DC-51_468x434.jpg" width="374" height="347" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rahasia Pernikahan Bahagia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam obrolan di group bbm tentang &#8216;memilih pasangan hidup&#8217;, teman saya yang sudah menikah empat tahun dan bahagia dengan pernikahannya, mengingatkan ke teman saya yang single:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;jangan lupa lihat visi hidupnya, sama gak sama lo. Bisa gak dia mendukung lo untuk ngelaksanain visi lo itu&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-598"></span>G, perempuan usia pertengahan 20 tahun, adalah seorang penulis skenario yang sangat passionate terhadap pekerjaannya. Selain menulis, dia juga mempunyai visi untuk memajukan kualitas tulisan di Indonesia secara umum. Dalam mewujudkan visi itu, dia dan suaminya mendirikan sekolah menulis. Semua kegiatan dijalankannya sambil menjadi ibu dari dua anak balita yang lucu. Dalam satu hari, ia bisa mengunjungi beberapa meeting. Di rumah pun, dia masih sesekali mengerjakan research untuk penulisan skenarionya. Bisa dibayangkan, kalau pasangannya tidak mengerti visi G, mungkin dia akan mengeluhkan kegiatan isterinya yang segudang itu. Namun, suami G yang juga penulis, memiliki visi yang sama dengan G. Mereka pun berkolaborasi, tidak hanya dalam membesarkan anak, tapi juga dalam mewujudkan visi mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar dari pengalaman si G yang sudah menikah dan bahagia, penting sekali punya pasangan yang satu visi dan mau mendukung kita untuk mencapai visi kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Visi dan Passion</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/20130113-030313.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-600" alt="20130113-030313" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/10/20130113-030313.jpg" width="614" height="461" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Visi itu adalah tujuan kita dalam hidup. Untuk merumuskan visi, kamu bisa tanya sama dirimu &#8220;Saya hidup untuk apa sih?&#8221;. Visi hidup orang beda-beda. Ada yang ingin jadi kaya, ada yang ingin karyanya dikenal orang, ada juga yang ingin berbagi sama orang lain. Visi hidup juga erat kaitannya dengan passion. Passion adalah sesuatu yang mau kamu lakukan tanpa mendapat keuntungan lain. Kenali passion kamu dengan menjawab Pertanyaan ini: “apa pekerjaan yang ingin kamu lakukan, kalau uang bukan masalah buat mu?”. Dalam contoh G, passion nya adalah menulis dan berbagi ilmu dengan orang lain. Passion itu sejalan dengan visi hidupnya dan sejalan juga dengan pekerjaannya sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kalau sudah tahu apa visi hidup kamu, sekarang coba gambar anak tangga. Di paling atas, tulis visi hidup kamu. Misalnya: visi kamu &#8220;menjadi sutradara yang menghasilkan film Indonesia berkualitas&#8221;. Di paling bawah coba kamu tulis langkah apa yang harus kamu lakuin biar bisa wujudin visi itu. Di tangga atasnya, tulis langkah 2, sebagai kelanjutan dari langkah 1. Lanjut terus ke langkah 3, 4, 5 dan seterusnya, sampai visi kamu terwujud. Sudah kebayang kira-kira hidupmu lima tahun lagi bakal kayak apa?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau udah tahu visi kamu, coba dibicarakan dengan pasangan. Cerita cita-cita, visi hidup dan passion mu. Lihat reaksi dia. Kira-kira bakal mendukung atau menghambat?</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, coba kamu bayangin, orang seperti apa sih yang akan menunjang kamu buat mencapai visi itu? Orang yang ganteng? Pasangan cantik? Baik hati? Pekerja keras? Atau..?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau belum menemukan visi hidup kamu, gak apa-apa lho. Bisa jadi bahan diskusi dengan pasangan. Kamu juga bisa bereksplorasi untuk ketemu visi, sebelum kamu pilih pasangan dan menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk kamu yang udah nemuin, bisa cari tahu apa visi hidup pasangan. sehingga bisa saling mendukung. Jadi, apa visi hidup kamu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/rahasia-pernikahan-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Terlihat Lebih Menarik? Pahami 4 Hal Ini Dulu</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Sep 2013 08:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daya tarik]]></category>
		<category><![CDATA[Pacaran]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[tertarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-569 aligncenter" alt="r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/09/r-HAPPY-COUPLE-REDDIT-large570.jpg" width="570" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Image Source: <a href="http://www.huffingtonpost.com/">Here</a></p>
<p>Apakah perempuan berambut panjang selalu terlihat lebih cantik daripada perempuan berambut pendek? Apakah lelaki berdada bidang selalu terlihat lebih menarik daripada lelaki kurus? Mungkin Teman Pranikah menjawab ya, tapi bisa jadi sahabat kita bilang tidak. Kok bisa beda ya? Apa sih yang bikin seseorang tertarik ke orang lain? Apakah selalu wajah atau tinggi badan yang jadi patokan?</p>
<p>Serunya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli mencari tahu lewat penelitian ilmiah. Para ahli mengelompokkannya dalam beberapa bagian. Kalau sudah tahu, sangat mungkin kita bisa membuat diri kita jadi tampil lebih menarik lho!</p>
<p>Kamu merasa kurang menarik? Masih jomblo tanpa tahu kapan akan dapat pasangan? Gimana kalau kamu cek dulu artikel ini, siapa tahu setelahnya kamu jadi semakin tahu cara terlihat menarik di mata orang lain.<span id="more-568"></span></p>
<p><strong>FISIK</strong><br />
Orang bilang, kalau kita cantik atau tampan, orang lain pasti tertarik. Betul juga sih sebetulnya, tapi bukan hanya itu. Ada orang yang tertarik dengan tinggi badan, seringkali lelaki yang lebih tinggi dianggap lebih menarik, sementara perempuan terlalu tinggi dianggap kurang menarik jadi pasangan. Ada pula yang tertarik dengan lekuk tubuh sehingga lebih memperhatikan apakah orang yang dia taksir memiliki lekuk tubuh atau tidak.</p>
<p>Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perempuan berambut panjang terlihat lebih menarik (Boynton, 2008; Knapp-Kline, dkk, 2005). Tak berarti perempuan harus memelihara rambut panjang demi terlihat menarik, karena seringkali yang dilihat adalah sehat atau tak sehat rambutnya. Bukankah kalau rambut panjang tapi si perempuan sering menggaruk kepalanya, jadi tak menarik kan?</p>
<p>Apakah harus tampil seksi atau perkasa? Tidak juga. Lelaki yang terlalu perkasa justru dianggap mengerikan oleh banyak perempuan, karena ada yang menganggap mereka kasar. Kurus juga tak selalu jadi jaminan akan dianggap menarik, karena terkadang diasosiasikan sebagai orang yang kurang sehat.</p>
<p>Secara umum, dari sisi fisik, mereka yang dianggap menarik adalah mereka yang cukup sehat tubuhnya. Berbagai penelitian (Perriloux dkk, 2010; Soler, 2003; Hinsz dkk, 2001, dll) menunjukkan bahwa wajah yang simetris dan tubuh terlihat sehat bisa jadi daya tarik luar biasa. Sehat artinya tak mudah sakit, kulit cukup terawat, rambut relatif sehat, juga beberapa ciri sehat yang lain. So, biar jadi lebih menarik, maka kita perlu peduli pada kesehatan kita kan!</p>
<p><strong>KEDEKATAN</strong><br />
Witing tresna jalaran saka kulina, demikian kata para tetua di daerah Jawa Tengah. Seringnya bertemu, menurut para peneliti, juga membuat kita tertarik pada orang lain lho. Tak usah kaget kalau kita tiba-tiba jatuh cinta pada teman sekantor, itu karena faktor kedekatan fisik juga karena merasa familiar dengan orang tersebut. Reis, dkk (2011) bahkan menegaskan bahwa seringnya kontak dengan seseorang bukan hanya membuat interaksi antara mereka jadi terasa lebih nyaman, namun juga membuat orang tersebut terlihat semakin menarik.</p>
<p>Nggak susah kan bikin kita terlihat menarik? Sering-seringlah bergaul, jangan terus menarik diri atau malu-malu. Bukan berarti harus pamer atau cari perhatian orang lho, lakukan sewajarnya. Tetaplah berusaha menjadi diri sendiri ketika sedang bergaul dengan orang lain. Selain akan terasa lebih mudah untuk jadi diri sendiri, kalaupun ada yang tertarik, itu karena dia melihat diri kita yang sebenarnya kan.</p>
<p><strong>KEPRIBADIAN</strong><br />
Yang dimaksud bukan barang-barang pribadi seperti mobil pribadi atau rumah pribadi lho. Kepribadian adalah bagaimana seseorang bertingkahlaku, berinteraksi dengan orang lain, menampilkan dirinya, atau mengambil pilihan-pilihan hidupnya.</p>
<p>DeGenova (2008) menyimpulkan dari beberapa penelitian bahwa lelaki yang dianggap menarik adalah mereka yang perhatian, penuh pengertian, jujur dan bisa dipercaya, dan sensitif. Lelaki juga dianggap menarik ketika terlihat percaya diri, cerdas, dan terlihat mampu memimpin. Lelaki ternyata punya pilihan yang berbeda, banyak lelaki yang suka dengan perempuan yang hangat, setia, jujur, punya rasa humor, dan cerdas. Di sisi lain, perempuan dan lelaki yang kasar, ceroboh, tak sensitif, labil, dan tak bertanggungjawab, sering dianggap sebagai orang yang tak menarik.</p>
<p>Tak menemukan orang yang sempurna? Tentu saja tak ada orang sempurna. Oleh karena itu, kita perlu menentukan dulu kepribadian seperti apa yang paling kita inginkan untuk jadi pasangan kita, mana yang kita anggap paling penting. Contohnya, kalau kita ingin pasangan yang cerdas, sabar dan setia, coba tentukan mana yang paling penting, mana yang nomor 2, nomor 3, dst. Misalnya kita punya 10 syarat, bagus kok jika orang yang kita taksir memiliki setidaknya 5-7 di antaranya. Kalau tak ada juga yang memenuhi syarat, jangan-jangan syarat kita terlalu berat.</p>
<p>Di sisi lain, susah-susah gampang untuk menjadi pribadi yang menarik. Namun kita tetap bisa mengusahakannya lho. Boleh kok untuk menargetkan diri jadi orang yang lebih hangat, setia, bisa dipercaya, penuh pengertian, perhatian, dan sifat baik lainnya. Cermati sifat apa yang sudah baik dalam diri kita, kembangkan itu.</p>
<p><strong>PENGARUH MASA LALU</strong><br />
Terkadang kita tak bisa menjelaskan mengapa kita tertarik pada seseorang. Nah, kabarnya, masa lalu sangat berperan, menentukan kepada siapa kita tertarik. Contohnya, kita seringkali tanpa sengaja memilih orang yang memiliki sifat yang sama dengan orangtua kita, baik sisi positif maupun negatifnya.</p>
<p>Kita juga terkadang tertarik dengan mereka yang membuat diri kita merasa lebih baik, misalnya mereka yang banyak memuji kita. Teman Pranikah tertarik dengan seseorang yang terlihat tak berdaya, selalu butuh dibantu, dan sangat tergantung? Mungkin karena kita ingin merasa dibutuhkan dan diinginkan. Ada pula yang tertarik dengan seseorang yang sangat diidolakan, misalnya orang yang memiliki semua sifat yang tidak kita miliki.</p>
<p>Nenek atau mama kita sering berkata bahwa kita harus ramah dan sopan? Rupanya orang yang banyak tersenyum, terlihat ramah, dan sopan juga dianggap lebih menarik kok. Tentu saja senyumnya tulus lho, bukan senyum yang dipaksakan keluar.</p>
<p>Memang sih, yang namanya ketertarikan atau daya tarik orang lain, sifatnya personal sekali. Tiap orang bisa punya selera yang berbeda, tergantung pengalaman hidupnya. Jadi kalau semua orang tertarik pada seorang idola, dan kita sama sekali nggak tertarik, nggak papa juga. PD aja punya pilihan sendiri. Bukankah kita yang paling tahu siapa orang yang layak mendapatkan perhatian kita?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Referensi:</em></p>
<p>DeGenova, Mary Kay. (2008). Intimate Relationships, Marriages &amp; Families, 7th ed. New York:McGraw-Hill Companies.<br />
Miller, Rowland S. (2012). Intimate Relationship, 6th ed. New York: McGraw-Hill International Edition.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-terlihat-lebih-menarik-pahami-4-hal-ini-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
