<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba Serbi Pranikah &#187; Keuangan</title>
	<atom:link href="http://pranikah.org/pranikah/category/keuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pranikah.org/pranikah</link>
	<description>Selamatkan pernikahan sebelum dimulai</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2019 02:00:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Ingin Buat Tabungan Bersama? Yuk Tuangkan Dalam Perjanjian</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2013 00:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perjanjian]]></category>
		<category><![CDATA[pranikah]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan adalah janji suci/ikatan lahir bathin/bersepakat untuk cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memiliki komitmen lahir bathin. Perjanjian hubungan perdata yang mencantumkan klausul jangka waktu saja harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu isi dan konsekuensi ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/saving4two.png"><img class="wp-image-223 alignleft" title="saving for wedding" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/saving4two.png" alt="" width="135" height="125" /></a>Pernikahan adalah janji suci/ikatan lahir bathin/bersepakat untuk cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memiliki komitmen lahir bathin. Perjanjian hubungan perdata yang mencantumkan klausul jangka waktu saja harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu isi dan konsekuensi dari apa yang diperjanjikan, apalagi perjanjian yang lahir bathin dan direncanakan untuk sepanjang hayat.<br />
Untuk dapat mengetahui dan memahami isi dan konsekuensi dari perkawinan, butuh waktu, butuh proses. Tentu saja proses tiap-tiap individu bisa sangat berbeda-beda, tergantung dari latar belakang, nilai yang dianut dan pertimbangan lainnya. Pastikan proses tersebut berjalan secara sehat, aman dan terencana, dengan harapan dapat memberi manfaat jangka panjang dan berkah bagi pihak-pihak terkait.</p>
<p>Oleh karena itu terbukalah, diskusikan apa tujuan relasi dan mau dibawa ke mana relasi yang dibina tersebut.</p>
<p>Tahu kan bahwa dalam formulir permohonan atau pelaporan hendak menikah kepada KUA atau kantor Catatan Sipil, ada pertanyaan mengenai kebiasaan menabung?</p>
<p>Selain yang sudah disampaikan pada kultwit dengan tagar #tabbersama, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tabungan bersama:<br />
(1) Sebaiknya tabungan bersama ini dilakukan setelah dipastikan relasi disetujui oleh keluarga masing-masing<br />
(2) Buat tujuan dan peruntukan yang jelas dari tabungan bersama ini<br />
(3) Buat perjanjian tertulis yang mengatur rinci mengenai tabungan bersama ini</p>
<p>Kenapa ya perlu dibuat perjanjian tertulis? Bukankah bisa memilih produk keuangan yang menyediakan pilihan joint account? Ya betul, bisa saja memilih produk keuangan yang memfasilitasi dua pihak, namun pada umumnya produk keuangan ini hanya mengatur mengenai akses terhadap produk tersebut, misal mengenai penarikan dan penutupan.</p>
<p>Padahal terhadap harta dapat melekat hukum lain tergantung pada apa yang terjadi pada masa tertentu, yang seringkali kejadian-kejadian yang diluar perkiraan atau tidak pernah diharapkan.</p>
<p>Hukum nampak menakut-nakuti orang untuk menikah? Sebenarnya bukan menakuti tapi tujuannya adalah untuk memagari, memayungi itikad baik para pihak, dengan tetap memastikan adanya perlindungan terhadap kepentingan tiap-tiap pihak bila mengalami kejadian atau berada dalam keadaan yang tidak dikehendaki atau di luar kemampuannya sebagai manusia biasa.<br />
Seandainya kita berhasil melanjutkan relasi pada perkawinan maka, perlu memperhatikan pasal 35 UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974, yang menyebutkan bahwa jika tidak ada perjanjian pranikah yang mengatur mengenai pembagian harta, maka secara otomatis harta yang berasal dari masing-masing pasutri dibawa penguasaan masing-masing.</p>
<p>Nah berarti mesti jelas kan, harta yang dibawa masing-masing pasutri? Mungkin inilah maksud dari kolom pertanyaan pada formulir pelaporan rencana menikah tentang kebiasaan menabung dan jumlah tabungan masing-masing.</p>
<p>Produk keuangan dengan fasilitas Joint account, tidak mengatur dari mana asal dana yang masuk ke dalam produk investasi bersama atau rekening bersama tersebut. Produk keuangan ini juga tidak mengatur bagaimana bila terjadi sesuatu terhadap para pihak. Misal batal menikah, bagaimana penyelesaiannya jika masing-masing pihak tidak mau lagi berkomunikasi, untuk selesaikan urusan tersebut. Lalu bagaimana pembagian bunga, bonus atau hadiah yg berasal dari investasi bersama tersebut? Bagaimana status dananya bila salah satu pihak meninggal dunia sebelum pernikahan?</p>
<p>Jadi, mari tuangkan kesepakatan dengan pasangan kedalam perjanjian tertulis, agar dapat mengatur dan melindungi hal-hal yang tidak jelas tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/ingin-buat-tabungan-bersama-yuk-tuangkan-dalam-perjanjian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Menikah, Lalu..?</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/setelah-menikah-lalu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/setelah-menikah-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2013 01:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Buat yang baru saja menikah, tentu semua perasaan campur aduk. Yang pasti perasaan tebesar tentunya bahagia karena telah menemukan pasangan dan partner hidup. Di sisi lain, ada beberapa hal yang mungkin membuat sedikit deg-degan, misalnya ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/next.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-231" title="next" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2013/02/next.jpg" alt="" width="284" height="177" /></a>Buat yang baru saja menikah, tentu semua perasaan campur aduk. Yang pasti perasaan tebesar tentunya bahagia karena telah menemukan pasangan dan partner hidup. Di sisi lain, ada beberapa hal yang mungkin membuat sedikit deg-degan, misalnya seberapa cepat kita dapat beradaptasi dengan cara hidup pasangan, karena sekarang benar-benar tinggal dalam satu atap.</p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, soal finansial juga sering menjadi bagian yang bisa membuat kita berpikir panjang. Yang biasanya memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri, sekarang ada suami/istri. Belum lagi rencana-rencana ingin punya anak, punya rumah sendiri, semua itu pasti menjadi <em>issue </em>finansial yang  biasanya muncul ketika menikah.</p>
<p>Bagaimana sebenarnya tips untuk mempunyai kondisi finansial yang baik di awal rumah tangga? Berikut tips yang dapat membantu:</p>
<ul>
<li><strong>Mengenali karakter pasangan dan diri kita</strong></li>
</ul>
<p>Karakter di sini adalah, bagaimana cara kita dan pasangan dalam mengatur keuangan.  Bisa jadi suami lebih pandai dalam mengatur cash flow tiap bulannya sehingga bisa menyisihkan pendapatan yang cukup besar, sedangkan istrinya selalu sukses untuk menghabiskan gaji bahkan sebelum gajian bulan berikutnya. Atau sebaliknya.<br />
Dengan mengetahui karakter dalam pengaturan keuangan, maka kita masing-masing tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga nanti dalam pembagian tugas pengaturan keuangan, kita tahu siapa yang akan menjadi <em>person-in-charge</em> nya.</p>
<ul>
<li><strong>Mengatur cash flow berdua</strong></li>
</ul>
<p>Cash flow adalah arus (uang) yang masuk dan keluar. Karena sekarang sudah mejadi satu kesatuan,  maka perlu dilakukan pencatatan baik pendapatan maupun pengeluaran berdua. Dengan melakukan pencatatan seperti ini, kita dapat mengetahui sebenarnya pendapatan yang kita dapatkan berdua mampu atau tidak untuk memenuhi kebutuhan berdua.</p>
<p>Jika cash flow positif, maka langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana cara mengalokasikan dana lebih tersebut. Tapi jika negatif,  tindakan selanjutnya adalah membereskan kondisi keuangan dulu. Apakah gaya hidup kita berlebihan jika dibandingkan pendapatan? Jika ya, maka ada pos-pos pengeluaran yang harus kita kurangi.</p>
<ul>
<li><strong>Menentukan tujuan finansial yang ingin dicapai</strong></li>
</ul>
<p>Untuk para newlyweds, ada beberapa tujuan finansial yang urgensinya cukup tinggi untuk disiapkan.</p>
<p><em>        Untuk  jangka pendek</em>, maka dana yang perlu disiapkan:</p>
<ol>
<li>Dana darurat:  perlu disiapkan dana darurat sebesar 6x dari pengeluaran bulanan</li>
<li>Dana persiapan hamil: bagi yang tidak memiliki fasilitas kesehatan dari kantor, penting disiapkan.</li>
</ol>
<p><em>        Untuk jangka menengah</em> adalah:</p>
<ol>
<li>Dana untuk <em>downpayment</em> (DP) pembelian rumah: memiliki rumah sendiri adalah impian hampir semua keluarga. Bagi para newlyweds yang masih belum memiliki rumah, maka tujuan ini bisa disiapkan, setidaknya DP-nya dulu.  Jangka waktu untuk mempersiapkan adalah sekitar 5-10 tahun, tergantung kemampuan.</li>
<li>Dana pendidikan anak:  pasangan yang segera berencana memiliki anak, sesegera mungkin mempersiapkan dana pendidikan anaknya. Karena semakin cepat dimulai, semakin ringan investasi yang perlu dialokasikan.</li>
</ol>
<p><em>         Untuk jangka panjang</em>:</p>
<ol>
<li>Dana pensiun: baik <em>single</em>, berkeluarga, dana pensiun merukapan investasi yang perlu dikerjakan.  Bagi yang sebelum menikah sudah mempersiapkan, tinggal menersukan saja. Bagi yang belum, maka segera dimulai.</li>
</ol>
<p><em>Homeworks</em>-nya memang banyak, tapi semua itu dimulai dengan duduk berdua, saling mengerti karakter masing-masing. Satukan visi tujuan dan bagaimana mencapai tujuan tersebut.  Finansial hanyalah satu sisi yang – menurut saya – issue yang fundamental yang harus kita bicarakan dengan pasangan.  Jadi, jangan ditunda lagi ya, segera dilakukan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*artikel ini telah dipublikasikan pada situs <a title="mommiesdaily" href="http://mommiesdaily.com/2013/01/22/money-talks-setelah-menikah-lalu/" target="_blank">mommiesdaily.com</a></em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/setelah-menikah-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdaya Itu Perlu!</title>
		<link>http://pranikah.org/pranikah/berdaya-itu-perlu/</link>
		<comments>http://pranikah.org/pranikah/berdaya-itu-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2012 08:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pranikah.org/pranikah/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[ Ketika mengetahui alasan perceraian no. 1 di Indonesia adalah masalah finansial, perasaan saya antara kaget dan tidak kaget.
Kaget, tentu saja, karena selama ini – terutama di Indonesia – masalah finansial adalah masalah yang cukup ...]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2012/12/uang1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-72" title="uang" src="http://pranikah.org/pranikah/wp-content/uploads/2012/12/uang1-155x300.jpg" alt="" width="155" height="300" /></a> Ketika mengetahui alasan perceraian no. 1 di Indonesia adalah masalah finansial, perasaan saya antara kaget dan tidak kaget.</p>
<p>Kaget, tentu saja, karena selama ini – terutama di Indonesia – masalah finansial adalah masalah yang cukup tabu untuk diperbincangkan.</p>
<p>Tidak kaget, karena dalam pekerjaan saya selama ini, banyak sekali bertemu dengan kasus-kasus di mana memang keadaan finansial – bukan hanya masalah pendapatan – dilatarbelakangi karena ketidakharmonisan atau kurangnya komunikasi antara pasangan yang sudah berkeluarga.</p>
<p>Contoh kasus yang sering saya dan teman-teman sesama perencana keuangan itu bermacam-macam. Misalnya saja, gaya hidup yang tidak sesuai dengan pendapatan, akhirnya terlibat hutang, atau pembagian tanggung jawab – antara pasangan – siapa yang melakukan pengelolaan keuangan. Bahkan ada juga masalah di mana sang suami tidak mau mengakui berapa besar pendapatan dia kepada istrinya. Kalau dibaca dari contoh-contoh di atas, memang betul ya&#8230; financial issues are beyond the number itself. <span id="more-71"></span></p>
<p>Jadi, dari sisi finansial, apa yang bisa kita lakukan supaya keuangan keluarga kita sehat? Berdasarkan pengalaman ada beberapa hal yang menurut saya sangat penting</p>
<p><strong>1.     Mengatur <em>cash flow</em> dengan baik</strong></p>
<p>Kebiasaan mengelola keuangan yang baik seharusnya sudah kita lakukan dari awal ketika kita sudah memiliki penghasilan sendiri. Mengelola keuangan yang baik di sini adalah, kita dapat mengalokasikan dengan bijak pos-pos pengeluaran kita, sehingga pendapatan yang masuk seimbang dengan pengeluaran.<br />
Biasakan membuat skala prioritas dengan perbandingan dalam pos-pos pengeluaran bulanan kita. Contohnya seperti ini:  pengeluaran rutin (maksimal 40%)¸ cicilan (maksimal 30%), investasi (minimum 10%), pengeluaran pribadi (maksimal 20%).</p>
<p>Tujuan kita memiliki acuan angka di atas agar ketika kita melakukan keputusan dalam pengeluaran, kita bisa tahu kemampuan kita seperti apa. Contoh, jika gaji Rp 5 juta tapi memiliki hutang Rp 3 juta, maka kondisi finansial anda dalam keadaan yang tidak sehat karena 60% dari pendapatan anda dihabiskan hanya untuk membayar hutang.</p>
<p>Untuk yang sudah berkeluarga, pastikan bahwa ketika anda mengisi pos-pos pengeluaran bersama. Istri harus tahu pengeluaran suami, dan sebaliknya juga seperti itu. Jangan sampai ada hutang dari pasangan yang tidak kita ketahui, misalnya. Kasus yang berat adalah ketika pasangan meninggal dunia dan ternyata memiliki hutang – tanpa kita ketahui besarnya- maka pasangan yang masih hidup dan sebagai ahli waris memiliki kewajiban untuk membayar hutang tersebut.</p>
<p><strong><em>2.       </em><em>Live the the lifestyle you deserve</em></strong></p>
<p>Ini adalah kasus yang cukup sering terjadi di kota-kota besar di Jakarta. Sangat mudah untuk tergoda membeli barang-barang mahal, mulai dari <em>gadget</em>, <em>branded bags</em>, makan di luar hampir tiap minggu karena sarananya ada. Tidak ada yang salah dengan hal ini, tapi ingat ya, <em>lifestyle</em> itu maksimal 20% dari pendapatan bulanan kita. Kalau tidak mampu, tahan diri dulu, jangan terburu-buru untuk memiliki itu semua. Jadikan kebutuhan tadi menjadi tujuan finansial, dan sisihkan pendapatan anda untuk tujuan finansial tersebut dengan menentukan target pencapaian baik nilai maupun waktunya.</p>
<p><strong>3.      Menyisihkan pendapatan</strong></p>
<p>Kalau di poin 1 saya sebutkan bahwa berinvestasi <strong>minimal 10%</strong>, maka inilah pos yang disarankan untuk dibuat terus membesar dan membesar. Yang terkadang lupa adalah, kita tidak hanya memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tapi juga kebutuhan yang akan datang. Jadi pastikan pos investasi ini kita terus isi.</p>
<p>Jadi, berdaya di sini maksud saya adalah bahwa memiliki uang saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan kemampuan mengelola keuangan dengan baik. Pengelolaan keuangan yang baik ini – sama halnya dengan kebiasaan baik – semakin sering kita lakukan, semakin kita terlatih. Maka, kelola keuangan anda dari sekarang, <em>single</em> ataupun bekeluarga, tidak ada alasan untuk menunda-nunda. Mudah-mudahan tips di atas bisa membantu anda membangun fondasi keuangan anda menjadi lebih kuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pranikah.org/pranikah/berdaya-itu-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
